Bimtek
Selasa, 12 Mei 2026 07:45 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA (Floresku.com) – Dalam waktu kurang dari dua tahun, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelma menjadi salah satu lembaga paling berpengaruh di Indonesia.
Lembaga yang lahir untuk menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kini bukan sekadar urusan dapur sekolah, tetapi telah masuk ke pusat perbincangan politik, ekonomi, hingga tata kelola negara.
Di era pemerintahan Prabowo Subianto, BGN tampil sebagai ujung tombak program prioritas nasional.
Anggaran jumbo, jangkauan penerima manfaat yang masif, serta keterlibatan lintas kementerian membuat lembaga ini berkembang cepat dan memiliki daya pengaruh besar.
Dalam sidang kabinet 5 Mei 2025, Presiden Prabowo secara terbuka membela pelaksanaan program MBG meski sempat diwarnai kasus keracunan makanan.
Di depan para menteri, ia menyebut dari jutaan penerima manfaat, hanya sekitar 200 orang yang mengalami keracunan. Menurut klaimnya, tingkat keberhasilan program mencapai 99,99 persen.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan betapa strategisnya posisi BGN dalam pemerintahan saat ini. Nama Kepala BGN, Dadan Hindayana, bahkan secara khusus dipuji Presiden karena menargetkan “nol penyimpangan dan nol kesalahan” dalam pelaksanaan program.
Baca juga:
Namun, di balik ambisi besar itu, sorotan publik terus berdatangan. BGN berkali-kali menjadi headline media nasional akibat berbagai kontroversi, mulai dari kualitas menu makanan, dugaan persoalan distribusi, belanja barang, hingga insiden keracunan di sejumlah daerah.
Pengamat menilai, kekuatan BGN bukan hanya karena programnya menyentuh rakyat kecil, tetapi juga karena lembaga ini mengelola rantai distribusi pangan nasional dalam skala raksasa. Dengan cakupan jutaan siswa dan keluarga penerima manfaat, BGN memiliki pengaruh langsung terhadap sektor pertanian, UMKM, industri makanan, hingga logistik nasional.
Sebagian kalangan bahkan mulai menyebut BGN sebagai “super body” baru di era Prabowo. Sebab, selain memiliki dukungan politik yang kuat, lembaga ini juga menyedot perhatian publik hampir setiap hari.
Meski demikian, tantangan besar tetap membayangi. Transparansi anggaran, pengawasan kualitas makanan, serta akuntabilitas distribusi akan menjadi ujian utama apakah BGN benar-benar mampu menjadi solusi gizi nasional atau justru berubah menjadi proyek populis berbiaya mahal.
Yang jelas, dalam waktu singkat, badan yang dikepalai Dadan Hindayana itu telah berubah dari lembaga baru menjadi pemain utama dalam panggung kekuasaan Indonesia modern. (Sandra). ***