pln
Selasa, 11 Agustus 2026 17:47 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Abraham Runga Mali
Mataloko seharusnya menjadi laboratorium pembelajaran. Auditnya bukan hanya lingkungan, melainkan seluruh kehidupan proyek: dari reservoir sampai mata air, dari biaya listrik sampai konflik sosial.
Kata ‘audit’ di sini tidak seperti biasanya mengingatkan kita secara sederhana hanya pada urusan pembukuan: berapa uang masuk, berapa uang keluar, dan apakah ada penyimpangan.
Ia hadir ketika terlalu banyak pihak berbicara: pemerintah, PLN, perusahaan, Gereja, aktivis, ahli, masyarakat, dan media. Seminar digelar, demonstrasi berlangsung, tetapi klaim-klaim yang beredar tidak selalu bertemu pada pertanyaan yang sama.
Audit juga bukan kajian yang dibayar satu pihak untuk mengukuhkan kesimpulan yang sudah dibuat. Ia harus multidisipliner, terbuka, dapat diuji, dan hasilnya tidak boleh ditentukan sebelum pemeriksaan dimulai.
Baca juga:
https://floresku.com/read/flores-di-atas-bumi-yang-bergolak-tanah-api-dan-kebenaran
Dari Reservoir sampai Mata Air
Pertanyaan pertama berada jauh di bawah tanah. Apa sebenarnya karakter reservoir Mataloko? Bagaimana perubahan tekanan selama eksplorasi dan produksi? Di mana letak patahan?
Pertanyaannya bisa terus diperluas: bagaimana hubungan antara sumur yang telah dibor dan manifestasi panas di permukaan? Apakah munculnya semburan baru berkaitan dengan kegiatan pengeboran?
Jika iya, bagaimana mekanismenya? Jika tidak, apa penjelasan geologinya? Pertanyaan ini tidak dapat diselesaikan lewat pidato politik ataupun seruan moral semata, termasuk dengan mengutip ensiklik ‘Laudato Si’.
Ia membutuhkan data: log sumur, peta geologi, tekanan, temperatur, reinjeksi, riwayat pengeboran, dan pemantauan manifestasi permukaan. Pemeriksaannya harus dilakukan oleh ahli yang dapat bekerja tanpa tekanan untuk menghasilkan kesimpulan tertentu. Setelah itu, barulah kita masuk ke soal yang sangat sensitif di banyak komunitas Flores: air.
Bagi warga, sumber air bukan angka dalam dokumen lingkungan. Ia menentukan kehidupan sehari-hari.
Karena itu audit harus menjawab bukan hanya apakah air “tercemar” atau “tidak tercemar”. Pertanyaannya lebih luas. Apakah debit mata air berubah? Apakah kualitasnya berubah? Apakah warga berhenti menggunakan suatu sumber?
Kita juga perlu memastikan kapan perubahan pertama kali dirasakan. Apakah perubahan itu berkorelasi dengan pengeboran? Bagaimana pengaruh curah hujan dan kondisi daerah tangkapan air? Apakah reservoir panas bumi berhubungan dengan akuifer yang digunakan masyarakat?
Untuk menjawabnya, kita tentu saja membutuhkan hidrogeologi. Tetapi kita juga membutuhkan ingatan warga. Sebab sering kali warga mengetahui lokasi mata air yang bahkan tidak muncul dalam peta proyek.
Hidrogen sulfida atau H₂S secara alami terdapat dalam sistem panas bumi dan pada konsentrasi tertentu dapat berbahaya. Pertanyaannya bukan apakah H₂S “ada” atau “tidak ada”. Pertanyaannya: Berapa konsentrasinya? Di mana? Kapan? Berapa lama paparannya? Bagaimana arah angin? Apakah alat pemantau tersedia? Apakah pengukuran berlangsung kontinu atau hanya pada saat tertentu?
Jika warga mengatakan bau paling kuat terjadi pada malam atau dini hari, alat pemantau harus bekerja ketika warga mengalaminya. Tidak cukup datang pukul sepuluh pagi, mengambil sampel, lalu menyimpulkan semuanya aman.
