gereja
Senin, 31 Agustus 2026 14:07 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Keuskupan Labuan Bajo kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap umat yang terdampak gempa Flores. Melalui bakti sosial terintegrasi, Gereja hadir langsung di tengah warga Stasi Munta, Paroki St. Martinus Bari, Kevikepan Pacar, Sabtu (29/8).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 18.00 WITA itu tidak hanya memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, tetapi juga menghadirkan trauma healing bagi anak-anak sekolah yang mengalami dampak psikologis akibat gempa 15 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari respons Keuskupan Labuan Bajo terhadap kebutuhan mendesak umat setelah bencana. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menyentuh pemulihan fisik, tetapi juga kesehatan mental, terutama anak-anak sebagai kelompok yang rentan mengalami trauma pascabencana.
Melalui pendampingan tersebut, anak-anak diajak untuk perlahan memproses pengalaman traumatis dan membangun kembali rasa aman di tengah kondisi lingkungan yang masih menghadapi risiko gempa.
Antusiasme warga terlihat dari jumlah peserta yang datang mengikuti kegiatan bakti sosial tersebut.
Berdasarkan laporan dari lapangan, sebanyak 303 orang, terdiri dari orang dewasa, ibu hamil, dan anak-anak, mendapatkan pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, hingga pengobatan secara gratis.
Sementara itu, program trauma healing diikuti lebih dari 350 anak dari tiga sekolah, yakni SDK Munta, SDN Pau Waka, dan SMPN 2 Macang Pacar.
Baca juga:
Para fasilitator dari Tim Psikososial Caritas Indonesia (Karina) mendampingi anak-anak melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan edukatif.
Pendekatan tersebut dilakukan agar anak-anak dapat mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka setelah gempa sekaligus membangun ketahanan mental dalam menghadapi situasi baru.
Keuskupan Labuan Bajo memandang pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali fasilitas yang rusak. Pemulihan juga menyangkut bagaimana masyarakat, terutama generasi muda, mampu beradaptasi dengan kondisi pascagempa dan tetap menjalani kehidupan secara positif.
Bakti sosial di Stasi Munta tersebut melibatkan berbagai unsur. Tim yang terlibat antara lain Posko Bencana Keuskupan Labuan Bajo melalui Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo, tenaga medis Rumah Sakit St. Yosef Labuan Bajo, tenaga medis Puskesmas Bari, serta Tim Psikososial Caritas Indonesia (Karina).
Dukungan juga datang dari para Suster Ursulin, Suster Santo Yosef, serta umat Paroki St. Martinus Bari.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kerja bersama antara lembaga keagamaan, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, kehadiran di tengah umat yang terdampak bencana menjadi bagian dari tanggung jawab pastoral Gereja.
Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah pimpinan Gereja. Hadir Romo Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richardus Manggu, Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo sekaligus Ketua Umum Tim Tanggap Bencana Keuskupan Labuan Bajo, Romo Charles Suwendi, serta Pastor Paroki St. Martinus Bari, Romo Beny Hengki.
Kehadiran para pastor tersebut memberikan dukungan moral kepada warga yang masih berada dalam masa pemulihan setelah gempa.
Bakti sosial ini sekaligus menegaskan bahwa pendampingan Gereja tidak berhenti pada bantuan darurat. Kehadiran Gereja diarahkan untuk menemani umat dalam proses pemulihan yang lebih panjang, termasuk memulihkan kesehatan, membangun kembali rasa percaya diri, dan memperkuat ketahanan komunitas.
Kegiatan di Stasi Munta diharapkan dapat menjadi bagian dari model respons kemanusiaan Gereja di wilayah lain yang terdampak bencana.
Di tengah luka dan ketidakpastian pascagempa, solidaritas dan kehadiran bersama menjadi kekuatan penting bagi masyarakat untuk bangkit dan menata kembali kehidupan. (Vinsen Patno). ***