Pilpres 2024: Ajang Rakyat Mencari Pemimpin, Pelestari Peradaban Menuju Indonesia Emas 2045

Rabu, 07 Februari 2024 18:04 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

foto.jpg
Para pembicara dalam diskusi 'Rakyat Mencari Pemimpin'. (RED)
Robert EppeDando (Foto: Dokpri)

Oleh: Robert EppeDANDO *

SEMINAR  Nasional yang diselenggarakan oleh manajemen Majalah LIDER besutan Dr Freddy Ndolu dengan tema "Rakyat Mencari Pemimpin" telah memantik api kesadaran para elit leader dan kita semua.

Seminar tersebut berlangsung di kawasan Kuningan, Jakarta, di Kartika Chandra Hotel pada Selasa, 6 Februari 2024 menghadirkan enam tokoh nasional sekaligus elit leader.

Ada Sri Sultan Hamengkubuwono X, Pontjo Sutowo, Faisal Basri, Connie Rakakundini Bakrie, Rocky Gerung, dan Zulfan Lindan.

Ngarso Dalem Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono memberikan spirit baru bahwa sebagai warga negara, kita adalah Pekerja Peradaban sekaligus Pelestari Peradaban menuju Indonesia Emas 2045.

Lebih dari itu, sebagai Pelestari Peradaban, kita wajib memelihara peradaban Nusantara hingga 100 tahun ke depan di tahun 2124.

Inilah semangat baru elit leader akan kecintaannya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sedangkan Pontjo Sutowo menyoroti betapa pentingnya mengokohkan Nation State dan Nation Building dalam semua lini kegiatan kita.

Apa maksudnya? Nation State atau Negara Kebangsaan adalah warga negara Indonesia merupakan satu bangsa yang sama. Jadi, suku bangsanya hanya satu, Indonesia.

Dengan demikian, pemahaman akan Negara Kebangsaan di Era Digital saat ini wajib disegarkan kembali dalam benak kita semua bahwa awal pembentukan negara kita berdasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme bersama, bukan kemauan segelintir orang atau kelompok—yaitu hasrat dan tekad warga bangsa untuk membangun masa depan bersama secara gotong royong dalam semangat Pancasila, dalam satu negara yang sama, walaupun kita memiliki seribu lebih suku, etnik, banyak ras, dan beberapa agama dan golongan.

Sedangkan Nation Building atau Pembangunan Nasional merupakan proses untuk membangun Indonesia secara utuh, holistik, dan integral. Semua proses pembangunan selalu berubah dan beradaptasi dengan keadaan terkini di Indonesia dan dunia.

Warga bangsa adalah manusia, menjadi elemen utama dalam membangun Indonesia dan nasibnya di masa depannya.

Pembicara lain, Faisal Basri, Connie Rakakundini Bakrie, dan Zulfan Lindan lebih memberikan wawasan baru dalam konteks Pemilihan Presiden (Pilpres) akan urgensitas dan kapasitas Presiden Indonesia yang baru.

Menurut mereka yang akan terpilih pada 14 Februari 2024 adalah pemimpin yang berkapasitas yang mampu mendasarkan semua kebijakan pada repetisi kebangsaan yang telah terjadi pada era Soekarno-Hatta hingga Presiden Joko Widodo. 

Repetisi Kebangsaan adalah melahirkan lagi keberhasilan dan kejayaan Indonesia di era sebelumnya menuju kebangsaan Indonesia Emas 2024.

Hal menarik dari Seminar Nasional tersebut, hadir penyangga tunggal, pakar Ilmu Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr Thomas Tokan Pureklolon, MPh, MM, MSi.

Sanggahan berjudul "Hak Demokrasi dan Problem Moral - Etis Kebangsaan: Sebuah Pemikiran" menyuguhkan semangat baru bagi para elit leader Indonesia dalam menyongsong pemilu (pilpres dan pileg).

Menurutnya, saat ini, sedang terjadi sikap tidak netral, khususnya di kalangan elit leader. Hal ini akan sangat berbahaya bagi nasib Indonesia lima tahun ke depan bahkan seterusnya.

Revolusi Moralitas Etis harus menjadi panglima tertinggi, agar kita mampu melahirkan Revolusi Mental dan Revolusi Demokrasi yang bermartabat.

Menjelang perhelatan akbar bangsa Indonesia tiap lima tahun sekali, selalu saja terjadi fenomena like (suka) dan dislike (tidak suka) tanpa menakar secara dewasa dalam memihak salah satu pasangan calon (paslon) pilihan seseorang.

Tidak heran, yang terjadi adalah serangan membabi buta antar pendukung paslon dengan menghempaskan aspek ratio atau nalar sehat. 

Walaupun paslon tersebut memiliki program kerja visioner, namun karena sudah terlanjur tidak disukai, maka dengan berbagai macam cara, paslon tersebut layak dibully sepanjang hari.

Nah, filsuf Jerman Abad 18, Imannuel Kant telah mewanti-wanti bahwa sejatinya, sebagai warga bangsa wajib mengedepankan Community of Rational Beings (berpijak pada aspek nalar), bukan pada Community of Emotional Beings (tercebur dalam kubangan emosional).

Dengan demikian, sikap bijak yang wajib dilakoni oleh kita semua warga bangsa Indonesia yakni fokus pada gagasan John Jack Rousseau, yakni berembuk bersama sebagai General Will (Kehendak Bersama) menuju Indonesia 2045.

Mengapa? Pemilu lima tahun sekali cenderung sebuah romantisme politik, maka kita tidak bisa hidup selama lima tahun dalam kubangan romantisme itu. 

Ada banyak karya besar yang segera dikerjakan bagi nasib bangsa, negara, dan anak cucu kita kelak.

Pemikiran bernas Rousseau di atas merupakan perulangan dari ide teolog tersohor Gereja Katolik Ritus Latin, Thomas Aquinas asal Italia, biarawan Ordo Dominikan (Ordo Predicatorum atau OP), tahun 1200-an.

Pada poin terakhir sanggahannya, Associate Professor Ilmu Politik FISIP UPH itu mengutip pemikiran filsuf Yunani Kuno, Plato dalam bukunya Republica bahwa, jikalau Anda tidak memahami diri Anda sendiri secara baik, maka Anda akan gagal dalam memahami politik.

Inilah yang terjadi dalam jagat maya media sosial. Kata-kata kasar dan sumpah serapah berseliweran, saling serang satu sama lain demi paslonnya masing-masing.

*Jakarta, 6 Februari 2024
Penulis | Robert EppeDANDO, Staf Khusus Yayasan Ignatius Joseph Kasimo (YIJK) dan Founder of Tour de Flores; Mobile Phone | +62 812 13 273 888