Pesan Inspiratif: Relasi Kekeluargaan Menurut Yesus

Selasa, 21 Juli 2026 09:45 WIB

Penulis:Redaksi

nulene.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

Oleh Pater Gregor Nule, SVD

Relasi atau hubungan kekeluargaan kita pahami sebagai hubungan persaudaraan karena hubungan darah atau keluarga kecil dan hubungan keluarga besar, suku atau klan. Maka hubungan kekeluargaan bercorak tertutup.

Perikop Injil Mat 12 : 46-50 menampilkan dua tipe hubungan keluarga. Para pendengar Yesus memahami hubungan keluarga sebagai hubungan antara Yesus dengan Maria, ibuNya dan sudara/iNya.

Tetapi, Yesus memahami hubungan kekeluargaan sebagai relasi yang dibangun atas keterbukaan untuk membangun kesatuan antara Yesus dengan orang-orang yang mendengarkan, mengikuti dan percaya kepadaNya.

Yesus menanggapi para pendengarNya yang menginformasikan tentang kehadiran ibu dan saudara/i Yesus,   dengan pertanyaan retoris, "Siapakah ibuKu? Dan siapakah saudara-saudaraKu", (Mat 12:48).

Sambil menunjuk ke arah murid-muridNya,Yesus berkata, " Inilah ibuKu, inilah saudara-saudaraKu! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu, dialah ibuKu, dialah ibuKu", (Mat 12:49-50).

Yesus tidak menyangkal hubungan persaudaraan dan hubungan darah dengan ibuNya dan juga saudara-saudaraNya. Hubungan itu tidak ditiadakanNya,.melainkan tetap kuat dipertahankanNya.

Tetapi, Yesus membuka hubungan baru yang lebih luas dan inklusif. Hubungan baru itu meliputi semua orang dan siapa saja yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakan kehendak  Bapa di surga.

Bagi semua orang yang telah percaya kepada Yesus dan membentuk satu komunitas umat beriman, termasuk kita, sangat biasa kita saling menyapa ibu, bapak, saudara dan saudari.

Meskipun, kita tidak punya hubungan darah seorang dengan yang lain, tetapi, kita merasa saling dekat, dan hidup sebagai ibu, bapak dan saudara-saudari. Kita merasa satu karena iman dan perjalanan yang sama.

Mungkin kita bisa bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sungguh merasa diri sebagai ibu, bapak, saudara dan saudari Yesus karena telah mendengarkanNya dengan sungguh dan melaksanakan kehendak Bapa di surga?

Apakah kita telah melaksanakan kesepuluh perintah Allah di dalam hidup harian kita?

Apakah kita telah sungguh mengasihi seorang kepada yang lain, saling memperhatikan;dan  melayani? Apakah kita rela mengampuni sesama, musuh dan mendoakan orang yang menyakiti kita?

Apakah kita sadar dan bersedia menghadirkan kerajaan Allah di dunia hidup, kata, sikap, tindakan dan karya kita?

Ketika kita sungguh mendengarkan Yesus dan melaksanakan sabda dan kehendakNya di dunia maka kita telah menunjukkan diri sebagai bapak, ibu, saudara dan saudari Yesus dan di antara kita.

Semoga Tuhan memberkati kita selalu!

Kewapante, 21 Juli 2026. ***