Tanah, Kesehatan, dan Keselamatan
Masyarakat di sekitar proyek juga menyampaikan keluhan mengenai tanaman dan lahan. Audit harus memeriksanya tanpa praduga. Tanaman apa yang berubah? Di lokasi mana? Sejak kapan? Bagaimana kondisi tanah? Apakah terdapat sulfur atau unsur lain dalam jumlah yang berbeda? Bagaimana dengan penyakit tanaman?
Lalu bagaimana dengan perubahan iklim? Curah hujan? Pola pemupukan? Bandingkan dengan lahan kontrol yang tidak terpapar kegiatan proyek.
Jika memang terdapat hubungan, katakan ada. Jika tidak ditemukan hubungan, katakan pula dengan jujur.
Audit tidak mempunyai tugas membenarkan kecemasan ataupun menguatkan jalannya proyek. Tugasnya menemukan penjelasan yang paling kuat.
Keluhan kesehatan harus diperlakukan dengan kehati-hatian yang sama. Jangan serta merta menyimpulkan bahwa penyakit tertentu disebabkan geotermal. Tetapi jangan pula mengatakan semua aman hanya karena belum tersedia bukti yang cukup.
Kumpulkan rekam medis, petakan keluhan, bandingkan jarak tempat tinggal dengan fasilitas proyek, periksa pola waktu, ukur kualitas udara, libatkan epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan, dan cari kelompok pembanding.
Auditor independen juga harus melihat: semburan liar; kegagalan sumur; potensi longsor; kegempaan; jalur evakuasi; jarak fasilitas dari permukiman; prosedur keadaan darurat; dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Dengan begitu, pengalaman warga memperoleh kesempatan untuk benar-benar diperiksa. Bukan dipercaya begitu saja, bukan pula dibuang begitu saja.
Jadi, mekanisme audit independen dan transparan penting, mengingat masyarakat Flores hidup di wilayah dengan aktivitas geologi tinggi.
Apakah Proyek Ini Masuk Akal secara Ekonomi?
Terkait sisi ekonomi, pertanyaannya yang mesti diajukan: Berapa sebenarnya biaya proyek geotermal Mataloko? Berapa biaya eksplorasi? Berapa banyak sumur yang dibor? Berapa biaya perbaikan? Berapa dana publik yang telah dikeluarkan? Berapa listrik yang benar-benar dihasilkan sepanjang sejarah proyek?
Cari tahu juga, berapa lama pembangkit beroperasi secara efektif? Berapa biaya per kilowatt-jam jika seluruh investasi dan kegagalan dihitung?
Pertanyaan ini penting karena sebuah proyek tidak cukup dinyatakan berhasil hanya karena secara teknis dapat menghasilkan listrik.
Ia juga harus masuk akal secara ekonomi. Dan, jika uang publik digunakan, publik berhak mengetahui hasilnya. Inilah pertanyaan yang sering hilang dalam polemik lingkungan.
Pemerintah menetapkan Flores sebagai Pulau Panas Bumi pada 2017 dan saat itu menargetkan panas bumi sebagai sumber baseload utama pulau. Hampir satu dekade setelah keputusan tersebut, evaluasi yang dilakukan tentu menjadi wajar.
Apakah asumsi 2017 masih relevan pada 2026? Teknologi berubah, harga surya berubah, baterai berkembang, jaringan berubah, permintaan listrik berubah, dan peta ekonomi Flores berubah.
Perencanaan energi juga harus boleh berubah jika bukti baru menunjukkan pilihan yang lebih baik.
Setiap proyek besar datang dengan janji manfaat. Mari kita hitung. Berapa warga sekitar yang bekerja? Berapa yang permanen? Berapa yang hanya bekerja selama konstruksi? Berapa tenaga teknis lokal yang dilatih? Berapa kontrak diberikan kepada perusahaan lokal?
Berapa belanja proyek yang benar-benar berputar di Ngada dan Flores? Apakah desa menerima manfaat jangka panjang? Apakah masyarakat hanya menerima kompensasi tanah? Atau mereka ikut memiliki bagian dari nilai yang diciptakan?
Jadi, pertanyaan utama tidak berkutat terkait pembangunan proyek geotermal bukan hanya ‘berapa megawatt energi listrik yang dapat dihasilkan’, tetapi juga: ‘siapa memperoleh manfaat dari setiap megawatt yang dihasilkan itu?’
