Wamenpar: Perempuan Jadi Kunci Kemajuan Pariwisata Indonesia

Selasa, 28 Juli 2026 20:58 WIB

Penulis:Redaksi

wmnne.jfif
Wamenpar saat membuka Women's Leadership Forum 2026 bertema "Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi" di Kantor Lembaga Administrasi Negara Jakarta, Senin (27/7). (Biro Kom. Kemenpar)

JAKARTA (Floresku.com) – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan perempuan merupakan penggerak utama ekosistem pariwisata Indonesia. 

Peran mereka tidak hanya mendominasi tenaga kerja di sektor ini, tetapi juga menjadi motor penggerak UMKM, penjaga budaya, hingga pemimpin komunitas yang memperkuat daya saing destinasi wisata.

Pernyataan tersebut disampaikan Ni Luh Puspa saat membuka Women's Leadership Forum 2026 bertema Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi di Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Senin (27/7).

Menurut Wamenpar, data UN Tourism menunjukkan bahwa 54 persen tenaga kerja di sektor pariwisata dunia adalah perempuan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perempuan menjadi tulang punggung industri pariwisata, termasuk di Indonesia.

"Penggerak utama sektor pariwisata itu adalah perempuan. Data UN Tourism juga menunjukkan bahwa 54 persen pekerja di sektor pariwisata adalah perempuan," ujar Ni Luh.

Baca juga: 

Ia menjelaskan, perempuan hadir hampir di seluruh rantai nilai industri pariwisata. Mulai dari pengelola desa wisata, pemilik homestay, pelaku UMKM kuliner dan kriya, penenun, perajin, pemandu wisata, hingga pelestari seni dan tradisi yang menjadi identitas berbagai destinasi di Indonesia.

Menurut Ni Luh, kekuatan utama pariwisata Indonesia bertumpu pada kekayaan alam dan budaya. Dalam dua aspek tersebut, perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar, baik sebagai pelaku usaha, pemimpin komunitas, penggerak UMKM, maupun penjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

"Perempuan di sektor pariwisata memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat internasional," katanya.

Ia menambahkan, di banyak desa wisata perempuan menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Mereka mengelola homestay, mengembangkan kuliner khas daerah, menghasilkan kerajinan dan kain tenun tradisional, menjadi pemandu wisata, sekaligus menjaga tradisi budaya yang menjadi daya tarik wisata Indonesia.

Meski demikian, Ni Luh mengakui masih terdapat tantangan dalam mewujudkan kesetaraan di sektor pariwisata. Walaupun jumlah perempuan sangat besar, kesempatan mereka untuk menduduki posisi kepemimpinan maupun memperoleh penghasilan yang setara masih belum sepenuhnya terwujud.

Sebagai contoh, di industri perhotelan perempuan masih lebih banyak menempati posisi tertentu, seperti pemasaran, sementara peluang untuk menjadi pimpinan utama masih relatif terbatas.

"Masih ada anggapan perempuan hanya menjadi pelengkap. Padahal tanpa perempuan, ekosistem pariwisata tidak akan bergerak," tegasnya.

Karena itu, Wamenpar mendorong hadirnya kebijakan afirmatif yang membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi strategis di sektor pariwisata. Menurutnya, dukungan terhadap perempuan harus diwujudkan melalui kebijakan nyata yang memberikan kesempatan kepemimpinan secara setara.

Ni Luh juga menilai Kementerian Pariwisata telah menunjukkan komitmen terhadap kesetaraan gender. Saat ini, baik jabatan Menteri Pariwisata maupun Wakil Menteri Pariwisata sama-sama diemban oleh perempuan.

Menurutnya, pemimpin di sektor pariwisata tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus menjadi kolaborator, mengorkestrasi berbagai pemangku kepentingan, sekaligus menjadi katalisator kemajuan pariwisata.

"Menterinya perempuan dan wakil menterinya juga perempuan. Jadi, kami di sana sangat menjunjung tinggi kolaborasi. Pemimpin pariwisata adalah pemimpin yang menjadi kolaborator, orkestrator, dan juga katalisator," ujarnya.

Menutup sambutannya, Ni Luh mengajak seluruh perempuan untuk terus memperkuat jejaring kepemimpinan dan saling mendukung agar semakin banyak perempuan berkontribusi dalam pembangunan pariwisata nasional.

"Memberikan akses kepada perempuan dan memberikan kepercayaan kepada perempuan bukan hanya soal menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpin. Lebih dari itu, kita sedang menciptakan masa depan, membuka peluang, dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik," pungkasnya. (Sandrra). ***