Yesus
Senin, 09 Maret 2026 05:54 WIB
Penulis:redaksi

Oleh: Pater Gregir Nule, SVD
Orang bisa saja marah karena ada alasan yang masuk akal. Tetapi, ada orang yang marah tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena tersinggung atau terprovokasi.
Perikop Injil Luk 4:24-30 melukiskan tentang kunjungan Yesus di Nazareth, kampung halamanNya.
Yesus merasa bahwa Ia ditolak dan orang-orang sekampungNya tidak percaya kepadaNya. Karena itu, Yesus berkata, "Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya", (Luk 4:24).
Dan, penolakan itu berpuncak pada saat Yesus ada di Rumah Ibadat, khususnya ketika dalam pengajaranNya Yesus ingatkan mereka akan pengalaman bangsa Israel di masa para nabi.
Yesus mengkritik ketidakpercayaan dan ketertutupan orang-orang Israel terhadap kehadiran Allah dan karya-karyaNya di dunia.
Itulah sebabnya, pada zaman Elia ketika Israel alami musim kemarau panjang tanpa hujan selama tiga tahun enam bulan, akibatnya kelaparan menimpa seluruh bangsa. Dan, banyak janda Israel alami penderitaan ekstrim.
Tetapi, nabi Elia tidak diutus kepada janda-janda Israel, melainkan kepada seoang janda di Sarfat, orang asing itu.
Ketika ada banyak orang lepra di Israel, tetapi nabi Elisa diutus untuk menyembuhkan Naaman, orang Siria dan bukan kepada salah seorang penderita kusta dari Israel.
Mendengar pewartaan Yesus itu, mereka sangat tersinggung dan marah. Mereka bukannya melihat pewartaan Yesus sebagai kritikan yang membangun untuk membarui diri dan hidup.
Mereka justeru menutup hati dan berusaha menjauhkan Yesus. Mereka menghalau Yesus keluar kota dan ingin membuangNya di tebing kota Nazareth. Tetapi, Yesus berjalan lewat, lalu pergi.
Sebagai pengikut Yesus, mungkin kita sering marah karena ada orang yang mengkritik sikap dan perbuatan kita. Mungkin kritikan itu positif dan membangun yang bermaksud untuk membarui sikap dan perbuatan kita.
Karena itu, kita hendaknya membuka hati terhadap setiap masukan untuk kebaikan kita. Kita mesti sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan dan dosa.
Hanya dengan terbuka terhadap kritikan dan masukan dari orang lain, terutama dari Allah sendiri maka kita bisa berusaha memperbaiki dan membarui hati dan hidup kita.
Kita tidak boleh menutup hati dan cepat tersinggung atau marah. Kita tidak boleh menganggap diri selalu baik dan benar, lalu mempersalahkan orang lain.
Selama masa Prapaskah baiklah kita belajar untuk menata hidup kita, bertobat dari segala dosa dan salah serta berusaha hidup sebagai anak-anak terang, anak-anak yang baik dan benar.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Kewapante, 09 Maret 2026. ***