Tanah, Konflik, Konsultasi, dan Tata Kelola
Tanah adalah salah satu sumber konflik proyek infrastruktur di Flores. Karena itu seluruh sejarah pengadaan tanah Mataloko harus dibuka. Harus digarisbawahi bahwa tanah tidak hanya mempunyai harga. Di Flores, ia juga mempunyai sejarah.
Proyek dapat meninggalkan dampak yang tidak terlihat dalam hasil laboratorium.
Kampung dapat terbelah, keluarga berbeda sikap, warga pendukung dan penolak saling curiga, tokoh adat kehilangan legitimasi, hubungan masyarakat dengan pemerintah memburuk. Semua itu adalah biaya.
Audit harus memetakan: Bagaimana konflik yang muncul? Kapan? Mengapa? Siapa yang terlibat? Apakah kompensasi menciptakan kecemburuan? Apakah pekerjaan hanya dinikmati kelompok tertentu? Apakah proses proyek mengubah relasi sosial kampung?
Ekonomi pembangunan biasanya pandai menghitung biaya konstruksi. Namun, ia terkadang kurang mahir dalam menghitung harga dari sebuah komunitas yang retak.
Pemerintah sering mengatakan bahwa terkait proyek geotermal masyarakat telah “disosialisasikan”. Tetapi, jangan lupa sosialisasi tidak sama maknanya dengan konsultasi, dan konsultasi juga belum tentu berarti persetujuan.
Audit harus melihat: Kapan warga pertama kali diberi informasi? Apakah sebelum keputusan proyek atau setelah keputusan dibuat? Dokumen apa yang mereka terima?
Apakah risiko dijelaskan? Apakah pilihan alternatif disampaikan? Apakah kelompok penolak memperoleh ruang yang sama? Apakah perempuan dilibatkan? Apakah keputusan atau desain proyek pernah berubah karena masukan warga?
Kalau sebuah forum hanya menjelaskan proyek yang sudah diputuskan, itu adalah komunikasi satu arah. Bukan dialog, apalagi partisipasi. Ini sangat sederhana, tetapi penting.
Pihak auditor juga perlu membuat daftar seluruh pengaduan masyarakat sejak proyek dimulai. Keluhan tentang air, tanaman, gas, rumah, tanah, kesehatan, dan kompensasi. Setiap keluhan diberi status: diterima; diperiksa; hasil pemeriksaan; tindakan; selesai; belum selesai.
Dengan satu tabel seperti itu saja, publik akan jauh lebih mudah melihat apakah institusi proyek benar-benar belajar dari masalah.
Selanjutnya, pertanyaan bisa bergeser lebih jauh: Siapa sebenarnya bertanggung jawab atas proyek geotermal Mataloko? Kementerian ESDM? PLN? Pemerintah provinsi? Pemerintah kabupaten? Kontraktor? Operator?
Ketika masalah muncul, warga harus mengadu kepada siapa? Ketika terjadi kegagalan teknis, siapa bertanggung jawab? Ketika kerusakan lingkungan terjadi, siapa memulihkan? Ketika janji tidak direalisasikan, siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban?
Auditor independen juga harus menilai semburan liar, kegagalan sumur, potensi longsor, kegempaan, jalur evakuasi, jarak fasilitas dari permukiman, prosedur keadaan darurat, dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Pengalaman Warga Harus Masuk ke Pertanyaan Audit
Satu hal penting yang tak boleh diabaikan adalah semua pengalaman dan keluhan warga di sekitar proyek geotermal Mataloko tentang air, tanaman, gas, rumah, tanah, kesehatan, dan kompensasi menjadi pokok audit.
Artinya, setiap keluhan diberi status yang jelas: diterima, diperiksa, hasil pemeriksaan, tindak lanjut, selesai, atau belum selesai.
Dari sisi ekonomi, pertanyaan yang mesti diajukan antara lain: berapa sebenarnya biaya proyek geotermal Mataloko? Berapa biaya eksplorasi, jumlah sumur yang dibor, biaya perbaikan, dana publik yang telah dikeluarkan, dan listrik yang benar-benar dihasilkan sepanjang sejarah proyek?
