Yesus
Sabtu, 07 November 2026 14:15 WIB
Penulis:Redaksi

HOMILI: Minggu 32A, 08 November 2026: (Keb 6:13 – 17; 1Tes 4:13 – 18; Mat 25:1-13)
Oleh Pater Gregor Nule, SVD
Ilustrasi
“Suatu sore ketika sedang berjalan-jalan, Frans dan Anton melihat seorang ibu tua yang berusaha menawarkan jualannya kepada setiap orang yang lewat. Namun, sayuran yang dijualnya sudah layu dan warnanya kekuning-kuningan . Anton, tanpa mengatakan apa pun, membeli 3 ikat. Ibu tua itu begitu senang, tetapi dengan sangat menyesal menjelaskan bahwa beberapa minggu terakhir ini air di sumur sangat berkurang maka ia tidak bisa menyiram tanaman di kebunnya dengan baik. Ia minta maaf.
Setelah tinggalkan ibu tua itu Frans bertanya kepada Anton, “Apakah kamu akan makan sayuran ini di rumah?” “Tidak”, sayuran ini tidak pantas dimakan lagi oleh manusia”, kata Anton.
“Lantas, kenapa kamu membelinya?”, tanya Frans lagi. “Karena sayuran ini tidak mungkin akan dibeli oleh siapa pun juga. Jika saya tidak membelinya ibu tua itu mungkin tidak akan mendapatkan penghasilan apa pun hari ini”, jelas Anton.
Frans sangat terkesan dengan kebaikan hati Anton, maka ia minta supaya mereka kembali ke tempat ibu tua itu dan membeli sisa sayurannya. Orang tua itu begitu bergembira dan berkata, “Hari ini saya sangat beruntung karena kebaikan hati anak berdua. Seandainya sayuran ini tidak terjual maka hanya akan berguna untuk makanan babi. Terima kasih banyak, dan semoga Tuhan memberkati anak berdua”.
Refleksi
Bacaan pertama hari ini mewatakan kebijaksanaan sebagai Sabda Allah atau Allah yang selalu hadir di tengah kehidupan manusia. Maka mencari kebijaksanaan berarti berupaya bertemu dengan Allah yang memanggil manusia untuk tinggal bersama dengan Dia serta belajar hidup baik dan benar daripadaNya, karena Allah adalah satu-satunya kebaikan dan kebenaran tertinggi.
Dan, mencari kebijaksanaan bukanlah pekerjaan yang sulit karena kebijaksaan sendiri membiarkan diri dijumpai, dipandang dan dikenal.
Manusia tidak perlu mencarinya dengan susah payah. Siapa pun yang ingin mencari kebijaksanaan akan menemukannya. Karena Allah rela memberikan kebijaksanaan kepada siapa pun yang memintanya.
Atau dengan kata lain, Allah membiarkan DiriNya dijumpai oleh siapa saja yang berkehendak baik dan ingin bersatu denganNya.
Yesus dalam Injil hari ini mengajak para pendengarNya dan kita sekalian untuk bersikap seperti kelima gadis bijkasana yang siapkan diri dengan baik untuk menyongsong mempelai dengan melakukan tindakan-tindakan kecil dan sepele, yakni menyiapkan minyak tambahan di buli-buli sehingga pelita mereka tetap menyala, sampai mempelai tiba dan bersamanya memasuki ruang perjamuan.
Santo Paulus, dalam bacaan kedua, tampil sebagai pewarta khabar sukacita Yesus dan sekaligus orang bijaksana di hadapan jemaat Tesalonika yang merasa cemas memikirkan tentang nasib sanak saudara mereka yang telah meninggal dunia.
Santo Paulus menasihati agar tidak bersedih hati bahkan sampai putus asa seperti orang yang tidak mempunyai pengharapan karena Tuhan akan memberikan damai sejahtera kepada semua orang yang meninggal dalam Kristus Yesus, (bdk 1Tes 4:14).
Sebab bagi orang yang percaya kepada Yesus dan menghayati imannya dalam hidup sehari-hari kematian bukan merupakan peristiwa yang harus ditakuti, melainkan suatu pembebasan dari penderitaan dan sekaligus istirahat yang penuh damai dalam dan bersama dengan Tuhan
Sebagai umat Allah, kita siapkan diri untuk menyambut Yesus dan KerajaanNya di tengah lingkungan hidup kita, dengan tetap teguh beriman serta setia melakukan tugas dan pekerjaan kita setiap hari.
Mungkin yang dapat kita lakukan adalah hal-hal biasa, seperti melaksanakan tugas harian di rumah, dapur, pastoran, kandang babi, kebun, Toko dan tempat usaha, kantor, sekolah, Rumah Sakit, di jalan raya sebagai ojek atau sopir angkot, dan lain-lain.
Nampaknya kecil dan sederhana, tetapi hendaknya kita lakukan semuanya dengan tulus ikhlas, penuh cinta dan tanggungjawab. Tuhan justeru melihat dan menghargai kerelaan dan ketulusan hati kita.
Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita mungkin tidak selalu dapat melakukan hal-hal besar dan spektakuler, kita hanya bisa melakukan hal-hal kecil dan sederhana, tetapi hendaknya dengan cinta yang besar”. Inilah motivasi luhur yang menjiwai dan memberi nilai kepada hidup dan pekerjaan-pekerjaan kta. Inilah tipe orang-orang bijaksana.
Selain itu, orang bijaksana juga hendaknya berusaha memikirkan tentang nasib, kebaikan dan kepentingan orang lain, khususnya mereka yang miskin dan berkekurangan. Ilustrasi di atas dapat memberikan pelajaran berharga untuk kita, jika kita mau menjadi orang bijaksana dan saksi Kristus di dunia ini.
Keputusan dan tindakan Anton dan Frans tampaknya sederhana, tetapi sangat luar biasa dan bijaksana. Walaupun sayur yang mereka beli tidak bisa untuk dimakan, tetapi mereka membelinya untuk menolong ibu tua yang miskin itu. Orang yang berpikir ekonomis tentu tidak akan melakukan hal sebodoh itu.
Karena itu, mari kita renungkan pesan berikut, “Ketika sedang berada di titik terendah dalam hidup ini orang umumnya merindukan sebuah mukjizat yang dapat mengubah hidupnya. Namun, ketika segalanya berjalan baik dan lancar, apakah ia bersedia menjadi si pembuat mukjizat itu yang dapat menyalurkan berkat, kasih dan sukacita bagi sesama yang berkekurangan?”
Orang bijaksana adalah dia yang rela membuat orang lain tersenyum dan bahagia.
Semoga Tuhan memberkati kita selalu!
Kewapante, 08 November 2026. ***