Pesan Inspiratif: Risiko Menjadi Utusan Tuhan

Jumat, 10 Juli 2026 06:47 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

nulene.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

Oleh: Pater Gregor Nule SVD

Menjadi murid Yesus dan utusanNya untuk mewartakan Kerajaan Allah merupakan panggilan yang luhur. Seseorang merasa bangga mendapat kepercayaan sebagai orang terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya Allah menyelamatkan umat manusia.  

Tetapi, perikop Injil Mat 10: 16-23 menggambarkan bahwa panggilan dan perutusan sebagai murid Yesus  punya banyak risiko. Para utusan Tuhan tidak hanya mendapat sambutan hangat. Sering banyak utusan Tuhan ditolak, dibenci, difitnah dan bahkan dibunuh.

Permusuhan, konflik dan penganiayaan itu bukan hanya terjadi di antara orang-orang tidak saling mengenal. Tetapi, bahkan di antara orang tua dan anak, atau saudara dan saudari, sedarah. Mereka saling menuduh, memfitnah dan menghukum.

Itulah sebabnya Yesus berkata, "Lihat,  Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala", (Mat 10:16).

Yesus memberikan memberikan beberapa nasihat agar tetap setia bertahan dan sukses dalam misi perutusan yang penuh risiko itu.

Pertama, mereka diingatkan Yesus  agar bersikap cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ini berarti mereka mesti bijaksana dan waspada. Tidak boleh gegabah dan bertindak bodoh. Mereka juga  mesti jujur, tulus dan berpegang teguh pada kebenaran.

Kedua, para murid pun mesti sadar akan identitas sebagai utusan dan saksi Tuhan. Maka mereka tidak boleh sombong serta andalkan kehebatan dan kemampuan diri. Sebab ketika mereka mesti memberikan kesaksian maka.bukan mereka yang berbicara,  melainkan Roh Bapa yang ada dalam diri mereka.

Satu hal yang memberikan harapan dan sekaligus tantangan bagi para murid dan semua utusan Tuhan adalah tekad dan usaha keras untuk tetap percaya, berpegang teguh pada Yesus dan misiNya.  

Sebab Yesus berkata, ".... barang siapa bertahan sampai kesudahannya, akan selamat", (Mat 10:22).

Beriman kepada Tuhan, hidup dalam iman serta berjuang membela dan mempertahankan iman bukanlah sia-sia dan tak bermakna. Iman yang kita hayati dengan sungguh dan konsekuen memberikan kedamaian dan kebahagiaan kepada hidup kita sekarang dan kelak di surga.

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!

Kewapante, 10 Juli 2026