Biarkan mereka leluasa menyebutkannya: air, tanah, bau, tanaman, kesehatan, ternak, kebun, hubungan keluarga, jalan, pekerjaan, pendapatan, dan listrik.
Mungkin saja warga menyampaikan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh para ahli. Catat semuanya, setelah itu baru diterjemahkan menjadi pertanyaan penelitian, dengan cara itu, masyarakat bukan sekadar responden, dan mereka ikut menentukan apa yang layak diperiksa.
Audit Bukan Pengadilan
Tentu saja terdapat sebuah syarat yang penting untuk dicatat. Hasil Audit Mataloko tidak boleh ditulis sebelum audit dimulai. Audit tidak boleh dibentuk untuk membuktikan geotermal aman. Audit juga tidak boleh dibentuk untuk membuktikan geotermal berbahaya.
Keduanya itu bukan audit. Audit harus memungkinkan semua hasil. Mungkin ternyata sebagian besar fasilitas relatif aman dan beberapa ketakutan masyarakat tidak dapat dibuktikan.
Kita harus berani menuliskannya. Mungkin juga ditemukan masalah, tetapi dapat diperbaiki melalui perubahan desain dan pengawasan.
Proyek publik yang besar sering mempunyai banyak pemilik ketika berhasil, tetapi seolah tidak mempunyai pemilik ketika bermasalah.
Mungkin ada keluhan warga yang tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan panas bumi. Itu harus disampaikan dengan hormat.
Dan mungkin pula ditemukan persoalan besar yang membuat kebijakan pengembangan panas bumi di lokasi tertentu harus dikaji ulang, bahkan terpaksa dihentikan.
Kemungkinan itu juga harus tetap terbuka. Hanya dengan cara seperti itulah audit mendapatkan kepercayaan.
Buka Datanya
Proses audit independen dan transparan, menuntut kesediaan semua pihak untuk memberi atau membuka data apa adanya.
Jika sebagian informasi memang memiliki batas kerahasiaan teknis atau komersial, auditor independen tetap dapat diberikan akses dengan mekanisme yang sesuai.
Prinsipnya sederhana: semakin besar proyek memengaruhi kehidupan publik, semakin besar pula kewajiban menjelaskan dasar keputusannya kepada publik.
Siapa yang Mengaudit?
Pemerintah sering mengatakan masyarakat telah “disosialisasikan” mengenai proyek geotermal. Namun sosialisasi tidak sama dengan konsultasi, dan konsultasi belum tentu berarti persetujuan.
Audit memerlukan tim multidisipliner yang mempunyai kredibilitas. Mereka terdiri atas geolog, hidrogeolog, ahli udara, ahli kesehatan masyarakat, agronom, ekonom energi, insinyur kelistrikan, ahli kebencanaan, antropolog, sosiolog, ahli hukum, dan masyarakat.
Dalam hal ini perguruan tinggi dapat terlibat, lembaga penelitian dapat terlibat, pemerintah tentu harus membuka akses, PLN harus memberikan data, kelompok masyarakat sipil harus dapat mengajukan bukti, dan warga pendukung maupun penolak harus didengar.
Tetapi, ingat, para auditor itu mesti bekerja dengan satu mandat: mencari apa yang terjadi, bukan membuktikan posisi salah satu pihak, atau benar pihak lain.
Auditor juga perlu membuat daftar seluruh pengaduan masyarakat sejak proyek dimulai: air, tanaman, gas, rumah, tanah, kesehatan, hingga kompensasi. Setiap keluhan harus memiliki status yang jelas: diterima, diperiksa, hasil pemeriksaan, tindak lanjut, selesai, atau belum selesai.
Kata ‘laboratorium’ biasanya membuat kita membayangkan ruangan putih dengan alat-alat ilmiah. Tetapi Mataloko dapat menjadi laboratorium dalam pengertian yang lebih besar. ‘Laboratorium kebijakan publik’.
