Sisi Lain Tradisi Semana Santa di Larantuka (Selesai)

Kamis, 01 April 2021 22:32 WIB

Penulis:redaksi

sama na santa 4.jpg
Konferia

SEMANA SANTA tidak bisa terlepas dari peran  komunitas konferia. Mereka adalah para pria yang telah diseleksi,  diangkat dan diambil sumpah untuk mengurusi prosesi Semana Santa, mulai dari merawat  patung Bunda Maria dan patung Yesus di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria),  menutup dengan materai dan membuka   peti mati Tuan Meninu di Kapel Tuan Ana (Yesus) yang dilakukan setahun sekali pada kesempatan prosesi Semana Santa. 

Konferia atau Prokodo pulalah yang membawakan ratapan Nabi Yeremia saat misa persiapan pelepasan Tuan Meninu untuk diarak melalui laut menuju Pante Kuce di Pohon Sirih.  Seusai ratapan itu, para konferia yang mengusung Tuan Meninu mengarak Tuan Meninu keluar dari Kapela Tuan Ma, Pante Batumea menuju Kapela Tuan Ana untuk selanjutnya diarak lagi menuju Gereja Kathedral Larantuka. Dalam prosesi mereka mengusung Tuan Ma, peti mati Tuan Menino dan membawa panji-panji suci.

Dalam menjalankan tugasnya, para konferia itu mengenakan seragam hitam atau biru dibalut dengan pakaian Ajuda atau  Lakademu. 

Krisis Internal Gereja dan Menguatnya Peran Komunitas Konferia

Sesungguhnya, selama abad ke-19, terutama menjelang akhir 1800-an,  di internal gereja Katolik di Nusantara sendiri terdapat masalah serius karena beberapa alasan. Pertama, saudagar Portugis semakin terdesak oleh aktivitas dagang VOC, sebuah persuahaan dagang yang beroperasi hampir dua abadnya (1602 – 1799). 

Posisi Portugis kian sulit ketika peran VOC diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda yang didukung kekuatan militer yang mumpuni. Apalagi dalam bertarung dengan Portugis, Belanda selalu beraliansi dengan pedagang Muslim Bugis dan komunitas Islam lokal. Lagi pula, belakangan, Kerajaan Larantuka yang berambisi untuk menguasai perdagangan cendana di wilayah Timor mengerahkan dengan pasukan Topas-nya untuk berbalik menyerang Portugis.

 Kondisi demikian membuat para misonaris Portugis minim dukungan finansial. Terdesak oleh kebutuhan dana dan ditambah dengan pola hidup yang glamour, para padri Portugis melakukan praktik simone - sebuah istilah yang dipakai untuk merujuk pada praktik suap dan penjualan jabatan rohani.-  guna mengumpulkan harta dan uang layaknya para saudagar. 

Dalam konteks seperti itu, dapat dipahami mengapa, sejumlah suku di Flores kemudian menolak kehadiran, bahkan membunuh beberapa padri Katolik, terlebih setelah diprovokasi oleh orang Islam dan orang Belanda. Benteng-benteng pertahanan orang Portugis kemudian ditaklukkan oleh para saudagar Islam dan  Belanda dibantu oleh warga lokal yang berhasil diprovokasi Belanda. 

Runtuhnya benteng Portugis di pulau Ende misalnya, diawali oleh ulah salah seorang padri Katolik Portugis yang menjalin hubungan gelap dengan gadis Rendo, putri  Louis Fernando, wanita yang sudah bertunangan dengan seorang pemuda lokal. Sebagai reaksinya, pada November 1613, warga lokal menyerang dan membunuh Rendo, lalu mengusir imam-imam Portugis dari pulau Ende. 

Masalah kedua, adalah benturan tradisi Katolik warisan Portugis dan tradisi yang hendak dibangun oleh padri Katolik berkebangsaan Belanda. 

Ketika Belanda mulai mendominasi wilayaf Flores dan Timor bagian barat, mulai awal abad ke-19, oran-orang Portugis bersama para misionaris yang menyertainya,  didesak ke wilayah Timor bagian timur -wilayah Timor Leste sekarang. Sesekali  beberapa Padri Katolik  berlayar dari Timor bagi timur untuk menemui dan melayani umat di di Larantuka dan daerah sekitarnya. Selama masa itu gereja Katolik bertahan  karena peran dan aktivitas komunitas “Confreria da Rosario (Persaudaraan Rosario). 

Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink dalam buku mereka yang berjudul 'A History of Christianity' (2008:hal 231). mengemukakan berdasarkan hasil Perundingan Lisbon yang ditandatangai 20 April 1859, Portugis akhirnya  menyingkir ke Pulau Timor bagian timur, dan  menyerahkan wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Larantuka di Timor barat, Flores, Adonara, Solor, Lomblen, Pantar, dan Alor kepada pemerintah Belanda. Soalnya pemerintah Portugis di Dili telah  menerima pembayaran awal sebesar 80.000 dari 200.000 guilders, harga yang ditawarkannya kepada  pemeritntah Hindia Belada.

Berdasarkan kesepakan Lisabon itu pula, pemerintah Hindia Belanda mulai berpikir untuk memberikan prioritas bagi Flores dan mengambil langkah yakni mengangkat seorang imam katolik untuk Larantuka. 

