pariwisata
Jumat, 09 Oktober 2026 09:54 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

BAJAWA (Floresku.com) – Pemerintah Kabupaten Ngada, terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis desa dan lingkungan untuk memperkuat posisi daerah itu sebagai salah satu destinasi unggulan di Pulau Flores.
Namun, keterbatasan akses transportasi, khususnya penerbangan, masih menjadi tantangan dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan.
Kabupaten Ngada memiliki posisi strategis di tengah Pulau Flores, di antara dua kawasan destinasi wisata nasional, yakni Labuan Bajo di bagian barat dan kawasan Kelimutu di bagian timur.
Posisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Ngada untuk menjadi bagian penting dalam perjalanan wisata lintas destinasi di Flores.
Sejumlah daya tarik yang dikembangkan antara lain Kampung Adat Bena, kawasan Wolobobo, Bukit Atatar, Riung, serta wisata alam di Soa.
Baca juga:
Kepala Dinas Pariwisata Ngada, Oktavianus Botha Djawa, SE, M.M., sering dipanggil Ivan Botha, mengatakan, pengembangan sejumlah destinasi tersebut diarahkan untuk mengisi koridor perjalanan wisatawan yang selama ini lebih banyak terkonsentrasi di Labuan Bajo.
“Kalau wisatawan Labuan Bajo yang begitu banyak tidak bisa terdistribusi atau dikoneksikan ke destinasi lainnya, kita menumpuk di Labuan Bajo,” ujarnya dalam wawancara mengenai potensi dan tantangan pariwisata Ngada., Kamis (8/10).
Menurutnya, konektivitas yang lebih baik dari Labuan Bajo menuju Bajawa, kemudian ke destinasi lain di Flores, berpotensi memperluas distribusi wisatawan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Akses transportasi udara menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Perjalanan darat dari Labuan Bajo menuju Bajawa membutuhkan waktu relatif panjang, sedangkan konektivitas penerbangan pada rute tersebut dinilai belum menentu.
Selain transportasi antarkota, kondisi infrastruktur menuju sejumlah destinasi juga memengaruhi perkembangan pariwisata.
Kawasan Wolobobo, misalnya, mengalami penurunan kunjungan yang antara lain dikaitkan dengan kendala akses jalan menuju puncak.
Wolobobo berada dalam kawasan Kebun Raya yang dikembangkan dengan pendekatan wisata berbasis lingkungan dan ekologi. Karena itu, pengembangannya tidak diarahkan pada pariwisata massal, melainkan pada pelestarian alam yang tetap memberikan pengalaman bagi wisatawan.
Baaca juga:
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah memilih memperkuat destinasi yang sudah ada, menjaga fasilitas yang tersedia, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan pengelolaan berbasis masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan mampu mempertahankan daya tarik wisata tanpa membutuhkan intervensi pembangunan fisik secara berlebihan.
Selain pembenahan destinasi, pemerintah daerah mendorong penyelenggaraan festival sebagai sarana promosi produk unggulan Ngada.
Produk yang menjadi perhatian antara lain kopi, tenun tradisional, kerajinan bambu, serta berbagai produk ekonomi kreatif lainnya. Festival diharapkan dapat mempertemukan potensi budaya dan alam dengan peluang pasar yang lebih luas.
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata. Pelatihan diberikan kepada pemandu wisata, pengelola destinasi, dan pelaku usaha, terutama dalam bidang keterampilan pelayanan, pemasaran, pengelolaan destinasi, serta kuliner.
Langkah tersebut dinilai penting karena sebagian besar daya tarik wisata di Kabupaten Ngada dikelola oleh masyarakat.
Sejumlah desa wisata yang menjadi perhatian antara lain Bena, Wololela, Gurusina, dan Belaraghi. Sementara itu, potensi wisata alam meliputi pemandian air panas Mengeruda di Soa, kawasan air panas lainnya, serta wisata bahari Riung.
Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat yang mengelolanya.
Dari sisi perkembangan usaha, pemerintah daerah melihat adanya sejumlah indikator positif. Penambahan usaha wisata, pertumbuhan hotel, serta meningkatnya kunjungan di beberapa lokasi menjadi tanda bahwa sektor pariwisata Ngada memiliki peluang untuk terus berkembang.
Kunjungan ke sejumlah objek wisata, termasuk Kampung Adat Bena dan kawasan pemandian air panas, disebut menunjukkan tren peningkatan. Namun, wisatawan domestik masih mendominasi kunjungan tersebut.
Untuk memperkuat perkembangan ini, pemerintah daerah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dinas yang membidangi pariwisata berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penataan kawasan destinasi. Sementara itu, pembangunan akses jalan membutuhkan dukungan dinas pekerjaan umum dan penataan ruang.
Pengembangan kopi juga memerlukan keterlibatan sektor pertanian, sedangkan penguatan produk ekonomi kreatif membutuhkan dukungan perangkat daerah yang menangani perindustrian dan perdagangan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperbaiki akses menuju destinasi, meningkatkan kualitas layanan, serta memperluas pemasaran produk lokal.
Dengan potensi wisata budaya, alam, dan ekonomi kreatif yang dimiliki, Ngada berpeluang menjadi persinggahan penting dalam perjalanan wisata di Flores.
Tantangan berikutnya adalah memastikan konektivitas dan infrastruktur semakin memadai, sekaligus menjaga agar pertumbuhan pariwisata benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (Slivia). ***