Gedung SDK Malasera Rusak Berat, Yapersukna dan Pemda Nagekeo Diharapkan Turun Tangan Memperbaikinya

redaksi - Jumat, 07 Januari 2022 10:55
Gedung SDK Malasera Rusak Berat, Yapersukna dan Pemda Nagekeo Diharapkan Turun Tangan MemperbaikinyaGedung SDK Malasera, Desa Nata Nata Ute, Kecamatan Nagaroro, Kabupaten Nagekeo, rusak parah. (sumber: www.youtube/tvri)

MALASERA (Floresku.com) - Para siswa dan guru SDK Malasera berharap Yayasan Persekolahan Umat Katolik Nagekeo (Yapersukna) dan pemerintah Kabupaten Nagekeo turun tangan  memperbaiki gedung sekolah mereka yang rusak berat karena dimakan usia.

Permintaan itu disampaikan oleh para guru, siswa dan komite sekolah  karena kondisi gedung sekolah yang rusak berat. 

Merilis TVRI (6/1), para guru dan siswa SDK Malasera, Desa Nata Ute, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo setiap hari melakukan kegiatan belajar mengajar di bawah ancaman bahaya gedung yang nyaris roboh. 

Kepada TVRI, salah seorang guru, Sisilia Misa, mengatakan bahwa mereka terpaksa melakukan kegiatan belajar mengajar di bawah gedung yang rusak parah karena memang tidak ada pilihan lagi.

Sementara itu Kepala SDK Malasera, Anastasia Due saat ditemui  rakyatntt.com, Sabtu, 11 Desember lalu di ruang kerjanya menungkapkan harapannya akan adanya pihak yang segera turun tangan untuk memperbaiki  kerusakan. Sebab, ia khawatir gedung sekolah tersebut  roboh sewaktu-waktu .

“Proses belajar dan mengajar siswa sangat terganggu saat proses belajar mengajar. Para guru-guru di sini juga kuatir saat proses belajar mengajar.  Mereka kuatir atap dan plafon ambruk. Bahkan, pernah terjadi  plafonnya ambruk,” ujarnya.

Anastasia berharap pemerintah bisa mendengar aspirasi mereka agar siswa-siswi dapat belajar dengan aman. 

“Pernah Bapak Wakil Bupati Nagekeo ke sini (Malasera) untuk melihat langsung kondisi sekolah kami. Soalnya satu-satunya SD di wilayah Desa Nata Ute ada di Malasera. Kalau tidak segera direhab kami mungkin meminjam ruang Kapela sebagai tempat belajar dan mengajar darurat. Kalau tidak ya di lapangan bola kaki,” tutur Anastasia.

Masalah yang dihadapi SDK Malasera tidak hanya  gedung sekolah. Kondisi rumah guru juga rusak parah. Padahal rumah guru sangat dibutuhkan oleh beberapa guru yang berdomisili di tempat yang jauh dari sekolah. 

Sementara Ketua Komite Kristoforus Leran mengaku bahwa sejauh ini siswa-siswi tidak belajar secara nyaman.

“Sangat tidak nyaman dan bersiko tinggi. Sebab bisa saja terjadi ketika mereka sedang  tiba-tiba platfon Gedung jatuh atau bahkan gedungnya roboh,” ujarnya kepada rakyatntt.com.

Kristoforus mengatakan saat musim hujan tiba, seringkali kegiatan belajar ditiadakan. 

Pasalnya, para siswa yang datang dari beberapa kampung seperti Ndudi, Rerawete, Komporombo dan Bhodukado harus melewati sungai  air. Kalau hujan deras yang menyebabkan sungai meluap,  para siswa itu  tidak bisa menyeberanginya karena tidak ada jembatan.

“Paling, para siswa dari Ndangakapa yang bisa ke sekolah saat ada banjir karena sudah ada jembatan gantung,” katanya.

Perlu diketahui, SDK Malasera awalnya bernama SDK Kojamata karena berdomisili di Kampung Kojamata. Sekolah ini berdiri sejak pada 1947, dan baru pada tahun 1959 pindah ke Kampung Malasera. 

Hingga akhir 1970-an namanya masih SDK Kojamata, baru pada 1980-an berubah namanya menjadi SDK Malasera.

Hingga tahun 1977, sekolah ini menggunakan gedung darurat dibangun dari bahan kayu, berdindinng pelepah gebang, beratapkan alang-alang dan berlantai tanah. 

Gedung permanen pertama (tiga ruang) mulai dibangun  pada 1976 dan baru dapat digunakan menjelang akhir tahun 1976. 

Gedung yang ada sekarang baru dibangun pada pertengahan 1990-an dan sudah dua kali direhab, tapi hanya bagian atap dan plafon. (MA)***

Editor: redaksi

RELATED NEWS