Pemerintah
Rabu, 03 Juni 2026 19:12 WIB
Penulis:Redaksi

JAKARTA (Floresku.com) - Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada 2 Juni 2026 menandai babak baru dalam perjalanan karier seorang perempuan yang selama puluhan tahun berkiprah di dunia media, politik, dan pemerintahan.
Keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjuknya menggantikan Dadan Hindayana sekaligus menempatkan Nanik sebagai figur sentral dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu agenda strategis pemerintah.
Namun, jalan yang membawanya ke posisi tersebut bukanlah perjalanan singkat.
Lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968, Nanik dikenal lebih dahulu sebagai jurnalis sebelum memasuki dunia politik dan birokrasi.
Alumni Universitas Jenderal Soedirman ini mengawali kariernya sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, media yang berada dalam jaringan Kompas Gramedia.
Pengalaman bertahun-tahun di lapangan membentuk kemampuannya membaca persoalan masyarakat secara langsung.
Baca juga:
Dari ruang redaksi, Nanik kemudian menapaki jenjang kepemimpinan media. Ia pernah dipercaya sebagai Pemimpin Umum Majalah Femme, Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan, Majalah Peluang Usaha dan The Politics serta menduduki posisi komisaris di perusahaan penerbitan.
Karier media tersebut membuatnya dikenal memiliki kemampuan komunikasi publik yang kuat, sebuah modal yang kelak menjadi salah satu alasan dirinya dipercaya mengisi berbagai jabatan strategis pemerintahan.
Nama Nanik mulai banyak dikenal publik ketika terlibat aktif dalam politik nasional. Pada Pilpres 2019, ia menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Adil Makmur yang mendukung pasangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno.
Sejak periode itu, kedekatannya dengan Prabowo semakin terlihat. Ia menjadi salah satu figur yang kerap terlibat dalam komunikasi politik dan strategi pemenangan.
Hubungan kepercayaan tersebut terus terjaga hingga Prabowo memenangkan Pemilihan Presiden 2024 dan membentuk pemerintahan baru.
Di kalangan pengamat politik, Nanik sering disebut sebagai salah satu sosok yang memahami cara kerja komunikasi politik sekaligus memiliki jaringan luas di berbagai sektor.
Setelah Prabowo resmi memimpin Indonesia, Nanik mulai mendapat sejumlah amanah penting di pemerintahan.
Pada Oktober 2024, ia dilantik sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin). Tugasnya saat itu berkaitan dengan percepatan penurunan angka kemiskinan dan penguatan program kesejahteraan masyarakat.
Kariernya terus menanjak. Pada pertengahan 2025, ia dipercaya menjadi Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Tak lama berselang, Presiden Prabowo menunjuknya sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional.
Di lembaga tersebut, Nanik memegang tanggung jawab bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Posisi ini membuatnya terlibat langsung dalam pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang saat itu mulai dijalankan secara masif di berbagai daerah.
Peran Nanik semakin strategis ketika pada Oktober 2025 ia ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG.
Tugasnya bukan sekadar mengelola komunikasi publik, tetapi juga memastikan koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan berjalan efektif. Ia ikut mengawal proses monitoring, evaluasi, dan sinkronisasi pelaksanaan program yang menyasar jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia.
Dari posisi inilah Nanik memperoleh pengalaman langsung mengelola salah satu program sosial terbesar dalam sejarah pemerintahan Indonesia modern.
Puncak perjalanan kariernya terjadi pada 2 Juni 2026 ketika Presiden Prabowo menunjuknya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Penugasan ini datang pada fase penting ketika pemerintah berupaya memperluas cakupan Program Makan Bergizi Gratis sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola dan pengawasannya.
Sebagai pemimpin baru, Nanik diharapkan mampu mengonsolidasikan berbagai aspek pelaksanaan program, mulai dari distribusi, pengawasan mutu, transparansi anggaran, hingga efektivitas dampak gizi bagi masyarakat.
Latar belakangnya yang unik - menggabungkan pengalaman sebagai jurnalis, pengelola media, aktivis politik, dan pejabat publik - menjadikannya salah satu figur yang dinilai memiliki kombinasi kemampuan komunikasi, koordinasi, dan manajemen yang dibutuhkan untuk memimpin lembaga tersebut.
Kini, tantangan terbesar berada di hadapannya: memastikan Program Makan Bergizi Gratis benar-benar mencapai sasaran dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas generasi Indonesia.
Dari ruang redaksi hingga ruang rapat kabinet, perjalanan Nanik S. Deyang menunjukkan bagaimana pengalaman lintas bidang dapat bermuara pada satu tanggung jawab besar: mengawal masa depan gizi bangsa. (Sandra). ***