flores
Sabtu, 06 Juni 2026 09:31 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO Floresku.com) – Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Assumpta Nusantara 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo, destinasi super prioritas nasional di Nusa Tenggara Timur.
Harapan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Andhy MT Marpaung, saat peluncuran Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Kamis (4/6).
Menurut Andhy, festival yang telah masuk dalam program Kharisma Event Nusantara 2026 itu tidak hanya menampilkan kekayaan budaya dan nilai religius masyarakat Flores, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berlandaskan prinsip keberlanjutan.
“Festival Golo Koe tidak hanya memperkuat identitas budaya dan nilai-nilai religius Flores, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Baca juga:
Ia menegaskan, kolaborasi antara Keuskupan Labuan Bajo, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Kementerian Pariwisata, BPOLBF, komunitas lokal, serta pelaku usaha menjadi kunci untuk menghadirkan kegiatan berkualitas yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan.
Peluncuran festival ditandai dengan aksi bersih pantai di kawasan Sudamala Resort, penanaman bibit kelapa, serta pelepasan sepasang burung merpati sebagai simbol perdamaian dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Festival Golo Koe 2026 akan diawali dengan Prosesi Maria Assumpta Nusantara pada 10 Juli 2026 yang akan mengunjungi 26 paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di Labuan Bajo.
Berbagai kegiatan akan digelar selama festival, mulai dari perayaan keagamaan, pertunjukan budaya, pameran UMKM dan kuliner, karnaval budaya, atraksi Caci, prosesi Maria Assumpta Nusantara, misa akbar, hingga konser seni dan musik. Sejumlah kegiatan edukasi lingkungan juga akan menjadi bagian penting dari rangkaian acara.
Andhy menilai Festival Golo Koe kini telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya dan religi unggulan di Indonesia Timur. Kehadirannya dalam kurasi Kharisma Event Nusantara menunjukkan pengakuan terhadap daya tarik wisata yang menggabungkan unsur budaya, spiritualitas, dan keberlanjutan.
Sementara itu, Edistasius Endi mengatakan peluncuran festival yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga bumi dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
“Tema dan tagline Festival Golo Koe 2026 harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar seremoni. Mari bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama demi masa depan Manggarai Barat yang bersih, lestari, dan tangguh,” katanya.
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menambahkan bahwa Festival Golo Koe tahun ini juga menjadi ruang refleksi dan aksi bersama dalam menghadapi krisis iklim dan kelangkaan ekologis yang semakin dirasakan dunia.
“Krisis iklim dan kelangkaan ekologis adalah tantangan nyata yang kita hadapi. Festival Golo Koe menjadi ruang kolaborasi untuk merawat bumi sebagai rumah bersama, sekaligus mendorong transformasi spiritual, sosial, dan ekonomi yang menopang kehidupan berkelanjutan,” ujarnya.
Festival Golo Koe pertama kali digelar pada 2022 dan kini berkembang menjadi salah satu perhelatan budaya dan religi paling bergengsi di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi etalase harmoni antara iman, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan. (Tari). ***