Mbay
Selasa, 02 Juni 2026 10:12 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Nama yang sama muncul di Redu, Mbay, dan Teluk Sinde. Kebetulan belaka, atau jejak sebuah zaman yang pernah mengubah sejarah Flores?
Oleh Maxi Ali Perajaka
ADA kalanya jejak sejarah tidak muncul dari lembaran arsip yang tersimpan rapi di perpustakaan. Ia justru lahir dari hal-hal kecil yang terus berulang hingga sulit diabaikan.
Begitulah kisah saya ketika berhadapan dengan nama "Jogo", sebuah nama yang berkali-kali muncul dalam cerita masyarakat di kawasan Flores Tengah bagian utara.
Jauh sebelum melakukan penelitian lapangan tentang tenun tradisional Nagekeo pada tahun 2023, nama itu sebenarnya sudah akrab di telinga saya.
Di Nagekeo, "Jogo" sering muncul sebagai nama kampung atau identitas asal seseorang. Saat itu saya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Namun beberapa tahun kemudian, ketika membaca berbagai catatan sejarah lokal, mendengarkan tuturan para tetua adat, dan melakukan penelusuran lapangan di sejumlah kampung di wilayah Kecamatan Aesesa, Kecamatan Aesesa Selatan dan Kecamatan Wolowae, nama yang sama kembali muncul. Bahkan muncul terlalu sering.
Di Redu terdapat kisah tentang Ebu Jogo Sela. Di Mbay dan Dhawe hidup legenda Karaeng Jogo. Sementara di pesisir utara Flores Tengah, tepatnya di kawasan Anakoli dan Teluk Sinde, dikenal tokoh bernama Jogo Varilla.
Satu nama: Jogo!
Tiga tokoh.
Tiga kisah yang berbeda.
Awalnya saya menganggap semua itu sekadar kebetulan. Namun semakin banyak data yang terkumpul, semakin sulit pula mengabaikan kemiripan-kemiripan yang muncul.
Jogo Sela: Pengembara yang Menemukan Rumah
Di Kampung Adat Tutubhada, nama Ebu Jogo Sela masih hidup hingga hari ini. Makamnya masih dikenali masyarakat dan menjadi bagian dari memori kolektif warga setempat.
Tradisi lisan menggambarkannya sebagai seorang pengembara, penggembala kerbau, sekaligus pemuka adat yang terus berpindah mengikuti arah perjalanan ternaknya. Ia bukan tokoh penakluk yang memperluas wilayah melalui peperangan.
Ia justru dikenang sebagai sosok yang membaca tanda-tanda alam untuk menemukan tempat tinggal yang tepat.
Perjalanannya dimulai dari Redu Ola, kemudian berpindah ke Wololuba, menuju Bo'a Kupe, lalu Bo'a Mara. Di setiap tempat yang disinggahinya, ia membuka lahan dan membangun kehidupan baru.
Pengembaraan itu akhirnya berakhir di sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Tutubhada.
Menurut cerita para tetua adat, nama Tutubhada berasal dari seekor kerbau betina milik Jogo Sela yang memiliki gelambir panjang hingga menyentuh tanah. Ketika seorang sahabatnya dari Gowa bertanya tentang bukit tersebut, Jogo Sela menjelaskan asal-usul nama itu.
Sang sahabat kemudian memberikan nasihat yang kelak mengubah perjalanan hidupnya.
"Bangunlah rumah di tempat itu. Di sana manusia akan berkembang, ternak akan beranak-pinak, dan kehidupan akan bertumbuh."
Nasihat itu diterima. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya dari Gowa, Jogo Sela membangun Sa'o Ji Fao, rumah adat yang kemudian menjadi pusat kehidupan masyarakat Tutubhada.
Di titik itulah kisah pengembaraan berubah menjadi kisah tentang menetap. Sang pengembara akhirnya menemukan rumahnya.
Karaeng Jogo: Leluhur yang Melahirkan Komunitas Adat Mbay-Dhawe
Sekitar 25 kilometer ke arah utara dari Redu, nama Jogo muncul kembali.
Kali ini bukan sebagai penggembala kerbau, melainkan sebagai seorang bangsawan dari Gowa.
Dalam tradisi lisan masyarakat Mbay yang dicatat Hamilton (1994), Karaeng Jogo dikenang sebagai salah satu leluhur masyarakat Mbay.
