pariwisata
Rabu, 15 Juli 2026 20:53 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA, Floresku.com – Kinerja sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang semester I 2026. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, tingginya pergerakan wisatawan nusantara, hingga sukses penyelenggaraan berbagai event nasional dan internasional memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sektor pariwisata diharapkan semakin memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Widiyanti dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jakarta, Rabu (15/7).
Menurut Menpar, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Mei 2026 mencapai 1,38 juta kunjungan, meningkat 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, Januari-Mei 2026, Indonesia telah menerima 6,07 juta wisman, naik 7,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan itu didukung strategi Kementerian Pariwisata yang berfokus pada penguatan pasar wisata jarak dekat dan menengah, sehingga pertumbuhan tetap terjaga meski situasi geopolitik global masih berfluktuasi.
Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga terus meningkat. Pada Mei 2026, perjalanan wisnus tumbuh 8,69 persen secara tahunan. Secara kumulatif hingga Mei, tercatat 523,22 juta perjalanan, atau naik 2,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Baca juga:
Menariknya, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia juga melampaui jumlah warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri dengan surplus sekitar 830 ribu perjalanan, meningkat 15,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai memberi kontribusi positif terhadap penerimaan devisa negara.
Untuk menjaga momentum tersebut, Kementerian Pariwisata menjalankan lima program prioritas, yakni peningkatan keselamatan berwisata, pengembangan desa wisata, pariwisata berkualitas, Event by Indonesia, dan Tourism 5.0.
Dalam kesempatan itu, Widiyanti juga mengungkapkan keberhasilan Indonesia meraih penghargaan Muslim Friendly Destination of the Year pada ajang Global Muslim Travel Index (GMTI) Awards 2026.
Indonesia berhasil naik tiga peringkat dibandingkan periode sebelumnya dan kini menjadi salah satu destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia.
Menurut Menpar, pasar wisata ramah Muslim merupakan salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. GMTI memproyeksikan jumlah wisatawan Muslim dunia mencapai 208 juta orang pada 2026 dan meningkat menjadi 262 juta pada 2030, dengan nilai pasar sekitar 310 miliar dolar AS.
Keberhasilan tersebut didukung kolaborasi Kementerian Pariwisata bersama BPJPH dan Bank Indonesia melalui penguatan promosi, sertifikasi halal bagi pelaku UMKM di desa wisata, serta peluncuran Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) sebagai acuan pengembangan destinasi.
Penyelenggaraan berbagai event juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Hingga 30 Juni 2026, sebanyak 39 event Karisma Event Nusantara (KEN) telah digelar. Dari 28 event yang telah dievaluasi, kegiatan tersebut berhasil menarik 2,46 juta pengunjung, melibatkan lebih dari 7.200 UMKM, menyerap lebih dari 61 ribu tenaga kerja, serta menghasilkan perputaran ekonomi mencapai Rp196,67 miliar.
Selain KEN, dukungan terhadap berbagai event nasional dan internasional juga menghasilkan dampak besar. Selama Januari-Juni 2026, penyelenggaraan 17 event internasional dan 8 event nasional yang didukung Kementerian Pariwisata menghadirkan lebih dari 614 ribu pengunjung, melibatkan 1.326 UMKM, serta lebih dari 18 ribu pekerja seni dan komunitas, dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp661,15 miliar.
Sementara itu, sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) juga mencatat hasil menggembirakan. Dua agenda MICE yang telah dievaluasi menghasilkan potensi transaksi sekitar Rp485,5 miliar dan devisa sekitar Rp347,6 miliar.
Widiyanti menegaskan, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata.
"Dengan sinergi yang kuat, kita optimistis mampu membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, berdaya saing global, serta mampu mendistribusikan manfaat ekonomi secara merata hingga ke masyarakat di tingkat desa," ujarnya.