CERPEN: Mendekap Rindu

Jumat, 15 Juli 2022 16:50 WIB

Penulis:redaksi

telma.jfif
Isidora Anggraini Thelma Da Gomez (Dokpri)

Oleh: Isidora Anggraini Thelma Da Gomez 

KICAUAN  burung mengangkasa pagi ini terdengar begitu merdu, bersama sinar surya yang tersenyum indah di ufuk timur, berusaha mendamaikan hati yang tengah lara. 

Di atas undakan tangga, dia  terduduk lemas tak berdaya. Pikirannya sedang bertempur hebat, bergulat dengan sesuatu hal yang berhasil  menguras emosi serta tenaganya belakangan ini.

Secangkir cokelat hangat di tangan yang menggugah selera, didiamkan tanpa berniat untuk meneguk walau hanya sekali saja. Dia benar-benar bingung  lebih tepatnya merasa kalah dengan keadaan yang selalu membuatnya seperti orang bodoh tanpa bisa menyerukan perlawanan.

Lagi dan lagi, dia menghela napas gusar. Mata sayunya tak bisa berbohong jika malammya tidak bisa indah dan senyenyak sebelum kejadian itu. Dihantui ketakutan akan sebuah kehilangan menjadi malapetaka baginya, takut jika setiap pagi rasa kehilangan itu kembali hadir. 

Bahkan bukan hanya  terhadap orang terdekat saja dia ketakutan, melainkan pada diri sendiri yang selalu dibalut kesakitan aneh  tanpa sebab. Gadis dengan surai hitam sebahu itu sampai berani menyimpulkan jika kesehatan mentalnya pun sedang tidak baik-baik saja karena peristiwa penuh tangis kala Juli itu.

“Masih melamun?”

Pertanyaan sederhana, tetapi kerap kali menyapa indera pendengarannya. Tanpa berbalik, dia hapal betul siapa pemiliknya. Menjalin persahabatan sejak lama membuatnya sudah mengenal jauh siapa gadis bertubuh gendut yang beberapa bulan terakhir seatap dengannya itu di kota orang.

“Seperti biasa,” jawabnya begitu pelan. Tampak jelas senyum pemilik surai hitam sebahu itu, menyiratkan luka tak kasat mata bagi siapa pun yang melihatnya.

“Kita sama-sama pernah merasa kehilangan, bahkan di waktu yang berdekatan jika kamu lupa  soal itu.” Anastasya, sahabat dekatnya itu berbicara pelan, mengerti jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda seperti biasanya.

Alika menutup mata sejenak, menahan buliran embun yang siap tumpah setiap saatnya jika dia sedang bergulat dengan kerinduan. “Ini lebih sakit dari yang dibayangkan sebelumnya. Secepat itu seperti  embusan angin yang hilang hanya dalam waktu sekejap.”

“Lalu mau menyalahkan siapa saat ini? Tuhan?” tanya Anastasya, menatap tepat ke dalam iris cokelat Alika yang telah basah akan air mata.

Dengan cepat Alika menggeleng. Tidak ada yang patut disalahkan dalam peristiwa Jumat di Bulan Juli tahun 2021 itu. Hanya saja sampai detik ini, perasaan tak rela itu selalu datang membayanginya. 

Masih terekam jelas bagaimana hari-hari mereka dihabiskan bersama dalam naungan rumah bercat hijau yang penuh cerita di dalamnya. Bukan cerita singkat ibarat cerpen yang sering kali ditulis Alika, melainkan cerita tanpa ujung penuh makna dalam ikatan sebuah keluarga.

“Besok enam belas Juli tahun ini akan menyapa. Kamu tahu artinya, bukan?"

Dengan suara serak, Alika balik bertanya. Gadis gendut di sebelahnya terdiam cukup lama, sebelum mengangguk kecil. Dia sangat tahu  sekali apa yang dimaksudkan Alika dengan tanggal dan bulan itu. 

Menjadi pihak yang juga berada di samping Alika saat itu, membuat memori Anastasya merekam dengan jelas tangisan sahabatnya karena sedang dibalut kedukaan.

Anastasya ingat bagaimana raungan Alika ketika memeluknya, bagaimana  lirihan sahabatnya itu mengisahkan kembali kenangan indah bersama sang bapak sebelum ajal menjemput sosok cinta pertamanya. Semua masih sangat jelas dalam benak, membuatnya ikut merasa terpukul karena  pernah berada di posisi yang sama seperti Alika tiga bulan sebelumnya. Namun, bedanya Anastasya kehilangan mamanya karena sebuah kecelakaan sementara Alika kehilangan bapaknya karena Covid 19.

“Satu tahun telah berlalu, dan itu … terasa sangan cepat.” Alika tersenyum pedih, meremas pegangan cangkir berusaha menahan diri untuk tidak berteriak saking merasa terlukanya.

“Yakinlah, bapakmu sudah berbahagia di sana. Tugas kita sekarang hanya bisa mendoakan mereka dan melanjutkan hidup kita,” ucap Anastasya menguatkan, meskipun gadis gendut itu pun ingin 
menangis juga.

“Aku tahu hal itu. Hanya saja jika aku kembali pada memori kala itu, rasanya sangat tak sanggup. Bapak di ruang isolasi, ditemani kesendirian, itu sangat menyakitkan bagi kami berempat. Aku tidak bisa membayangkan sosok yang biasanya banyak bicara, harus terbaring lemah dalam balutan alat rumah sakit, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali diam dengan tatapan kosong ke atas langit-langit kamar. Sungguh, aku tak bisa, Anastasya!” Pada akhirnya, Alika menumpahkan semuanya lagi di  hadapan sahabatnya. Semua seperti de javu, kembali pada kejadian setahun lalu di tenda duka istana sementara milik Alika dan keluarga.

“Semua sudah terjadi, Alika. Tolong belajar untuk ikhlas dan bisa menerima semuanya. Kalian berempat harus kuat dan bisa berjuang untuk ke depannya. Namanya juga hidup, tidak semua harus dilewati dengan kebahagiaan, harus ada sedihnya juga.”

Alika tak menjawab, tetapi isakannya terus terdengar dalam dekapan Anastasya. Kedua gadis yang biasanya selalu dirundung kesenangan, selalu tertawa tanpa henti itu sama-sama diam dalam pergulatan batin masing-masing, masih dengan topik tentang sebuah kehilangan.

“Kamu benar kalau soal itu. Aku juga pernah membaca sebuah quotes yang sampai saat ini  masih kuingat.”

“Oh ya? Quotes apa?” Anastasya mulai tersenyum, berusaha mencairkan suasana.

“Hidup itu seperti buku. Beberapa bab berisi kesedihan, beberapa bab tentang kebahagiaan, beberapa bab ada yang menarik dan juga membosankan. Namun, kalau kamu tidak membalik  halamanya, kamu tidak akan pernah tahu tentang apa yang akan terjadi ke depannya.”

“Itu benar. Jadi, sudah seharusnya kita berpikir untuk kehidupan selanjutnya. Boleh dibalut kesedihan, asal jangan terlalu lama. Kita masih punya masa depan yang sedang berusaha diraih, untuk itu sudah sepantasnya melepas atau menutup buku masa lalu itu. Lagi pula jika kita sukses nanti, mamaku dan bapakmu pasti akan ikut bahagia di atas sana.”

Alika mengangguk sembari mengusap sudut matanya. Gadis itu ikut tersenyum dan memeluk Anastasya 
dengan erat.

“Tumben bijak,” cibir Alika mendapat dengkusan kasar sahabatnya.

“Jelas. Aku ‘kan Anastasya Teguh,” seloroh Anastasya tertawa keras.

“Lalu kalau aku rindu Bapak bagaimana?” tanya Alika.

“Berdoa. Kamu memang tak bisa menyalurkan kerinduanmu melalui sebuah pelukan, atau mendatangi pusaranya karena terhalang jarak saat ini. Namun, kamu bisa mendekapnya dalam doa, merasakan jika kerinduanmu terbalas dengan hadir dirinya dalam mimpimu.”

“Aku sering kali mendoakannya, dan Bapak kerap kali hadir dalam mimpiku.”

“Iya. Aku percaya akan satu hal, Alika, jika orang yang telah meninggal akan selalu hadir bersama kita, walaupun tak bisa melihatnya secara langsung. Cukup merasakan kehadiran mereka saja,  yang beriringan bersama kita, itu cukup membuat bahagia karena mereka tak sepenuhnya meninggalkan kita,” balas Anastasya bersemangat.

“Aku akan melakukannya.” Alika mengulas senyum, wajah sayunya sedikit bersemangat.

                                    ***

“Bapak, aku rindu,” lirih Alika dengan selembar foto yang dipegangnya. Tepat di pergantian hari, pukul 24.00 waktu setempat, gadis itu berdiam diri di atas ranjang dalam remangan lampu kamar yang dipadamkan.

Anastasya sudah terbuai mimpi sejak sejam lalu, setelah keduanya melakukan percakapan sebelum tidur seperti biasanya.

“Aku tak bisa mendeskipsikan bagaimana rasa sakit terbelenggu rindu selama setahun terakhir ini, karena rasanya pun sulit untuk dijelaskan. Kami berempat tidak akan lupa dengan sosokmu, walaupun ada beberapa kejadian tak menyenangkan yang pernah lewat dalam buku keluarga kita. Semua tersampul  rapi dalam memori, yang masih enggan kutulis saking belum sanggupnya untuk memainkan jari dan imajinasi jika mengingat tentang kita berlima. Namun, aku yakin ada saatnya semua bisa kutuangkan dalam tulisan rapi tanganku, dan diri ini sedang menunggu saat itu tiba.”

“Boleh, aku bertanya perihal arti rindu sebenarnya?” Seolah ada yang berbisik di telinganya, Alika tersenyum tipis. Gadis itu tahu halusinasinya sedang bermain saat ini.

“Rindu?” Suara tawa Alika terdengar perih. “Jujur, aku tak ingin merindu lagi, jika sosoknya sudah tak ada dalam rengkuhan. Karena menimbun rindu itu tidak mudah, kalau harus dihadapkan dengan kenyataan jika sosok yang dirindukan telah meninggalkan dunia untuk selamanya.”

“Lalu apa? Kenapa kamu mengatakan rindu padanya, jika kamu sendiri tak mau merindu lagi?”

Keheningan malam itu, membuat Alika dengan jelas menangkap suara asing yang kembali terdengar.

“Karena … aku sadar jika hadirnya sudah tak ada dalam jangkauan mata. Jadi, biarkan saja aku mendekap kerinduan ini dalam kesendirian, mendoakannya dalam setiap malamku, dan menatap  wajahnya walau hanya dalam mimpi.”

“Kamu hebat, Alika. Berjuanglah maka semuanya akan menjadi baik-baik saja. Yakinlah dia juga merindukan kalian berempat, wanita-wanita hebat yang tengah berjuang dalam pahitnya dunia.”

Alika terdiam lalu mengangguk sambil mendekap erat selembar foto bapaknya yang berlatar-belakang  ibukota Indonesia itu. Perjalanan dinas yang biasa dilakukan sosok cinta pertamanya, kala masih  menjabat sebagai salah satu ASN sebelum memasuki masa tuanya. Sebuah masa di mana Akila dan keluarga masih diliputi kebahagian, tanpa merasa kekurangan.

Gadis itu memejamkan mata saat rasa  kantuk sudah mulai menyergap, bersamaan dengan lirihan suara asing itu yang kembali terdengar sebelum benar-benar lenyap.

“Selamat tidur, Alika. Raihlah mimpimu karena tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha.” .TAMAT

Catatan: Cerita ini persembahan khusus untuk mengenang setahun kepergian Bapak Josef 
Joserfus Da Gomez yang telah berpulang ke surga pada Jumat, 16 Juli 2021 – 16 Juli 2022. ***