Ia diyakini datang dari Sulawesi Selatan pada masa pergolakan besar yang mengguncang Kerajaan Gowa pada abad ke-17.
Sesampainya di Mbay, kisahnya tidak berpusat pada peperangan ataupun pelayaran, melainkan pada perkawinan.
Karaeng Jogo menjodohkan putrinya, Supi, dengan seorang pemuda lokal dari suku Dhawe bernama Tuju Bae. Dari perkawinan itulah lahir komunitas baru yang kemudian berkembang menjadi masyarakat adat Mbay-Dhawe.
Legenda yang paling terkenal berkaitan dengan mahar berupa sebidang tanah seluas kulit kerbau.
Konon, setelah permintaan itu disetujui, Karaeng Jogo memotong kulit kerbau menjadi untaian panjang, lalu membentangkannya mengelilingi dataran pantai. Wilayah yang tercakup dalam bentangan tersebut kemudian menjadi tanah bagi keturunannya.
Benar atau tidaknya kisah itu secara historis mungkin sulit dibuktikan. Namun makna simboliknya sangat jelas.
Masyarakat Mbay lahir dari perjumpaan dua dunia: dunia pendatang dan dunia pribumi; dunia Gowa dan dunia Dhawe.
Seperti Jogo Sela, Karaeng Jogo juga akhirnya berhenti mengembara. Ia berubah menjadi leluhur.
Jogo Varilla dan Kota Jogo
Nama Jogo muncul untuk ketiga kalinya di pesisir utara Flores Tengah.
Dalam catatan Orinbao (1969), terdapat tokoh bernama Jogo Varilla yang datang dari Malaka sekitar pertengahan abad ke-17 dan membangun sebuah permukiman sekaligus benteng pertahanan di Teluk Toto Anakoli. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Kota Jogo (Lewis, 2010).
Namanya sendiri cukup menarik.
Sejumlah peneliti menduga "Jogo" merupakan bentuk lokal dari nama Portugis Diogo, sedangkan "Varilla" kemungkinan berasal dari nama keluarga Varela.
Benteng yang dibangunnya berfungsi sebagai titik pertahanan menghadapi ancaman dari Gowa, Bima, maupun kelompok pelaut Bajo yang aktif berlayar di Laut Flores pada masa itu.
Berbeda dengan dua tokoh sebelumnya, kisah Jogo Varilla tidak berhenti di satu tempat.
Menurut tradisi lokal yang dicatat Orinbao, ia kemudian berlayar ke arah barat menuju kawasan Labuan Bajo, bergerak ke pesisir selatan Flores, lalu melanjutkan perjalanan ke timur hingga jejaknya perlahan menghilang di wilayah Ende.
Seolah-olah ia hanya singgah sebentar dalam sejarah Flores sebelum kembali larut dalam arus besar pergerakan manusia di Nusantara Timur.
Sebuah Kebetulan yang Terlalu Rapi
Semakin lama saya memperhatikan ketiga kisah tersebut, semakin sulit pula menganggapnya sebagai kebetulan biasa.
Ketiganya memiliki nama yang sama.
Ketiganya hidup dalam rentang waktu yang relatif berdekatan, yakni sekitar akhir abad ke-16 hingga abad ke-17.
Ketiganya berkaitan dengan migrasi manusia dari arah utara Flores, terutama jaringan Gowa-Makassar dan dunia maritim Asia Tenggara.
Ketiganya dikenang sebagai figur penting yang membawa perubahan bagi komunitas lokal.
Dan yang paling menarik, seluruh kisah itu berlangsung dalam ruang geografis yang relatif sempit.
Redu dan Mbay hanya berjarak sekitar 25 kilometer. Dari Mbay ke Anakoli dan Teluk Sinde jaraknya sekitar 20 kilometer. Dalam radius kurang dari 50 kilometer, muncul tiga tokoh berbeda yang sama-sama bernama Jogo.
Apakah semua itu sekadar kebetulan?
Mungkin pertanyaan itu justru terlalu sempit.
Barangkali masyarakat Flores tidak sedang mengingat satu orang bernama Jogo.
Barangkali mereka sedang mengingat sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah zaman.
Kita tahu bahwa abad ke-17 merupakan masa yang sangat bergolak di Asia Tenggara. Malaka jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1641.
