Pesan Inspiratif: Membangun Hati yang Baru Dalam Yesus

Jumat, 04 September 2026 08:47 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

Oleh Pater Gregor Nule, SVD

Sering kita sibuk urus hidup orang lain. Kita berikan masukan, anjuran bahkan kritikan dan ejekan.  

Tetapi, kita lupa lihat ke dalam diri dan temukan bintik-bintik hitamnya.  Kita enggan kritik diri dan mau benahi atau perbaruinya.

Mungkin kita juga merasa nyaman dan bangga dengan apa yang kita miliki dan biasa kita lakukan . Kita bangga dengan pandangan dan tindakan kita, dan anggapnya sebagai yang paling baik dan benar. Akibatnya sulit sekali kita terbuka untuk menerima hal-hal baru dari luar.

Dalam perikop Injil Luk 5: 33-39 Yesus menanggapi kritikan orang Farisi dan ahli Taurat terhadap praktek hidup keagamaan para muridNya. Mereka mempersoalkan murid-murid Yesus yang tidak berpuasa.

Yesus menjelaskan jawabanNya dengan perumpamaan atau perbandingan, seperti  sahabat-sahabat mempelai dengan mempelai laki-laki. Para sahabat dan tamu-tamu tidak perlu berdukacita apabila mempelai ada bersama mereka.

Atau kain penambal baru dengan kain lama atau usang dan anggur baru dengan kantong kulit lama. Yang baru akan merusakkan yang lama.

Yesus menarik perhatian orang-orang Farisi, ahli Taurat dan para murid untuk membangkitkan kesadaran baru terhadap Diri dan hukum baru yang ditawarkanNya.


Mereka tidak pantas mempertahankan  hati dan disposisi bathin lama. Ketika mereka bertahan pada yang lama maka pandangan dan cara hidup mereka pun sulit berubah.

Karena itu, Yesus minta mereka dan kita agar melihat kehadiranNya laksana mempelai laki-laki yang sedang berada di tengah mereka. Ajaran dan perintah-perintahNya itu laksana kain penambal dan anggur baru.

Semua orang yang mau datang kepada Yesus hendaknya bertobat, membarui hati dan pikiran sehingga kita  bisa menjadi manusia baru.

Kita miliki hati, pikiran, cara pandang dan cara  hidup yang dibarui oleh rahmat Tuhan sehingga sejalan dengan ajaran dan kehendak Yesus. Kita hidup, bersikap dan bertindak seperti Yesus.

Kita belajar dari Hati Yesus yang penuh belas kasihan dan menghakimi kita dengan adil.

Kita tidak mudah menghakimi apalagi menghukum orang lain. Kita mengkritik tetapi dengan maksud membangun dan memperbaiki, bukan untuk menjatuhkan dan merugikan orang lain.

Mari kita membangun hati dan pikiran baru dalam Yesus. Hanya dengan demikian, kita pantas menghadirkan dan memperluas kerajaan Allah di dunia ini.

Kewapante, 4 September 2026