Nagekeo
Rabu, 28 Januari 2026 21:23 WIB
Penulis:redaksi
Editor:redaksi

NDORA (Floresku.com) -Para sesepuh dan perwakilan Suku Nakenunga Wolosabi Sipi, Desa Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, secara tegas meminta pihak instansi terkait untuk menutup total aktivitas galian mineral yang beroperasi di wilayah tanah adat mereka.
Permintaan ini disampaikan karena aktivitas galian dinilai mengancam situs adat dan nilai historis yang diwariskan secara turun-temurun.
Perwakilan suku, Didianus Bula, mengungkapkan bahwa aparat pemerintah dan keamanan sebenarnya telah beberapa kali turun langsung ke lokasi.
Baca juga:
“Sudah lima kali kami didatangi pihak Pol PP bersama Bapak Camat, Babinsa, dan juga dari Kepolisian Sektor Nangaroro yang mendatangi lokasi galian mineral, kalau tidak salah untuk menghentikan aktivitas galian,” ujar Didianus kepada wartawan.
Ia menegaskan, keberatan suku bukan tanpa dasar. Tanah yang digali tersebut memiliki makna adat yang kuat, karena di dalamnya terdapat simbol adat dan lokasi ritus tradisional.
“Kami punya dasar historis dan sejarah bahwa tanah itu adalah tanah adat, tempat ritus adat. Itu menjadi kewajiban dan tanggung jawab kami untuk melestarikannya,” jelasnya.
Menurut Didianus, para ketua suku dan anak-anak suku berkewajiban mewariskan sejarah serta memperjuangkan hak-hak adat tersebut.
Didianus juga mengungkapkan bahwa pada 30 Juli 2025 lalu telah dilakukan pertemuan khusus di Kantor Camat Nangaroro.
Pertemuan itu melibatkan Camat Nangaroro, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, serta pihak kontraktor dari PT Anugerah Indah Bestari. Dalam berita acara pertemuan tersebut, PT Anugerah Indah Bestari menyatakan akan melakukan konsultasi dan pendekatan persuasif dengan perwakilan Suku Nakenunga.
Namun, hingga kini, komitmen tersebut dinilai belum terealisasi.
“Dari tanggal 30 Juli 2025 sampai sekarang, kami tidak mendapatkan titik penyelesaian maupun itikad baik dari pihak kontraktor. Aktivitas galian tetap berjalan,” tegas Didianus.
Karena itu, masyarakat adat mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk bertindak lebih tegas. Mereka meminta agar aktivitas galian mineral segera ditutup demi melindungi situs-situs adat yang berada di atas dan di bawah area galian. (Silvia). ***