Surat Cinta yang Tak Pernah Selesai

Selasa, 23 Juni 2026 19:23 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

andi.jpg
Pernikahan Andi Nizar dan Tasya di Bone (Yosef N)

Oleh Yosef Naiobe

KOTA Bone biasanya berisik ketika musim kemarau datang. Angin kering membawa debu yang berputar-putar di sudut jalan. Pohon-pohon meranggas. 

Matahari menggantung garang di langit Sulawesi Selatan.

Namun pagi itu berbeda.

Di halaman Masjid Agung Watampone, suasana terasa teduh dan khidmat. Seolah waktu sengaja memperlambat langkahnya untuk menyaksikan sebuah kisah yang telah lama ditulis oleh takdir.

Di hadapan penghulu, Andi Nizar dan Tasya mengucapkan janji suci.

Sebuah cinta yang bertumbuh perlahan sejak bangku sekolah akhirnya menemukan muaranya. 

Setelah bertahun-tahun berlayar dalam kesabaran, cinta itu berlabuh di pelaminan.

Dulu mereka hanyalah dua remaja biasa.

Mereka belajar di sekolah yang sama. Duduk di ruang kelas yang sama. Tertawa pada hal-hal sederhana yang hanya dipahami oleh anak-anak seusia mereka.

Andi Nizar tidak pernah menyadari kapan tepatnya perasaan itu tumbuh.
Mungkin saat pertama kali melihat Tasya tersenyum di koridor sekolah. 

Mungkin ketika mereka mengerjakan tugas kelompok bersama. Atau mungkin ketika ia menyadari bahwa setiap pagi matanya selalu mencari satu wajah yang sama.
Perasaan itu datang tanpa suara.
Perlahan.
Diam-diam.
Lalu menetap.

Pagi itu, bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Siswa-siswi SMA berhamburan keluar kelas. Sebagian menuju kantin, sebagian lagi berkumpul di bawah pohon ketapang yang rindang.

Dari kejauhan, Andi Nizar melihat Tasya berjalan ke arahnya.
Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat.
Tangannya dingin.
Lututnya terasa lemas.
"Tasya..." gumamnya.
Gadis itu menoleh.
"Iya?"

Andi Nizar menelan ludah. Kata-kata yang telah ia susun semalaman tiba-tiba berhamburan entah ke mana.
"Tasya... aku... aku..."
Kalimat itu menggantung.
Tak selesai.
Tak pernah sampai pada tujuan.

Ada keberanian yang hilang di tengah jalan.
"Ayo, katakan," ujar Tasya sambil tersenyum.
"Tapi... janji kamu tidak marah?"
Tasya tertawa kecil.
"Memangnya ada apa?"
Andi Nizar kembali terdiam.

Hari itu, surat yang hendak ia bacakan kepada Tasya tetap tersimpan di dalam hatinya. Tidak pernah selesai. Tidak pernah benar-benar terucap.

Entah karena takut ditolak.

Entah karena ia belum siap kehilangan persahabatan yang sudah mereka bangun bertahun-tahun.

Waktu terus berjalan.
Masa SMA berganti menjadi masa kuliah.
Seragam putih abu-abu berubah menjadi toga wisuda.

Andi Nizar memilih jalan hidup sebagai seorang jaksa. Tasya menapaki dunia akademik dan menjadi dosen.

Mereka tinggal di kota yang berbeda. Kesibukan membuat pertemuan menjadi semakin jarang.
Namun ada sesuatu yang tetap bertahan.
Perasaan itu.
Perasaan yang dulu lahir di halaman sekolah.

Mereka tidak menjalani hubungan yang penuh drama. Tidak ada kata-kata manis yang diumbar setiap hari. Tidak ada janji-janji besar yang sulit ditepati.
Yang ada hanyalah kesetiaan sederhana.

Pesan singkat yang datang di waktu yang tepat.
Doa yang saling menyebut nama dalam sujud.
Dan keyakinan yang terus dipelihara.
"Kita pelan-pelan saja ya..."
"Sampai Allah memudahkan."
Kalimat itu menjadi pengikat yang tak terlihat.
Pengikat yang jauh lebih kuat daripada ribuan janji kosong.

Akhirnya, doa menemukan jalannya.
Apa yang bertahun-tahun hanya hidup dalam harapan perlahan menjelma menjadi kenyataan.

Tanggal 22 Juni 2026 menjadi hari yang mereka tunggu.
Hari yang kelak akan dikenang sebagai salah satu tanggal paling sakral dalam hidup mereka.

Di Masjid Agung Watampone, Andi Nizar duduk di hadapan penghulu.
Wajahnya tenang, meski di dalam dada berdesakan berbagai rasa yang sulit dijelaskan.
Bahagia.
Haru.
Syukur.
Dan sedikit gugup.

Di luar ruangan, Tasya menunggu.
Ia tampak anggun dalam balutan busana pengantin.

Senyumnya masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Senyum yang pertama kali membuat seorang remaja SMA kehilangan kata-kata.
Senyum yang menenangkan.
Senyum yang menguatkan.

Andi Nizar tiba-tiba teringat pagi di halaman sekolah itu.
Pagi ketika ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Pagi ketika keberaniannya runtuh sebelum sampai ke tujuan.

Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia akhirnya menemukan kata-kata yang dulu gagal diucapkan.
Bukan lagi sekadar pernyataan cinta.
Melainkan janji seumur hidup.

Gedung serbaguna Masjid Agung dipenuhi tamu undangan.
Nuansa budaya Bugis membalut seluruh ruangan dengan keanggunan yang khas.

Akad nikah yang khidmat berubah menjadi pesta syukur yang hangat.

Andi Nizar melangkah gagah mengenakan pakaian adat Bugis berwarna hijau zamrud. Di kepalanya tersemat sigera keemasan—mahkota tradisional Bugis yang melambangkan kehormatan, martabat, dan kebesaran.

Dalam balutan busana itu, ia tampak seperti seorang pangeran yang keluar dari lembaran legenda tua tanah Bugis.

Sementara Tasya hadir dengan pesona yang meneduhkan.
Cantiknya bukan hanya pada riasan wajah atau kemewahan busana.
Ada cahaya kebahagiaan yang memancar dari matanya.

Cahaya seorang perempuan yang akhirnya tiba di pelabuhan yang telah lama ditujunya.
Para tamu tersenyum.
Keluarga menitikkan air mata haru.
Doa-doa dipanjatkan.
Dan di tengah semua itu, Andi Nizar tersadar akan satu hal.

Ternyata ada surat yang tidak harus selesai pada hari ia menulisnya.
Ada kalimat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan titik akhirnya.

Surat yang dulu gagal ia sampaikan di halaman sekolah itu akhirnya selesai pada hari ini.
Bukan dengan kata "aku cinta kamu".
Melainkan dengan sebuah ijab kabul.

Dan sebuah janji:
Untuk berjalan bersama.
Untuk saling menjaga.
Untuk tetap setia.
Sampai akhir usia. *

Bone, 22 Juni 2026. ***