Direktur Eksekutif GSR, Sebas Salang Ungkap Hasil Riset Soal ‘Misteri’ Bisnis Minyak dan Gas di Indonesia

Senin, 31 Maret 2025 09:02 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

gsri.jpg
Direktus Eksekutif Sebas Salang (Pddcas GSRI)

JAKARTA (Floresku.com) – Direktur Eksekutif  Global Strategi Riset Indonesia (GSRI) mengungkap soal tataniaga bisnis minyak dan gas di Indonesia yang diwarnai oleh permainan penuh misteri atau modus korupsi yang sulit terdeteksi.

Melalui Podcastnya, Sebas Salang mengatakan bisnis minyak dan gas di Indonesia diwarnai oleh modus permainan yang  sulit dipecahkan. 

Hal ini terjadi karena  bisnis minyak dan gas Indonesia dikendalikan oleh para ‘pemain’ yang ingin mengeruk keuntungan bagi diri dan kelompok sendiri. 

Akibatnya, terjadi pemborosan dan dugagaan korupsi yang berpotensi menimbulkan kerugian negara yang sangat  fantastis.

Misteri ini perlu diungkapkan karena bisnis minya dan gas berkaitan dengan kebutuhan energi dalam nasional yang menelan biaya yang sangat besar. 

Pada masa kampanye Pilpres lalu, Pak Prabowo ingin mendorong kemandirian energi di Indonesia. Sementara itu belum lama ini terbongkar korupsi di Pertamina  Patraniga dan anak-anak perusahaan.

Menurut telaah GSRI, diketahui kebutuhan BBM Indonesia  mencapai 1,4 juta barel per hari. 

Sementara itu kemampuan produksi Indonesia hanya 576 barel per hari.  Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan impor bahan bakar minyak itu sebesar 550.000 barel perhari dan impor minyak mentah sebesar 301.000 barel per  hari.

Padahal,  faktanya, cadangan mnyak Indonesia  mencapai 2,4 miliar barel. Bahkan, Indonesia memiliki cadangan kurang lebih 4,7 miliar barel itu. 

Permainan di balik dana invetasi

Nah pertanyaannya, mengapa  pada tahun 2024 Indonesia hanya mampu memproduksi  570.000 barel per hari?

Padahal, dana yang diinvestasikan untuk melakukan upaya peningkatan produksi ini itu luar biasa besar.

Diketahui sejak tahun 2020, pemerintah melakukan investasi untuk meningkatkan produksi. Tahun 2020  nilia investasinya mencapai 13.054,18 juta dolar AS, dan meningkat menjadi  2024 mencapai 17.538,48 juta dolar AS.

Sayangnya, meski nilai investasi terus memebsar, tetapi produksinya terus menurun. 

‘Jadi, secara kasat mata, ada hal yang janggal, ada permainan yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi negara. Oleh karena itu, perlu dilakukan audit secara menyeluruh untuk membongkat permainan atau korupsi di balik investasi di sektor migas Indonesia,” tandasnya.

Selain itu Sebas juga mengungkapkan adanya permainan dalam kegiatan impor minyak dan gas,.
Sebas menduga,  selain permainan alokasi dana investasi, ada pula permainan dalam hal ekspor-impor minyak dan gas, serta permainan subsidi BBM.

‘Sayangnya, hal ini telah terjadi berpuluh-puluh tahun, tetapi tak ada pernah bisa diselesaikan,” ujar Sebas.

Oleh karena itu, dia melanjutkan, sebelum bicara soal kemandirian energi, Presiden Prabowo perlu membersihkan tataniaga minya dan gas dari praktik permainan kotor oleh ‘tikus-tikus’ koruptor,"  pungkasnya. (Sivia). ***