Paskah
Selasa, 19 Mei 2026 17:32 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Oleh Maxi Ali Perajaka*
ADA sesuatu yang diam-diam sedang mati dalam peradaban modern, tetapi kematiannya tidak disertai suara sirene, dentuman perang, atau runtuhnya gedung-gedung besar.
Ia mati perlahan, sunyi, hampir tidak terasa. Yang sedang perlahan hilang itu adalah manusia sebagai misteri.
Hari ini manusia modern semakin mudah dipahami mesin, tetapi semakin sulit memahami dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika telepon genggam mengetahui lebih banyak tentang hidup kita dibanding sahabat terdekat.
Algoritma tahu kapan kita sedih, kapan kita bosan, kapan kita kesepian, bahkan kapan kita kemungkinan sedang jatuh cinta.
Dunia digital membaca manusia bukan melalui percakapan mendalam, tetapi melalui pola perilaku: apa yang kita klik, berapa detik kita berhenti di sebuah video, lagu apa yang diputar berulang kali tengah malam, atau jenis konten apa yang diam-diam kita cari saat tidak bisa tidur (Zuboff, 2019; IBM, 2024).
Dan anehnya, manusia modern menikmati semua itu.
Kita rela membawa perangkat pengintai ke mana-mana di saku celana sendiri. Kita tidur di sampingnya. Bangun mencarinya.
Bahkan banyak orang lebih panik kehilangan telepon genggam dibanding kehilangan waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri.
Inilah ironi besar zaman digital: manusia merasa semakin bebas, padahal hidupnya semakin terbaca.
Menurut International Telecommunication Union (ITU), jumlah pengguna internet dunia diperkirakan telah melampaui enam miliar orang atau sekitar tiga perempat populasi global pada 2026 (ITU, 2026).
Sementara laporan DataReportal menunjukkan rata-rata manusia modern menghabiskan hampir 6,5 jam setiap hari di ruang digital, terutama media sosial dan konsumsi video online (DataReportal, 2026).
Artinya, sebagian besar kehidupan manusia kini berlangsung di dalam ruang yang terus merekam perilakunya.
Dulu manusia dikenali dari cerita hidupnya. Dari cara ia memperlakukan orang lain. Dari pergulatannya dengan hidup. Dari luka dan perjuangan yang membentuk karakternya.
Tetapi hari ini, identitas manusia perlahan diterjemahkan menjadi kumpulan data statistik.
Kita tidak lagi sekadar manusia. Kita adalah histori pencarian. Kita adalah pola konsumsi. Kita adalah target iklan. Kita adalah angka engagement.
Dan mungkin, tanpa sadar, kita sedang memasuki fase baru evolusi manusia: dari homo sapiens menjadi homo algorithmus.
Istilah ini mungkin terdengar berlebihan. Tetapi coba lihat bagaimana hidup modern bekerja. Dunia hari ini tidak terlalu tertarik mengenal siapa diri manusia sebenarnya.
Sistem digital lebih tertarik pada sesuatu yang lebih praktis: bagaimana memprediksi manusia.
Perusahaan teknologi global tidak perlu memahami makna hidup kita. Mereka hanya perlu tahu bagaimana membuat kita bertahan lebih lama di layar. Mereka tidak perlu memahami kesepian kita secara filosofis. Mereka hanya perlu tahu jenis konten apa yang membuat kita terus scrolling tanpa henti.
Di titik ini, perhatian manusia telah berubah menjadi tambang ekonomi baru abad ke-21. Nick Srnicek menyebut fenomena ini sebagai platform capitalism, ketika platform digital menjadikan data dan perhatian manusia sebagai fondasi utama ekonomi modern (Srnicek, 2017).
Dalam ‘kapitalismen model baru' itu kita semua adalah ‘buruh tanpa kontrak kerja’, yang tak berupah.
Setiap hari manusia menghasilkan data gratis untuk sistem digital global. Kita memberi makan algoritma melalui kebiasaan kecil yang tampak sepele.
Ketika kita menyukai sebuah postingan, sistem belajar tentang emosi kita. Ketika kita menonton video sampai selesai, sistem mempelajari ketertarikan kita. Ketika kita marah di media sosial, algoritma justru bekerja lebih aktif karena kemarahan membuat manusia lebih lama tinggal di layar (Zuboff, 2019).
Mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, emosi manusia telah menjadi bahan bakar ekonomi.
Kesedihan menghasilkan traffic. Kemarahan menghasilkan engagement. Kecemasan menghasilkan klik.
Sementara itu, tak banyak yang menyadari bahwa dunia digital modern diam-diam hidup dari semua itu.
Yang lebih mengkhawatirkan, manusia modern perlahan mulai melihat dirinya sendiri berdasarkan cara algoritma melihat dirinya.
Nilai diri tidak lagi diukur dari kedalaman karakter, tetapi dari jumlah pengikut. Harga diri tidak lagi lahir dari relasi nyata, tetapi dari validasi digital.
Bahkan banyak orang hari ini lebih takut kehilangan eksistensi online dibanding kehilangan kedalaman hidupnya sendiri.
Padahal layar tidak selalu memperlihatkan kenyataan.
Pew Research Center menunjukkan bahwa pengguna media sosial cenderung membangun representasi diri yang telah dipilih dan dipoles untuk konsumsi publik (Pew Research Center, 2021).
Media sosial akhirnya berubah menjadi museum kepalsuan yang paling indah dalam sejarah manusia. Semua orang tampak bahagia. Semua tampak sukses. Semua tampak produktif. Semua tampak sedang menikmati hidup terbaiknya.
