Tokoh Muda Riung Desak BPOLBF Pakai Nama Lokal untuk Festival di Riung

Minggu, 09 Agustus 2026 20:22 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

lendes.jpg
Tokoh muda Riung, Johanes Lendes (Facebook.com)

 RIUNG (Floresku.com) – Penamaan "Festival Komodo Riung" yang akan digelar di Pantai Watulajar, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada pada 11-13 Agustus 2026 menuai penolakan dari masyarakat setempat.

Salah seorang tokoh muda Riung, Johanes Lendes, menyampaikan keberatan secara terbuka terkait penggunaan nama tersebut. 

"Kali ini saya sebagai orang Riung menyampaikan penolakan sekaligus keberatan atas penggunaan nama 'Festival Komodo Riung' dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata di Kecamatan Riung tepatnya di Pantai Watulajar," ujar Johanes melalui akun facebooknya, Kamis (6/8).

Pesona 17 Pulau Riung

Dinilai Mengaburkan Identitas Riung

Menurut Johanes, penamaan sebuah festival bukan sekadar label promosi. Nama itu adalah representasi jati diri daerah yang akan dikenang masyarakat, wisatawan, bahkan dunia internasional.

"Penamaan tersebut tidak mencerminkan identitas, sejarah, maupun kekayaan ekologis Riung yang sesungguhnya," tegasnya.

Ia menilai, selama ini nama "Komodo" sudah melekat kuat sebagai identitas Kabupaten Manggarai Barat, khususnya Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo.

Binatang purba ‘Varanus Komodo’  hidup di Pulau Komodo dan Rinca, Manggarai Barat. Binatang purba serupa  juga hidup  ada di wilayah Riung dan sekitarnya. Masyarakat  Riung menyebutnya: ‘Mbou’ . (Sumber: Instagram)

 "Ketika nama yang sama digunakan di Riung, justru akan mengaburkan identitas Riung sebagai destinasi wisata yang memiliki karakter, sejarah, dan kekayaan alam sendiri," jelasnya.

Riung sendiri dikenal memiliki daya tarik berbeda. Ada gugusan 17 Pulau Riung, budaya, dan kekayaan laut yang menjadi ciri khas.  

Karena itu, Johanes mendorong panitia menggunakan nama yang lebih mencerminkan nilai-nilai lokal.

Harap Ada Dialog dengan Masyarakat

Johanes berharap BPOLBF bersama pemerintah daerah dan panitia pelaksana membuka ruang dialog dengan masyarakat Riung sebelum menetapkan nama event.

"Kami tidak menolak adanya festival. Kami justru mendukung penuh. Tapi mari kita beri nama yang membanggakan orang Riung dan memperkenalkan Riung apa adanya ke dunia," katanya.

Ia menekankan, promosi wisata harus mengangkat keunikan masing-masing daerah, bukan menumpang nama daerah lain.

"Biarkan Komodo tetap di Manggarai Barat. Dan biarkan Riung punya nama dan cerita sendiri," tutup Johanes.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BPOLBF belum memberikan tanggapan resmi terkait keberatan tersebut. 

Festival Komodo Riung sendiri masuk dalam Calendar of Event BPOLBF Agustus 2026. (Mike). ***