sengketa
Sabtu, 30 Agustus 2025 13:29 WIB
Penulis:redaksi
NANGAMBOA (Floresku.com) – Warga Desa Nataute, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, kembali mengeluhkan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang belum memberikan manfaat nyata.
Beberapa dusun bahkan belum terlayani air bersih, meski proyek digarap sejak 2024 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Program Pamsimas.
Kepala Desa Nataute, Timotius Negha (50), meninjau lokasi pada Januari lalu dan memperlihatkan pipa distribusi yang belum terpasang.
“Air harus mengalir sampai ke Nangamboa. Ini sudah kali ketiga proyek dilaksanakan, tapi tetap tidak sampai ke masyarakat,” ujarnya seperti ditulis VoxNTT (30/1).
Menurut Timotius, dari 90 rumah yang direncanakan mendapat sambungan rumah (SR), hanya 55 unit terlayani, sementara 35 rumah tetap kering karena pipa distribusi belum tersambung dari bak reservoar.
Kondisi di lapangan bervariasi. Warga Dusun Malasera, seperti Yasinta, mengaku suplai air lancar meski pipa kecil, dan mereka rutin membersihkan sumur sumber air di Kopodopho. Sebaliknya, warga Nangamboa kecewa.
“Di depan rumah ada dua pipa, tapi keduanya tidak keluar air. Mau dana desa atau dana provinsi, bagi kami intinya air harus tersedia,” ujar seorang ibu rumah tangga yang enggan disebut namanya.
Sekretaris Desa Nataute, Krisforus Lerang (Forus), menjelaskan bahwa beberapa proyek air minum sedang diaudit oleh Inspektorat Nagekeo. Dana desa untuk sambungan rumah belum dieksekusi karena menunggu hasil pemeriksaan. “Semua harus sesuai laporan dan pemanfaatan agar tidak ada temuan. Jika ada temuan, hal itu bisa terlihat sebagai indikasi penyalahgunaan dana desa,” jelasnya.
Menurut Forus, kendala utama adalah debit sumber air yang rendah. Beberapa dusun seperti Bhondukado, Malasera, Rerawete, dan Ndudi sebagian sudah terpenuhi, sementara satu dusun di Nangamboa belum terlayani.
“Tahun ini kami alokasikan anggaran tambahan untuk meningkatkan debit air. Pelaksanaan 2025 masih menunggu audit selesai, baru dilakukan rapat prapelaksanaan kegiatan,” tambahnya.
Proyek Pengembangan Jaringan Distribusi dan Sambungan Rumah ini dikerjakan CV Shilla asal Ende dengan anggaran lebih dari Rp 900 juta dan diawasi CV El Emunah. Beberapa RT, terutama RT 08 hingga RT 10, menemukan pipa bocor dan terbuka. Rencana penggunaan pipa bekas Pamsimas 10 tahun lalu menambah kontroversi.
Sebelumnya, anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari Partai NasDem, Anton S. Wangge, mengecam proyek yang dianggap tidak matang dan berpotensi dikerjakan asal-asalan. “Air adalah kebutuhan dasar. Jika masalah ini tidak segera ditangani, DPRD akan mendorong kasus ini ke aparat penegak hukum,” tegas Anton.
Hingga kini, ketidakjelasan penyelesaian proyek membuat warga resah, dan ancaman aksi demonstrasi tetap muncul jika akses air bersih tidak segera diberikan. (Silvia). ***
3 hari yang lalu