Bank
Sabtu, 12 September 2026 09:14 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus didorong untuk naik kelas sebagai destinasi pariwisata internasional.
Namun, pertumbuhan wisatawan dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan fasilitas pendukung. Mulai dari ketersediaan kamar hotel, kapasitas bandara, marina, hingga pasokan bahan bakar masih menjadi pekerjaan rumah.
Hal itu disampaikan Senior Managing Executive Regional Enterprise Banking Bank Nobu Labuan Bajo, Werry Tan, dalam Kadin Diplomatic Economic Breakfast yang berlangsung di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, sejumlah duta besar dan anggota komunitas diplomatik, serta jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Werry yang memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha sekaligus bankir asal Labuan Bajo mengatakan, potensi pariwisata daerah itu sudah tidak perlu diragukan.
Baca juga:
“Labuan Bajo adalah National Geographic di atas dan di bawah permukaan air,” kata Werry.
Menurut dia, kekuatan Labuan Bajo tidak hanya terletak pada panorama pulau dan laut, tetapi juga kekayaan bawah laut serta keramahan masyarakatnya.
Perkembangan industri pariwisata juga semakin terlihat. Sejumlah ekspatriat dari Eropa dan Amerika Serikat telah membuka berbagai usaha, mulai dari operator selam, restoran, penginapan hingga jasa wisata.
Bahkan, kata Werry, sejumlah restoran di Labuan Bajo telah mampu menghadirkan standar pelayanan yang tidak kalah dengan destinasi internasional.
Werry menyebut terdapat empat hal utama yang perlu mendapat perhatian apabila Labuan Bajo ingin benar-benar naik kelas.
Pertama, penambahan kamar hotel.
Menurut Werry, jumlah kamar hotel yang tersedia saat ini masih kurang dari 3.000 kamar. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan potensi pertumbuhan wisatawan pada masa mendatang.
Karena itu, investasi pembangunan akomodasi perlu terus didorong, baik hotel kelas menengah maupun hotel berstandar internasional.
Penambahan kamar bukan hanya untuk menampung lebih banyak wisatawan. Kapasitas akomodasi yang memadai juga diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di Labuan Bajo.
Kedua, perluasan bandara dan perpanjangan landasan pacu.
Werry menilai konektivitas udara menjadi faktor penting bagi Labuan Bajo untuk memperkuat posisinya di pasar wisata internasional.
Bandara perlu memiliki kapasitas yang lebih besar sehingga penerbangan internasional langsung dapat ditingkatkan, termasuk kemampuan menerima pesawat berbadan lebar.
Dengan konektivitas yang semakin baik, waktu tempuh wisatawan dapat dipangkas dan akses dari berbagai negara menjadi lebih mudah.
Ketiga, pembangunan marina internasional.
Menurut Werry, kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo kini telah menjadi jalur berbagai kapal wisata, yacht, kapal pinisi dan kapal premium.
Jumlahnya disebut telah mencapai lebih dari 100 kapal dan diperkirakan mendekati 200 kapal.
Namun, Labuan Bajo belum memiliki marina internasional terpadu yang menyediakan berbagai kebutuhan dalam satu kawasan, seperti tempat sandar, perawatan kapal, pengisian bahan bakar, pelayanan teknis, hotel dan restoran.
“Saya melihat ini sebagai peluang yang sangat besar. Labuan Bajo dapat menjadi salah satu pusat wisata kapal pesiar dan yacht terkemuka di Asia Tenggara,” ujarnya.
Menurut Werry, keberadaan marina internasional akan membuka peluang baru bagi Labuan Bajo.
Wisatawan dapat terbang langsung dari Singapura, Thailand, Malaysia maupun negara lainnya, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan yacht untuk menjelajahi kawasan Komodo dan pulau-pulau di sekitarnya.
Keempat, memperkuat pasokan bahan bakar.
Werry mengatakan ketersediaan bahan bakar merupakan bagian penting dari infrastruktur pariwisata Labuan Bajo yang tidak boleh diabaikan.
Pasokan bahan bakar pada waktu tertentu masih menghadapi kendala. Selain itu, lokasi fasilitas penyimpanan bahan bakar dinilai belum ideal untuk mendukung kebutuhan kawasan wisata yang terus berkembang.
Karena itu, dibutuhkan depot bahan bakar yang lebih dekat dan memiliki pasokan yang lebih andal.
Ketersediaan bahan bakar yang konsisten akan membantu operator kapal, perusahaan transportasi, hotel dan pelaku usaha pariwisata menjalankan kegiatan secara lebih efisien.
Werry menilai tantangan Labuan Bajo saat ini bukan lagi bagaimana menciptakan permintaan wisatawan.
Menurutnya, permintaan tersebut sudah tersedia. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah dan dunia usaha menghadirkan investasi serta infrastruktur yang mampu mengejar pertumbuhan tersebut.
“Pekerjaan utama pemerintah dan dunia usaha adalah menghadirkan investasi serta infrastruktur yang mampu menopang pertumbuhan tanpa mengorbankan kualitas pelayanan dan daya tarik alamnya,” demikian inti pandangan Werry.
Ia juga mengapresiasi dukungan Menteri Pariwisata dan jajaran Kementerian Pariwisata terhadap pengembangan Labuan Bajo.
Werry mengatakan pelaku usaha dan masyarakat di daerah siap berkolaborasi dengan pemerintah serta investor swasta.
Kepada para duta besar yang hadir dalam forum tersebut, Werry juga mengundang mereka untuk datang langsung ke Labuan Bajo.
“Bagi para duta besar yang belum pernah berkunjung ke Labuan Bajo, saya mengundang Anda untuk datang dan melihatnya secara langsung,” pungkasnya. (Sandra/Sumber InvestorTrust). ***