Pada 12 September 1859, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Petrus Maria Vrancken,Pr menerima surat dari sekretaris pemerintah Hindia Belanda yang isinya meminta agar seorang imam dikirim ke Larantuka. Pada akhir Desember 1859, umat katolik di seluruh stasi Larantuka berjumlah kira-kira 10.000 orang. 

Peluang ini dimanfaatkan oleh Mgr. Vrancken sehingga pada Mei 1860 ia mengangkat dan mengutus imam projo Johanes Petrus Nikolaus Sander menjadi pastor untuk Larantuka. Pada pertengahan 1860, Pastor Sanders tiba di Larantuka. 

Padri Katolik Belanda itu digaji sebagai pejabat kolonial berpangkat tinggi  sehingga tidak memiliki masalah material seperti para padri Portugis. Namun,  dia  menemui banyak kendala untuk masuk ke tengah umat di Flores bagian timur karena tradisi Katolik yang telah ditanamkan oleh para padri Portugis. Dia bahkan, sangat terkejut ketika menyaksikan banyak kontradiksi antara kebanggaan orang Flores sebagai orang Katolik,  dan sikap pembangkangan mereka terhadap dirinya sebagai  imam atau pastor Katolik.

Soalnya, ketika dia merencanakan untuk membangun rumah paroki, banyak dari antara  umat  yang menghalang-halangi. 

Sikap umat yang membangkang tidak hanya terjadi di Flores bagian timur, melaikan juga terjadi di daerah Sikka, daerah yang lebih ke barat dari Larantuka, terletak di pantai selatan Flores. Selama kunjungan perdananya ke Sikka pada pertengahan tahun 1861, orang-orang di sana tidak bersedia menerimanya di rumah mereka, 

Hal ini semua terjadi karena umat merasa muak dengan perilaku para misionaris sebelumnya, yaitu para  padri Portugis yang gemar meminta imbalan atas semua jasa pelayanan rohani yang mereka lakukan. Para padri Portugis sering meminta beras, minyak atau lilin. Bahkan, dikisahkan, Victorinus a Do Loribus, seorang padri Portugis terakhir yang berkarya di daerah ini, pergi  dengan membawa banyak harta. Ia naik kapal dengan muatan penuh barang yang dikumpulkan dari umat. 

Ketika para Portugis bersama para padrinya hengkang dari Flores bagian timur, para elit sosial dan politik lokal tampil menggantikan peran para padri menghidupkan gereja. Mereka  melanjutkan tradisi yang dikembangkan oleh para padri Portugis. Mereka juga meneruskan kepemimpinan dan aktivitas Confreria da Rosario yang telah hidup selama masa bersama para padri Portugis

Bertalian dengan itu, mereka juga mengkultuskan juga raja Larantuka sebagai ‘wakil’ Bunda Maria sendiri. Setiap tiga tahun mereka juga memilih para pemimpin yang bertugas mengelola  acara-acara seperti Procurador, Maestri, Scrivan, Thesorero, Tjumador dan Capellao

Jadi,  ketika Pastor Sanders masuk ke wilayah itu sejak 1860, komunitas Confreria da Rosario sudah menjadi sangat kuat. Mereka bahkan merasa bahwa urusan mati-hidup gereja Katolik di wilayah itu berada di tangan mereka sepenuhnya. Akibatnya  mereka enggan mengalihkan urusan gerejani  ke tangan Pastor Sanders.

Karena beratnya  medan misi dan kondisi kesehatan yang buruk, Pastor Sanders kemudnia meninggalkan Flores pada 16 Agustus 1861. Dia digantikan oleh imam projo, Caspar Joanes Hubertus Fransen.

Pastor Fransen  berhasil mengambil hati umat  dan keluarga kerajaan Larantuka yakni Raja Don Gaspar dan adiknya Don Minggo  sehingga bisa membangun sebuah kapela di Posto dan sebuah sekolah Katolik. Secara perhalam dia juga merintis penerapan ritual penguburan orang mati secara Katolik.

Pada bulan Oktober 1863, karena kesehatan yang memburuk Pastor Fransen harus kembali ke Jawa dan digantikan oleh P. Gregorius Metz, SJ. Selanjutnya beberapa pastor Jesuit berkarya di Flores bagian timur, sampai akhirnya misi di wilayah itu dialihkan kepada kepada para misioaris SVD pada 1912. 

Perlu dicatat, peralihan urusan gerejani di Flores timur dari awam ke para kleurus memang berlangsung tersenda-sendat. Sampai kemudian muncul suatu pendekatan baru dalam misi, di mana para Pastor menekankan pelayanan yang bersifat sakramental. Semenjak itu, komunitas Confreria da Rosario  tak lagi dipadang sebagai dominasi para awam, melainkan sebagai tradisi positif Katolik warisan para misonaris Dominka Portugis yang perlu dilestarikan. 

Dengan begitu, peran kaum awam yang tergabung dalam Confreria da Rosario masih bisa berlanjut hingga sekarang.Peran mereka masih tampak kentara dalam prosesi Semana Santa, setiap Rabu Trea, Kamis Putih dan Jumat Agung di Flores Timur hingga sekarang ini.*** (Oleh Maxi Ali P. , dari berbagai sumber).