Pesan Inspiratif: Jangan Bimbang dan Bercabang Hati

Rabu, 10 Juni 2026 08:31 WIB

Penulis:Redaksi

gregor nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri diedit AI)

Oleh Pater Gregor Nule SVD

Waktu terus berjalan dan kita pun terus berlangkah bersama waktu. Mungkin kita sudah punya tujuan hidup sebagai pegangan dan penuntun hidup kita.

Meskipun demikian, selalu muncul tawaran-tawaran baru yang mungkin lebih menggiurkan dan menjanjikan. Dan, orang mulai bimbang ketika berhadapan kesulitan, tantangan dan hambatan.

Kenyataan di atas ditampilkan oleh bangsa Israel, umat pilihan Allah  dalam perjalanan hidup mereka. 

Ketika bertemu, bergaul serta berbagi hidup dan pengalaman dengan bangsa-bangsa lain, iman mereka akan Allah yang esa mulai dipertanyakan dan terombang - ambing.

Bahkan lebih buruk lagi, ketika mereka alami kemarau panjang selama bertahun-tahun yang air , gandum dan minyak sebagai jaminan hidup mereka.

Banyak orang Israel, termasuk raja Ahab, yang dipilih dan diurapi Allah untuk memimpin bangsa Israel. Mereka menyembah dua tuan, yakni Allah dan Baal, (bdk 1 Raja-raja, 17:1-19).

Tetapi, syukurlah masih ada kelompok kecil dan sisa-sisa Israel yang tetap setia. Maka justeru pada saat kemelut iman dan  ketidakpastian seperti ini, nabi Elia tampil untuk meneguhkan iman mereka.

Elia berkata, "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan mendua hati? Kalau Tuhan itu Allah ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia", (1Raj 21).

Elia ingin memberikan kesaksian tentang keteguhan imannya kepada Allah di hadapan bangsa Israel yang mendua hati.

Ia minta kepada raja Ahab dan rakyatnya untuk menyiapkan dua ekor lembu korban. Seekor untuk imam-imam Baal, yang berjumlah 450 orang dan seekor lain menjadi hewan korban persembahan Elia, di gunung Karmel.

Ternyata hanya Allah yang esa, yang tetap diimani Elia  dengan setia adalah Allah yang benar. Dia memperhatikan keluh kesah dan perjuangan nabiNya. Dia  mendengarkan doa penuh iman dari Elia.

Sebaliknya doa dan korban persembahan imam-imam Baal tidak dipedulikan oleh allah mereka. Apa yang dambakan dan serukan tidak mereka peroleh.

Sebagai umat Tuhan, kita hendaknya belajar agar tetap teguh beriman kepada Allah yang benar. Sebab Allah yang kita sembah dengan iman yang teguh dan hidup yang benar tidak meninggalkan kita.

Kita pun mesti sadar bahwa terkadang kita bersikap dan bertindak seperti orang-orang Israel.  

Khususnya ketika kita alami tantangan dan masalah hidup. Mungkin rencana dan cinta yang gagal. Atau kita gagal dalam kerja dan usaha. Kita terus-menerus sakit dan menderita.  

Dalam keadaan demikian, hati kita mudah terombang-ambing, bimbang dan mulai meninggalkan Allah yang benar. Kita alami semacam kemarau panjang hidup. Kita lalu berpaling kepada kekuatan dan allah-allah lain.

Kita belajar dari Elia dan sisa Israel lainnya. Dalam keadaan apa pun kita mesti teguh beriman. Setia pada perintah-perintah Tuhan.

Karena itu, kita mesti setia mendengarkan Sabda Tuhan, membaca dan merenungkan pesan Alkitab. Kita tekun berdoa, beribadah dan merayakan Ekaristi kudus.

Kita juga berusaha berbuat baik dan benar. Kita menjauhkan diri dari godaan-godaan setan dan pencobaan. Kita hindari sikap marah, iri hati, benci, dendam.

Hanya dengan demikian kita akan tetap dekat pada Allah dan Allah dekat pada kita. Dan, rahmat Allah laksana embun pagi yang senantiasa memenuhi dan menyegarkan hati dan hidup kita.

Semoga Tuhan memberkati kita selalu!

Kewapante, 10 Juni 2026. ***