Camino de Flores, Jalur Wisata Ziarah untuk Pulihkan Ekonomi Flores Pascagempa

Selasa, 13 Oktober 2026 20:52 WIB

Penulis:Redaksi

camini.jpeg
Mari Eka Pangestu, Menpar Widiyanti Putri Wardhana dan Gubernur NTT Melki Laka Lena saat peluncuran Camino de Flores, Selasa (13/10) di Jakarta (Kemenpar)

JAKARTA (Floresku.com)  – Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan Camino de Flores: A Spiritual Journey of Reflection and Recovery sebagai pola perjalanan wisata baru untuk mendukung pemulihan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pascagempa bumi.

Program wisata jalan kaki yang memadukan ziarah, refleksi spiritual, budaya, dan keindahan alam ini diharapkan memperluas pemerataan manfaat ekonomi pariwisata hingga ke berbagai kabupaten di Pulau Flores.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (13/10).

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana  dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (13/10).

Menurut Widiyanti, kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Melalui Camino de Flores, wisatawan diharapkan menjelajahi lebih banyak wilayah Flores, termasuk desa wisata, situs religi, serta destinasi alam dan budaya.

Baca juga:

“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis,” kata Widiyanti.

Ia menjelaskan, jalur tersebut juga dapat menghubungkan berbagai tradisi wisata religi di Flores, seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, dan prosesi budaya lainnya.

Rute Bajawa–Boawae–Ende Tempuh 70 Kilometer

Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) akan menggelar proyek percontohan Etape Tengah pada 23–27 Oktober 2026.

Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan mengikuti perjalanan sejauh kurang lebih 70 kilometer dengan rute Bajawa–Boawae–Ende. Perjalanan ini menggabungkan pengalaman spiritual, pengenalan sejarah, dan interaksi langsung dengan masyarakat setempat.

Mari Elka Pangestu, penggagas Camino de Flores

Ke depan, pengembangan Camino de Flores direncanakan mencakup Etape Barat, yakni Labuan Bajo–Ruteng, serta Etape Timur, Maumere–Larantuka. Ketiga etape tersebut berpeluang dihubungkan menjadi satu rangkaian perjalanan sesuai kebutuhan wisatawan.

Widiyanti menegaskan, proyek percontohan ini tidak sekadar menjadi ajang promosi pariwisata, tetapi juga sarana menguji kesiapan teknis, operasional, dan kelembagaan sebelum jalur tersebut dikembangkan lebih luas.

Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyiapkan dokumen penilaian risiko (Risk Assessment) dan rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan). Persiapan itu mencakup petugas pengamanan rute, pos kesehatan, penyediaan air minum bergerak, serta mitigasi terhadap cuaca dan kondisi medan.

Terinspirasi Jalur Ziarah di Spanyol

Inisiatif Camino de Flores digagas dengan inspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol, salah satu jalur ziarah terkenal di dunia yang memiliki sejarah panjang sejak Abad Pertengahan.

Mari Elka Pangestu, yang menginisiasi program bersama timnya, menjelaskan bahwa semangat perjalanan ziarah tersebut diadaptasi untuk Flores dengan memadukan iman, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Baca juga:

Selain menjadi perjalanan reflektif, Camino de Flores juga dirancang membawa manfaat sosial. Penggalangan dana yang menyertai kegiatan ini direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.

Membuka Peluang bagi UMKM dan Penenun Lokal

Pengembangan jalur wisata ini diharapkan memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang rute perjalanan.

Pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun ikat, penyedia kuliner lokal, serta pemandu wisata berpeluang memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Dengan konsep slow tourism atau wisata yang lebih lambat dan mendalam, wisatawan diharapkan tinggal lebih lama dan mengenal kehidupan masyarakat Flores secara langsung.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena

Kain tenun ikat, misalnya, bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga menyimpan identitas budaya, nilai adat, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Produksi serta pemasaran tenun menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama perempuan penenun.

Demikian pula kuliner lokal yang mencerminkan kekayaan bahan pangan, tradisi, dan pengetahuan masyarakat setempat.

Untuk menjamin keberlanjutan program, Kementerian Pariwisata mendorong tata kelola lintas wilayah yang melibatkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, keuskupan-keuskupan di Flores, BPOLBF, dan komunitas lokal melalui pembagian peran serta mekanisme kerja sama yang jelas.

Widiyanti berharap hasil evaluasi proyek percontohan dapat menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebagai dasar pengembangan paket wisata berkelanjutan.

“Evaluasi dari operasional pilot project ini akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko,” ujarnya.

Melalui Camino de Flores, pemerintah berharap pariwisata tidak hanya menawarkan keindahan alam Flores, tetapi juga menjadi sarana pemulihan, pelestarian budaya, penguatan spiritualitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Sumber: Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata