Dari Datak untuk Dunia: Caritas Menanam Harapan di Tanah Manggarai

Selasa, 19 Mei 2026 11:21 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

datat3.jpg
Pimpinan Caritas Internasionalis dan Caritas Indonesia yang berlangsung meriah dan sarat makna di halaman Gereja Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak Senin (18/05). (Vinsen Patno)

LABUAN BAJO (Floresku.com)  – Halaman Gereja Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, Senin (18/05), berubah menjadi ruang persaudaraan lintas bangsa. 

Di tengah balutan kain songke, tarian “Tiba Meka”, dan sambutan hangat umat, delegasi Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia hadir bukan sekadar membawa program, tetapi menghadirkan pesan bahwa Gereja tetap berjalan bersama umat kecil di pelosok Flores.

Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia yang dipusatkan di Keuskupan Labuan Bajo. 

Dari kiri ke kanan: Uskup Labuan Bajo, Mgr Maksi Regus, Uskup Agung Tokyo sekaligus Presiden Caritas Internationalis Mgr Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi SVD, dan Uskup Ruteng Mgr Sipri Hormat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Uskup Agung Tokyo sekaligus Presiden Caritas Internationalis Mgr Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi SVD,  jajaran Yayasan KARINA-KWI, para Uskup Regio Nusra, Direktur Caritas-PSE Regio Nusra, komite Caritas Indonesia, mitra kerja, hingga masyarakat dampingan program HARVEST.

Sejak pagi, umat Paroki Datak memenuhi halaman gereja dengan antusias. Delegasi yang tiba sekitar pukul 09.00 WITA disambut meriah melalui prosesi adat Manggarai, pengalungan selendang songke, serta sapaan hangat warga.

Baca juga:

Pastor Paroki Santa Teresa Kalkuta Datak, RD. Yohanes Fredy Saldi, mengatakan kunjungan tersebut menjadi tanda nyata kasih Gereja yang hadir di tengah perjuangan umat.

“Kunjungan ini bukan sekadar agenda kelembagaan, tetapi tanda kasih Allah yang hadir melalui Gereja yang peduli dan mau berjalan bersama umat kecil,” ungkapnya.

Ia mengakui umat di wilayah Datak masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam aspek ekonomi dan akses kebutuhan dasar. Karena itu, kehadiran Caritas memberi harapan baru bagi masyarakat untuk bangkit dan berkembang.

Menurutnya, umat tidak boleh hanya menjadi penerima bantuan, melainkan harus menjadi pelaku utama perubahan di lingkungannya sendiri.

“Caritas hadir untuk mendampingi, tetapi kekuatan utama tetap ada pada kebersamaan umat,” tegasnya.

RD. Yohanes Fredy Saldi juga menekankan pentingnya gotong royong dan solidaritas sebagai kekuatan khas masyarakat Manggarai yang perlu terus dipelihara agar setiap program pemberdayaan dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Kita Semua Satu Keluarga”

Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Alistair Chad Dutton, dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh umat yang hadir dipersatukan dalam keluarga besar Caritas.

“Semua kita di sini adalah satu keluarga. Seperti Paus Fransiskus katakan, tidak ada Gereja tanpa Caritas, dan tidak ada Caritas tanpa Gereja,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pelayanan Caritas harus berakar pada realitas hidup masyarakat. Gereja dipanggil bukan hanya hadir secara simbolis, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan konkret umat.

Bagi Alistair, apa yang dialami masyarakat di Datak bukan persoalan lokal semata, tetapi bagian dari perhatian Gereja universal. Karena itu, ia berharap masyarakat semakin sadar bahwa mereka adalah bagian dari jaringan solidaritas dunia.

Dalam konteks krisis global seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan ketidakadilan sosial, Caritas dipanggil menjadi tanda harapan yang hidup.

“Caritas bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang berjalan bersama, mendengarkan, dan membangun masa depan yang lebih manusiawi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Pius Riana Prapdi, mengingatkan bahwa pelayanan Gereja harus berpihak kepada mereka yang lemah dan tersingkir.

Menurutnya, program-program Caritas tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, melainkan harus mampu membangun daya tahan umat agar mandiri dan berkelanjutan.

Ia juga mengajak umat memperkuat semangat solidaritas dan gotong royong sebagai kekuatan utama kehidupan paroki.

“Caritas bukan hanya tugas lembaga, tetapi panggilan seluruh umat beriman untuk menjadi pelaku kasih,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Direktur Caritas Indonesia, RD. Fredy Rante Taruk. Ia menekankan pentingnya pelayanan yang menyentuh akar persoalan seperti kemiskinan, keterbatasan akses, dan kerentanan sosial.

Menurutnya, umat perlu dibekali keterampilan dan kesadaran agar mampu mengelola kehidupan secara mandiri dan bermartabat.

Ia juga mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal di tingkat paroki agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan dari luar.

“Dalam keterbatasan sekalipun, perubahan selalu mungkin terjadi ketika dijalani bersama dalam iman dan kasih,” ujarnya.

Dari Kebun Organik Menuju Kemandirian

Selain seremoni dan dialog, delegasi Caritas juga meninjau langsung lokasi program HARVEST yang dijalankan kelompok dampingan di Paroki Datak.

Rombongan mengunjungi persemaian bibit, bedengan tanaman sayur, bank ternak dan kompos, hingga area panen perdana yang menjadi simbol keberhasilan pengelolaan lahan secara mandiri.

Di lokasi itu, kelompok tani lokal memperlihatkan praktik pertanian organik yang mereka kembangkan bersama Caritas. Mereka memproduksi mikroorganisme lokal (MOL), pupuk organik cair dan padat, hingga pestisida alami.

Perwakilan kelompok tani, Max, mengatakan masyarakat kini mulai merasakan dampak nyata program tersebut. Ribuan tanaman seperti kacang panjang, tomat, cabai, dan mentimun berhasil dibudidayakan dan menjadi sumber pangan sekaligus tambahan pendapatan keluarga.

Kebun contoh di Datak kini berkembang menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat. Teknik pertanian organik yang dipelajari di kebun kolektif kemudian diterapkan di pekarangan rumah masing-masing.

Model ini dinilai sejalan dengan visi Caritas untuk menciptakan komunitas akar rumput yang mandiri dan tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun krisis pangan.

Kunjungan ditutup dengan makan siang bersama yang menyajikan panganan lokal hasil bumi masyarakat setempat sebelum rombongan kembali menuju Labuan Bajo.

Di balik perayaan 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia, Datak seakan mengirim pesan sederhana kepada dunia: kasih tidak selalu hadir dalam pidato besar, tetapi tumbuh pelan di kebun-kebun kecil, dalam solidaritas umat, dan dalam keberanian masyarakat untuk bangkit bersama. (Vinsen Patno). ***