Tidur di Teras Rumah Pascagempa, Warga Kuwuwire Datangi BPBD Minta Tenda

Jumat, 21 Agustus 2026 08:31 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

tenda dararuta.jpg
Tenda darurat (kiri) dan Opa Uan dan Herman Heri Raja warga Dusun Kuwuwire mendatangi Kantor BPBD Kabupaten Sikka Maumere, Kamis (20/8). (Silvia)

MAUMERE (Floresku.com) – Sejumlah warga RT 014/RW 005, Dusun Kuwuwire, Desa Lepolima, Kecamatan Alok Timur. Kabupaten Sikka, mendatangi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka di Maumere, Kamis (20/8).

Mereka datang bukan untuk mengeluh, tetapi membawa kebutuhan mendesak warga yang hingga kini masih memilih tidur di luar rumah setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.

Dua warga, Evaristus Siprianus yang akrab disapa Opa Uan dan Herman Heri Raja, menjadi perwakilan warga untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami sekaligus meminta bantuan tenda dan perlengkapan pengungsian.

Takut Tidur di Dalam Rumah

Opa Uan mengatakan, sejumlah rumah warga mengalami keretakan akibat gempa. Kondisi tersebut membuat warga khawatir untuk kembali tidur di dalam rumah, terutama pada malam hari.

“Tujuan utama kami datang ke sini untuk minta tenda dan tikar. Karena selama gempa kami tidur di teras rumah. Rumah kami ada yang retak dan itu yang membuat kami takut tidur malam di dalam rumah,” ujar Opa Uan.

Menurut dia, warga terpaksa membuat tempat berteduh seadanya di sekitar rumah. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena warga harus menghadapi udara malam yang dingin.

Baca juga:

Herman Heri Raja menambahkan, kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga, terutama anak-anak dan anggota keluarga yang harus tidur di tempat terbuka.

“Kami khawatir dengan kesehatan anggota keluarga dan tetangga yang ikut tidur di tenda yang dibuat ala kadarnya,” ujar Heri.

“Udaranya kalau malam itu sangat dingin,” lanjutnya.

65 Jiwa Masih Membutuhkan Bantuan

Berdasarkan catatan yang dibawa warga, kebutuhan tersebut mencakup sekitar 18 kepala keluarga dengan 65 jiwa. Di antara mereka terdapat tiga bayi yang membutuhkan perhatian khusus.

Dalam catatan permohonan bantuan, warga mencantumkan kebutuhan berupa tenda, terpal, tikar, perlengkapan tidur, sembako, popok bayi, serta obat-obatan.

Bagi warga, bantuan tenda menjadi kebutuhan paling mendesak agar mereka tidak lagi harus tidur di teras atau tempat terbuka dengan perlindungan seadanya.

BPBD Sebut Masih Tahap Pendataan

Herman mengatakan, kedatangan mereka ke Kantor BPBD Kabupaten Sikka mendapat respons baik dari petugas bagian pendataan.

“Tadi kami sudah ke sana (Kantor BPBD) dan oleh petugas bagian pendataan kami diterima dengan baik. Mereka menyampaikan silakan menunggu. Ini baru pendataan awal,” ujar Heri, menirukan penjelasan petugas BPBD.

Ia berharap pendataan tersebut dapat segera ditindaklanjuti dengan bantuan yang dibutuhkan warga di Dusun Kuwuwire.

Warga tidak hanya membutuhkan tempat berlindung sementara, tetapi juga perlengkapan dasar untuk menjaga kesehatan dan keberlangsungan hidup selama kondisi pascagempa belum sepenuhnya aman.

Warga Tetap Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Opa Uan dan Heri berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap warga yang memilih mengungsi secara mandiri karena rumah mereka mengalami keretakan atau dinilai belum aman untuk ditempati pada malam hari.

“Kami hanya minta bantuan sesuai kebutuhan. Yang paling penting tenda dan tikar supaya warga bisa tidur lebih aman,” kata Heri.

Mereka berharap bantuan dapat segera direalisasikan, terutama bagi keluarga yang memiliki bayi dan kelompok warga yang harus bertahan menghadapi dinginnya malam di tempat pengungsian sementara.

Bagi warga Kuwuwire, gempa mungkin telah berlalu, tetapi rasa takut dan kebutuhan untuk mendapatkan tempat berlindung yang layak masih mereka rasakan hingga kini. (Silvia). ***