Cerita Lain KDM di Maumere yang Bikin Merinding

Kamis, 26 Februari 2026 13:15 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

rancang.jpg
Cover buku terbaru, Robert Bala: RANCANG DIRI, RAIH KARIER (RB)

Oleh: Robertus Bala*

BIASANYA kalau dengar nama Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, yang kebayang itu aksi-aksi sosialnya yang viral. Mulai dari bantu warga kecil sampai memulangkan 12 pekerja hiburan asal Jawa Barat dari Maumere. Tapi ternyata, ada satu cerita “kecil” yang nyaris nggak terdengar. Padahal dampaknya? Gede banget. Bukan cuma buat satu orang, tapi buat satu masa depan keluarga.

Ceritanya bermula di Maumere, Senin, 23 Februari. Sebuah kisah sederhana, tapi penuh makna.

Ada seorang mahasiswa saya, angkatan pertama sejak berdirinya Akademi Perhotelan Tunas Indonesia (APTI) yang resmi berdiri 22 Agustus 2022. 

Di Akademi yang terletak kampus teorinya di Bintaro Sektor 9 dan kampus praktik di Hotel Paragon Jakarta, mahasiswa yang lahir di Depok, Jawa Barat, tapi orang tuanya ‘tulen’ berasal dari Flores bisa kuliah.

Tetapi kuliahnya bisa disebut ‘Syukur kepada Allah’ karena di tengah berbagai kesulitan. Karena ada persoalan terutama karena Covid-19, keluarganya goyah. Orang tua dan adiknya harus kembali ke Flores. Ia berjuang sendiri di Jakarta (Depok).

Kebetulan kampus ini memberikan beasiswa dan dia bisa kuliah meski tidak memiliki ijazah SMA karena masih tertahan di Bogor. Rupanya orang tuanya tidak mampu membayar untuk sebuah periode yang lama sehingga tidak bisa mengambilnya.

Kebayang nggak sih? Mau maju tapi ada satu pintu yang masih kekunci rapat. Untungnya dia masih punya Nomor Induk Siswa Nasional, jadi tetap bisa terdaftar di PDDIKTI. Secara administrasi aman. Tapi tetap saja, ijazah itu seperti “bom waktu”.
Meski begitu, anak ini nggak menyerah. Dia jalan terus.

Dan hasilnya? Keren banget. Dia lolos magang enam bulan di JW Marriott Hotel Jakarta, hotel bintang lima yang nggak main-main. Juli sampai Desember 2023 dia jalani dengan performa mantap. Sampai akhirnya, karena dinilai berprestasi, dia diminta lanjut kerja di hotel bintang lima lainnya: Hotel Marlyn.

Baca juga:

Belum selesai. Di program D4 Perhotelan APTI, mahasiswa semester 6–7 punya kesempatan magang berbayar ke Taiwan. Dan ini bukan kaleng-kaleng. Gajinya 29.500 NTD. Kalau dirupiahkan? Sekitar Rp15 juta per bulan!

Buat sebagian orang mungkin biasa. Tapi buat dia? Itu tiket buat bantu mama dan adik-adiknya. Itu harapan. Itu mimpi yang mulai kelihatan bentuknya.

Tapi hidup kadang suka bercanda. Syarat magang ke Taiwan dari Taipei Economic and Trade Office (TETO) jelas: harus ada ijazah SMA.

Dan di sinilah semuanya seperti mau runtuh lagi. Ijazah itu masih tertahan. Biaya buat nebus nggak sedikit. Rasanya kayak sudah lari jauh, tapi tersandung di garis start yang lama belum selesai.

Hampir menyerah. Kalau tidak ada ijazah di tangan maka mimpi ke Taiwan hanyalah mimpi. Beruntung, Senin 23/2, KDM tiba di Maumere. Sang mama yang lagi berjibaku di Maumere merasa (setelah berdoa dan bergulat), ia bisa bertemu dengan KDM.  

Dengan segala keberanian, beliau menyapa dan bersalaman langsung dengan KDM pada Senin, 23 Februari. Di tengah keramaian, di sela jadwal padat, beliau ceritakan kondisi anaknya—tentang tunggakan, tentang ijazah yang tertahan, tentang mimpi Taiwan yang nyaris kandas.

Dan yang terjadi setelah itu? Cepat banget. Siang itu juga KDM langsung minta kontak sekolah di Bogor. Nggak pakai lama. Nggak pakai drama. Sore harinya sekolah menelepon sang mama, memberi tahu bahwa besok keluarga bisa datang ambil ijazahnya. Besok paginya? Ijazah itu sudah di tangan.

Secepat itu. Yang tadinya terasa mustahil, mendadak terbuka jalannya. Ijazah itu bukan cuma selembar kertas. Itu simbol perjuangan. Itu bukti bahwa satu tindakan kecil bisa mengubah arah hidup seseorang. Dengan ijazah itu, pintu Taiwan terbuka lagi. Gaji Rp15 juta per bulan bukan lagi angan-angan. Masa depan keluarga itu ikut terangkat.

KDM mungkin datang ke Maumere untuk satu agenda besar. Tapi yang dia tinggalkan bukan cuma headline berita. Ada satu keluarga Flores yang malam itu mungkin tidur dengan hati lebih lega.

Kadang kebaikan nggak selalu berupa panggung besar atau sorotan kamera. Kadang kebaikan itu hadir dalam bentuk telepon singkat yang membuka masa depan seseorang.
Dan dari Maumere, kita belajar satu hal: Harapan itu bisa datang dari mana saja. Bahkan dari jabat tangan yang mungkin cuma berlangsung beberapa detik.

Sebuah cerita kecil. Tapi dampaknya? Besar banget. Semoga cerita kecil ini tetap memberi semangat untuk membantu siapa saja yang berjuang untuk meniti karier. 

Saat ini, Akademi Perhotelan Tunas Indonesia (APTI) Prodi D4 Perhotelan juga sudah bekerjasama dengan ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) dari Keuskupan Agung Jakarta. Dengan beasiswa, beberapa mahasiswa lagi merancang diri untuk mearih karier di Perhotelan.***

* Penulis buku RANCANG DIRI RAIH KARIER, Penerbit Tanah Air Beta, Januari 2026.