Uskup Labuan Bajo Datangi Korban Gempa di Werang, Bawa Bantuan dan Penguatan

Senin, 24 Agustus 2026 13:28 WIB

Penulis:Redaksi

sukubapabtnflores.jpeg
Uksup Labuan Bajo Maksimus bersama tim relawan membagikan bantuan di Paroki Werang (Vinsen Patno)

WERANG, FLORESKU.COM – Delapan hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, luka dan trauma masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Di tengah situasi tersebut, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr., hadir langsung menyapa dan menguatkan umat terdampak di Paroki Santo Klaus Werang.

Uskup Maksimus datang ke Paroki Werang pada Sabtu (22/8), didampingi Ekonom Keuskupan Labuan Bajo, Romo Martin Wiliam, Pr., dan perwakilan Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Ignasius Haryanto, Pr. Rombongan diterima Pastor Paroki Santo Klaus Werang, Romo Servulus Juanda, Pr.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda pastoral. Uskup hadir untuk melihat secara langsung kondisi umat, mendengarkan pengalaman mereka, serta memberikan penguatan kepada keluarga-keluarga yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah gempa.

Di sejumlah lokasi, warga masih memilih tidur di tenda-tenda sederhana di sekitar rumah karena khawatir terhadap gempa susulan. Aktivitas masyarakat juga belum sepenuhnya normal. Sebagian rumah mengalami kerusakan, sekolah belum berjalan seperti biasa, dan sejumlah perkantoran masih menata kembali aktivitasnya.

Ribuan Warga Terdampak

Data sementara Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo hingga Kamis (21/8/2026) menunjukkan dampak gempa cukup luas di wilayah Keuskupan Labuan Bajo.

Sebanyak 2.174 rumah terdampak, terdiri dari 1.435 rumah rusak berat, 420 rusak sedang, dan 319 rusak ringan. Selain itu, 14 gereja mengalami kerusakan, dengan tujuh gereja rusak berat, lima rusak sedang, dan dua rusak ringan.

Baca juga:

Gempa juga menyebabkan 7.420 jiwa mengungsi, dua orang meninggal dunia, dan empat orang mengalami luka berat.

Hampir seluruh paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda. Kevikepan Pacar dan sebagian Kevikepan Wae Nakeng termasuk wilayah yang mengalami dampak cukup besar.

Caritas dan Paroki Bergerak Bersama

Dalam sepekan terakhir, hampir seluruh paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo telah dikunjungi dan menerima bantuan tanggap darurat dari Caritas Keuskupan Labuan Bajo.

Respons tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan paroki-paroki yang mengirimkan data umat terdampak sekaligus kebutuhan mereka di lapangan.

Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, mengatakan aksi tanggap darurat dilakukan melalui kolaborasi antara Caritas dan paroki.

“Caritas keuskupan menyediakan bantuan tanggap darurat dan paroki menambahnya. Kita berusaha membangun gerakan belarasa dan aksi solidaritas dari bawah (umat),” ujarnya.

Gerakan tersebut membuat umat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga terlibat dalam aksi solidaritas. Para pastor mendampingi, relawan turun ke lapangan, sementara Caritas menghubungkan berbagai bentuk kepedulian menjadi gerakan bersama.

Perhatian untuk Kelompok Rentan

Uskup Mgr. Maksimus Regus juga mengingatkan agar respons terhadap bencana tidak berhenti pada kebutuhan umum. Anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia membutuhkan perhatian khusus karena menghadapi tantangan yang berbeda dalam situasi bencana.

“Kita harus membantu keluarga-keluarga yang paling terdampak dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar yang mereka perlukan, terutama peralatan tenda untuk bernaung, sembako, dan obat-obatan,” kata Mgr. Maksimus.

Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan khusus anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia, termasuk pendampingan trauma healing bagi anak-anak yang membutuhkan.

Gereja Hadir Bersama Umat

Dalam kunjungannya, Mgr. Maksimus juga hadir di tengah umat terdampak di Teong Toda dan SMP-SMA St. Klaus Werang, Paroki St. Klaus Werang. Ia membawa sembako dan perlengkapan tidur bagi masyarakat yang membutuhkan.

Namun, kehadiran Uskup tidak berhenti pada bantuan yang dibawa. Ia juga datang untuk mendengarkan dan meneguhkan umat.

“Kita mesti melewati situasi gempa ini dalam kebersamaan sebagai keluarga, umat, dan Gereja,” ujar Mgr. Maksimus.

Menurutnya, situasi sulit yang dihadapi masyarakat justru dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kasih dan menggerakkan solidaritas.

“Kita percaya Tuhan tidak meninggalkan kita. Dialah harapan kita satu-satunya, yang membawa kita ke luar dari situasi sulit ini,” ungkapnya.

Kehadiran Uskup bersama Caritas, para pastor, relawan, dan umat menunjukkan bahwa Gereja ingin berjalan bersama masyarakat, terutama ketika mereka berada dalam penderitaan.

Gereja tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga mendengarkan, menguatkan, dan menemani umat agar mereka tidak menghadapi penderitaan seorang diri.

Di tengah rumah-rumah yang rusak dan kehidupan yang belum sepenuhnya pulih, semangat kebersamaan menjadi kekuatan penting bagi masyarakat untuk bangkit.

Gempa boleh mengguncang tanah Flores, tetapi solidaritas dan harapan tidak boleh ikut runtuh. (Vinsen Patno)