Tetapi kehidupan nyata tidak pernah seindah itu. Kehidupan nyata tak pula sesederhana itu.
Ada banyak manusia yang tertawa di Instagram tetapi menangis dalam kesendirian.
Ada yang terlihat sukses di LinkedIn tetapi kehilangan arah hidupnya.
Ada yang viral di TikTok tetapi tidak punya satu pun ruang aman untuk benar-benar bercerita tentang dirinya sendiri.
Ironisnya, semakin dunia digital dipenuhi “koneksi”, semakin banyak manusia merasa kesepian.
Sherry Turkle menyebut kondisi ini sebagai alone together, ketika manusia terus terhubung secara digital tetapi kehilangan kualitas kehadiran yang nyata dalam relasi sosialnya (Turkle, 2017).
Mengapa?
Karena manusia modern terlalu sibuk terlihat, tetapi lupa hadir.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih sibuk merekam konser dibanding menikmati musiknya. Liburan lebih penting difoto dibanding dirasakan.
Bahkan, matahari terbenam kadang tidak lagi dinikmati sebagai keindahan, tetapi sebagai konten.
Secara perlahan-lahan tetapi semakin pasti, manusia kehilangan kemampuan paling sederhana: mengalami hidup tanpa harus mempertontonkannya.
Inilah tragedi sunyi generasi digital.
Manusia modern hidup di bawah tekanan untuk terus tampil menarik, terus relevan, terus terlihat baik-baik saja.
Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai performance society, yaitu masyarakat yang terus terdorong mempertontonkan produktivitas, pencapaian, dan citra dirinya (Han, 2015).
Kita sedang membangun peradaban yang memuja citra, tetapi diam-diam menghasilkan kelelahan psikologis massal.
Tidak heran banyak orang hari ini mengalami kecemasan sosial, kelelahan mental, dan krisis identitas.
American Psychological Association menjelaskan bahwa media sosial dapat memperkuat ketergantungan terhadap validasi eksternal dan memengaruhi kesehatan mental pengguna, terutama generasi muda (APA, 2023).
Sebab mempertahankan persona digital sering jauh lebih melelahkan daripada menjalani hidup itu sendiri.
George Orwell pernah mengingatkan bahwa hakikat manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan berani hidup dengan segala ketidaksempurnaannya (Rodden, 2022).
Tetapi media sosial modern justru menciptakan budaya yang menuntut manusia terus tampak sempurna. Tidak boleh gagal. Tidak boleh lemah. Tidak boleh terlihat rapuh.
Padahal manusia tanpa kerapuhan bukan manusia.Ia hanya etalase.
Barangkali, itulah bahaya terbesar dunia digital hari ini: manusia perlahan berubah menjadi produk pencitraan tentang dirinya sendiri.
Yang lebih mengganggu lagi, pengawasan modern kini tidak lagi membutuhkan penjara. Kita hidup di bawah sistem yang terus memantau, tetapi melakukannya dengan cara yang sangat halus.
Kita diberi hiburan, kenyamanan, dan personalisasi. Sebagai gantinya, kita menyerahkan data, perhatian, bahkan pola perilaku kita.
Shoshana Zuboff menyebut ini sebagai surveillance capitalism: sistem ekonomi yang menjadikan pengalaman manusia sebagai bahan mentah untuk diprediksi dan dimonetisasi (Zuboff, 2019). Dengan kata lain, hidup manusia telah menjadi komoditas.
Sebagian besar orang tidak menyadarinya karena semua itu dibungkus kenyamanan.
Padahal ada pertanyaan besar yang mulai jarang diajukan: apakah manusia modern masih sungguh-sungguh bebas? Ataukah pilihan-pilihan kita perlahan diarahkan algoritma?
Apa yang kita tonton direkomendasikan mesin. Apa yang kita beli dipandu iklan personal. Apa yang kita anggap penting dibentuk trending topic.
Bahkan kemarahan sosial hari ini sering bergerak mengikuti ritme algoritma.
Kita mengira kita memiliki kebebasan untuk memilih. Padahal sedang dikendalikan oleh tekonologi digital..
Namun di tengah semua kegelisahan ini, saya kira persoalan terbesar abad digital bukanlah teknologi itu sendiri.
Teknologi hanyalah alat. Persoalan sesungguhnya adalah ketika manusia kehilangan kemampuan menjaga jarak kritis terhadap teknologi yang ia ciptakan sendiri.
Sebab manusia bukan sekadar makhluk data.
Manusia adalah makhluk yang memiliki jiwa, kenangan, luka batin, cinta, rasa bersalah, harapan, dan pencarian makna yang tidak seluruhnya bisa diterjemahkan menjadi angka statistik.
Algoritma mungkin bisa memprediksi apa yang akan kita beli besok.
Tetapi ia tidak sungguh-sungguh memahami mengapa manusia tetap memilih bertahan hidup di tengah penderitaan.
Data mungkin mampu membaca pola perilaku manusia. Tetapi ia tidak mampu sepenuhnya menjelaskan doa seorang ibu pada tengah malam.
Di titik inilah kita perlu kembali bertanya: apakah teknologi masih membantu manusia menjadi lebih manusiawi?
Ataukah perlahan manusia justru sedang dibentuk menjadi makhluk yang mudah diprediksi, mudah diarahkan, dan mudah dikendalikan?
Karena kalau suatu hari manusia hanya dipahami sebagai data, maka umat manusia akan kehilangan sesuatu yang paling penting dari dirinya yaitu martabat dirinya sendiri. *
*Penulis, pemimpin redaksi Floresku.com. ***