wisatawan asing
Minggu, 26 Juli 2026 22:57 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA (Floresku.com) – Kekayaan budaya Flores kembali tampil di panggung internasional. Tarian tradisional dari Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka Perayaan Ekaristi Penutupan Sidang Raya (Plenary Assembly) ke-12 Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, Minggu (26/7).
Penampilan para penari dengan balutan busana adat Flores menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus semarak. Diiringi alunan musik tradisional yang khas, gerak tari yang anggun menyambut para kardinal, uskup, imam, biarawan-biarawati, serta delegasi Gereja dari berbagai negara Asia yang memenuhi Katedral Jakarta.
Tarian pembuka itu bukan sekadar hiburan sebelum perayaan dimulai. Kehadirannya menjadi simbol keramahan masyarakat Indonesia sekaligus memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya lokal dapat berpadu harmonis dengan liturgi Gereja Katolik.
Bagi para tamu dari berbagai negara Asia, penampilan tersebut menjadi pengalaman yang memperkenalkan wajah Indonesia yang majemuk, dengan Flores sebagai salah satu representasi kekayaan budaya Nusantara.
Perayaan Ekaristi penutupan menjadi puncak Sidang Raya FABC XII yang berlangsung selama sepekan di Jakarta dengan tema tentang Gereja sinodal sebagai pembangun jembatan di tengah masyarakat Asia yang majemuk. Ribuan umat bersama para uskup Asia mengikuti liturgi yang berlangsung khidmat.
Baca juga:
Nuansa Flores tidak berhenti pada tarian pembuka. Sejak para kardinal dan uskup tiba di kompleks Katedral, mereka juga disambut Tari Jai dari Kabupaten Ngada, Flores, yang dikenal sebagai tarian kebersamaan dan ungkapan sukacita. Kehadiran tarian tersebut memperlihatkan kepada para pemimpin Gereja Asia bahwa Flores memiliki warisan budaya yang hidup dan terus dirawat oleh masyarakatnya.
Bagi masyarakat Flores, tampilnya kesenian daerah dalam perayaan internasional seperti Sidang Raya FABC merupakan kebanggaan tersendiri. Budaya Flores tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari wajah Gereja Indonesia yang mampu berdialog dengan berbagai bangsa melalui seni, tradisi, dan nilai-nilai persaudaraan.
Selama Ekaristi, liturgi juga diperkaya dengan berbagai unsur budaya Nusantara. Doa Umat didaraskan dalam sejumlah bahasa daerah, sementara prosesi persembahan diiringi tarian dari Kalimantan. Seluruh rangkaian tersebut mencerminkan semangat inkulturasi, yakni bagaimana Injil dihayati dan dirayakan dalam kekayaan budaya Indonesia.
Penutupan Sidang Raya FABC XII diakhiri dengan langkah simbolis seluruh delegasi menuju Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahmi. Momen itu menegaskan komitmen Gereja di Asia untuk terus membangun dialog, persaudaraan lintas agama, dan perdamaian.
Bagi Flores, kehadiran tarian tradisional dalam perayaan bersejarah tersebut menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu.
Di hadapan para pemimpin Gereja Katolik se-Asia, Flores menunjukkan bahwa tradisi leluhur tetap hidup, mampu berbicara kepada dunia, dan menjadi jembatan yang mempertemukan iman, budaya, dan persaudaraan antarmanusia. (Sandra). ***