Di sana kita dapat belajar: bagaimana melakukan studi kelayakan; bagaimana mendengarkan/melibatkan warga masyarakat; bagaimana mengebor dengan aman; bagaimana memonitor gas; bagaimana melindungi mata air; bagaimana menangani keluhan; bagaimana membagi manfaat; bagaimana mengelola kegagalan; dan bagaimana membuat evaluasi dan memutuskan apakah suatu proyek layak diteruskan, atau sebaiknya dihentikan.
Jika Mataloko ternyata mempunyai masalah, kita harus belajar darinya. Jika ada bagian yang berhasil, itu pun harus dicatat. Pengalaman buruk yang diperiksa secara jujur jauh lebih berguna daripada pengalaman buruk yang disembunyikan.
Satu hal penting yang tidak boleh diabaikan ialah pengalaman dan keluhan warga sekitar proyek Mataloko. Persoalan air, tanaman, gas, rumah, tanah, kesehatan, maupun kompensasi harus masuk ke dalam agenda audit.
Jadi, perlu ditegaskan sekali lagi bahwa tim auditor bekerja dengan satu mandat: mencari apa yang terjadi, bukan membuktikan bahwa satu pihak benar dan pihak lain salah.
Audit sangat Mendesak
Mekanisme audit sangat mendesak untuk dilakukan. Sebab, polemik geotermal Flores sekarang telah memasuki fase yang yang tidak kondusif. Bukan hanya karena masyarakat menolak. Tetapi, juga karena kepercayaan masyarakat mulai sirna.
Mungkin warga menyampaikan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh para ahli. Catat semuanya, lalu terjemahkan ke dalam pertanyaan penelitian. Dengan cara itu, masyarakat tidak hanya menjadi responden, tetapi ikut menentukan apa yang layak diperiksa.
Mereka menilai pengalaman dan luka akibat proyek belum memperoleh penyelesaian yang memadai sehingga dialog dianggap tidak berada pada posisi yang setara.
Kita boleh tidak setuju dengan seluruh klaim mereka. Tetapi penolakan terhadap dialog sendiri merupakan fakta politik yang harus diperhatikan.
Ketika masyarakat tidak lagi percaya pada forum, risikonya akan jauh lebih besar daripada risiko dari pembangunan satu proyek geotermal.
Karena tanpa kepercayaan, setiap data dicurigai, setiap konsultan dianggap berpihak, setiap sosialisasi dianggap propaganda, setiap penolakan dianggap anti-pembangunan, dan setiap aparat yang hadir memperbesar jarak.
Audit independen dapat menjadi salah satu jalan untuk mengembalikan percakapan kepada sesuatu yang dapat diperiksa bersama.
Bukan untuk membuat semua orang sepakat. Tetapi untuk membuat semua orang setidaknya berdebat mengenai fakta yang sama.
Jangan Menulis ‘Vonis’ Sebelum Pemeriksaan
Sudah terlalu lama perdebatan geotermal Flores bergerak dalam dua kesimpulan yang dibuat sebelum pemeriksaan selesai.
Satu mengatakan: Geotermal adalah energi hijau. Karena itu harus dibangun. Yang lain mengatakan: Geotermal telah merusak. Karena itu harus dihentikan.
Flores membutuhkan pilihan ketiga yang jauh lebih sulit. Audit yang independen dan transparan menuntut kesediaan semua pihak untuk membuka data secara jujur.
Sebab sebelum Flores menentukan masa depan proyek-proyek panas bumi di tempat lain, kita mempunyai tanggung jawab untuk memahami apa yang telah terjadi di tempat yang lebih dahulu mengalaminya.
Pertanyaan besarnya bukan lagi: ‘Apakah geotermal berbahaya?’, tetapi: ‘Apa yang benar-benar terjadi di Mataloko selama proyek beroperasi; apa yang dapat dibuktikan; apa yang belum dapat dibuktikan; dan apa yang dapat dipelajari sebelum kita membangun proyek geotermal di tempat lain di Flores dan Lembata?
Namun setelah itu muncul lagi sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit: ‘Siapa yang menentukan kebenaran di Mataloko?’
Pertanyaan tentang siapa yang mengaudit sangat penting. Tentu bukan PLN sendiri, bukan kelompok penolak sendiri, dan bukan pula konsultan yang keberlanjutan pekerjaannya bergantung pada salah satu pihak.***