Dinkes Sikka: Limbah Dapur MBG Aman, Dapur yang Ditutup Sudah Beroperasi Lagi

Senin, 08 Juni 2026 15:16 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

lukas lawe.jpg
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlimus (Istimewa)

MAUMERE (Floresku.com) – Pemerintah Kabupaten Sikka memastikan pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dilakukan, termasuk terhadap aspek kesehatan, sanitasi, dan pengelolaan limbah di setiap dapur penyedia makanan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka, Lukas Lawe

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlimus, dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka, Lukas Lawe, saat ditemui media secara terpisah pada akhir Mei dan awal Juni 2026.

 Dinkes Pastikan Penjamah Makanan Sehat

Saat ditemui di ruang kerjanya pada 26 Mei 2026, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlimus, menjelaskan bahwa dari sisi kesehatan, pelaksanaan MBG di Kabupaten Sikka telah dipersiapkan lebih matang dibandingkan sejumlah daerah lain.

Menurutnya, sebelum dapur MBG mulai beroperasi, para penjamah makanan diwajibkan mengikuti pelatihan serta menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh.

Baca juga:

"Kalau dari sisi kesehatan, saya melihat kita cukup maju untuk ukuran NTT. Persiapan kita lebih matang dan tidak tergesa-gesa," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap dapur MBG umumnya melibatkan sekitar 47 hingga 48 tenaga penjamah makanan. Sebelum mulai bekerja, seluruh petugas harus menjalani pemeriksaan kesehatan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah potensi penularan penyakit melalui makanan.

"Yang kami khawatirkan adalah penyakit menular pada penjamah makanan, seperti hepatitis, tifus, TBC, dan penyakit lainnya. Karena itu semua harus diperiksa terlebih dahulu," katanya.

Apabila ditemukan petugas yang menderita penyakit menular, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan bekerja di dapur MBG dan harus digantikan oleh tenaga lain yang dinyatakan sehat.

Pengelolaan Limbah Dinilai Berjalan Baik

Terkait keberadaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sanitasi dapur MBG, Petrus Herlimus mengatakan aspek tersebut menjadi perhatian serius pemerintah.

Menurutnya, selama ini pengelolaan limbah di lingkungan dapur MBG berjalan cukup baik.

"Yang penting di lingkungan dapur gizi itu sarana-prasarana dan pengelolaan limbahnya berjalan dengan baik. Sampai saat ini pengolahan limbah berjalan baik," ujarnya.

Mengenai keberadaan salah satu dapur MBG yang lokasinya berdekatan dengan rumah sakit, Petrus Herlimus menegaskan bahwa persoalan tersebut lebih tepat dijelaskan oleh Dinas Ketahanan Pangan selaku instansi yang terlibat dalam koordinasi program.

"Soal jarak dapur dengan rumah sakit silakan ditanyakan ke Dinas Ketahanan Pangan. Kalau saya melihatnya dari sisi kesehatan," katanya.

Dapur MBG yang Ditutup Sementara Sudah Beroperasi Lagi

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka, Lukas Lawe, saat ditemui di kantornya pada 3 Juni 2026 menjelaskan bahwa penutupan sementara salah satu dapur MBG di Kabupaten Sikka merupakan bagian dari mekanisme evaluasi yang dilakukan oleh pihak terkait.

Menurut Lukas, keputusan penutupan sementara tersebut ditetapkan oleh koordinator Program MBG dari tingkat pusat.

"Itu bagian dari evaluasi. Penetapannya langsung oleh koordinator MBG pusat. Saya juga mendapat laporan dari koordinator MBG Kabupaten Sikka," ujarnya.

Ia mengakui bahwa saat tim melakukan pengawasan lapangan, dapur tersebut masih beroperasi.

Dalam hasil pemantauan, ditemukan beberapa aspek kebersihan yang masih perlu dibenahi, meskipun menurut pengamatan saat itu masih berada dalam batas yang dapat diperbaiki.

"Waktu kami turun memang ada yang terlihat sedikit kurang bersih. Kami berpikir masih dalam standar dan masih dalam proses pembenahan," katanya.

Namun dalam perkembangan berikutnya, pihaknya mendapat informasi dari Koordinator Wilayah MBG Kabupaten Sikka bahwa dapur tersebut diminta menghentikan operasional sementara untuk melakukan perbaikan.

Lukas menambahkan bahwa mulai 2 Juni 2026 dapur tersebut telah kembali beroperasi setelah dilakukan pembenahan.

"Informasi yang kami terima, sejak tanggal 2 Juni kemarin dapur itu sudah mulai beroperasi kembali," jelasnya.

Mengenai apakah sebelumnya telah diberikan surat teguran atau sanksi administratif, Lukas mengaku tidak mengetahui secara rinci karena proses tersebut berada pada kewenangan pihak pengelola program dan koordinator MBG.

 Lokasi Dapur Ditentukan BGN

Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan dapur MBG yang dibangun berdekatan dengan fasilitas kesehatan, Lukas menjelaskan bahwa penentuan lokasi dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan merupakan kewenangan pemerintah daerah.

Menurutnya, lokasi dapur ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) berdasarkan sejumlah pertimbangan teknis.

"Penentuan lokasi dapur MBG atau SPPG ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Lokasi dipilih berdasarkan data geospasial, sebaran penerima manfaat, kepadatan sekolah, serta waktu tempuh distribusi agar makanan sampai dalam kondisi optimal dan tepat waktu," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penentuan lokasi tidak semata-mata didasarkan pada bangunan yang berada di sekitar lokasi dapur.

"Bukan kemudian melihat di samping dapur ada bangunan apa atau tidak," ujarnya.

Meski demikian, Lukas mengungkapkan bahwa proses awal pembahasan lokasi dapur tersebut dilakukan pada tahun sebelumnya saat kepemimpinan dinas yang lama.

"Awalnya dibahas pada masa kepala dinas sebelumnya. Mungkin saat itu program masih baru dan proses persiapannya juga harus dilakukan dengan cepat," katanya.

Pengawasan Terus Dilakukan

Pemerintah Kabupaten Sikka menegaskan akan terus melakukan pengawasan terhadap seluruh dapur MBG yang beroperasi di wilayah tersebut, terutama terkait aspek keamanan pangan, kebersihan lingkungan, kesehatan penjamah makanan, dan pengelolaan limbah.

Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan sesuai standar kesehatan sekaligus memberikan manfaat optimal bagi para penerima manfaat, khususnya peserta didik di Kabupaten Sikka. (Silvia). ***