Kerajaan Gowa-Makassar dikalahkan VOC pada tahun 1669. Setelah itu para bangsawan, pelaut, pedagang, serdadu, dan pengikut Gowa menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Pada saat yang sama jaringan pelayaran Bugis, Bajo, Portugis, dan berbagai kelompok maritim lainnya semakin intensif menjelajahi kawasan timur Indonesia (Hamilton, 1994; Orinbao, 1969).
Flores berada tepat di tengah arus besar pergerakan tersebut.
Kapal-kapal datang dan pergi. Sebagian menetap. Sebagian melanjutkan perjalanan. Sebagian lagi hilang dari catatan sejarah.
Namun tidak semuanya hilang dari ingatan masyarakat.
Dalam kajian tradisi lisan, fenomena seperti ini bukanlah hal yang aneh. Vansina (1985) menjelaskan bahwa tradisi lisan tidak bekerja seperti arsip modern yang menyimpan detail peristiwa secara utuh.
Dalam proses pewarisan antargenerasi, berbagai pengalaman sejarah sering disederhanakan, dirangkum, bahkan dilebur ke dalam figur simbolik yang lebih mudah diingat oleh masyarakat.
Pandangan serupa dikemukakan Halbwachs (1992) melalui teori memori kolektif. Menurutnya, masyarakat tidak mengingat masa lalu secara pasif, melainkan terus-menerus membangun kembali ingatan tersebut sesuai kebutuhan sosial dan identitas kelompok pada zamannya.
Karena itu, beberapa figur sejarah yang berbeda dapat melebur menjadi satu tokoh simbolik, sementara satu tokoh yang sama dapat muncul dalam berbagai versi cerita di tempat yang berbeda.
Dalam perspektif ini, kemunculan nama "Jogo" di Redu, Mbay, dan Anakoli tidak harus dipahami sebagai bukti bahwa ketiganya adalah orang yang sama. Bisa jadi yang sedang bekerja adalah mekanisme memori kolektif masyarakat Flores. Berbagai pengalaman sejarah tentang pendatang dari utara, bangsawan Gowa, pelaut asing, pedagang, misionaris, atau tokoh berpengaruh yang pernah datang ke Flores perlahan-lahan dirangkum ke dalam satu simbol yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan kata lain, "Jogo" mungkin bukan sekadar nama seorang individu.
Ia telah berubah menjadi penanda sejarah.
Pertanyaan yang Lebih Penting
Karena itu, pertanyaan yang paling menarik bukanlah:"Apakah Ebu Jogo Sela, Karaeng Jogo, dan Jogo Varilla adalah orang yang sama?"
Melainkan:Mengapa masyarakat Redu, Mbay, dan Anakoli sama-sama merasa perlu mengingat seseorang bernama Jogo?
Mengapa nama itu bertahan lebih dari tiga abad?
Mengapa kemunculannya selalu berkaitan dengan perpindahan manusia, pembukaan wilayah baru, atau lahirnya komunitas-komunitas baru?
Dan mengapa jejaknya membentuk rantai cerita yang membentang dari Teluk Sinde, dataran Mbay, hingga perbukitan Redu?
Mungkin jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada memastikan identitas ketiga tokoh tersebut.
Bisa jadi "Jogo" bukan nama seseorang yang pernah hidup, melainkan nama yang diberikan ingatan kolektif Flores kepada generasi para pendatang yang mengubah arah sejarah pulau ini.
Sebab di balik nama yang terus berulang itu, tersimpan jejak perjumpaan panjang antara masyarakat lokal Flores dengan para pelaut, pedagang, bangsawan, misionaris, pengembara, dan pendatang dari berbagai penjuru Nusantara maupun dunia maritim Asia Tenggara.
Sebab di balik nama "Jogo" yang terus berulang, mungkin tersimpan memori kolektif masyarakat Flores tentang sebuah abad yang penuh perubahan—abad ketika pelaut Portugis, bangsawan Makassar, pedagang Bugis, pelaut Bajo, dan masyarakat lokal Flores saling bertemu, bernegosiasi, berkonflik, lalu berbaur membentuk wajah Nusa Nipa yang kita kenal hari ini.
Mungkin yang diwariskan masyarakat Flores selama lebih dari tiga abad bukanlah biografi seorang Jogo, melainkan ingatan tentang gelombang besar migrasi, perdagangan, peperangan, dan perjumpaan budaya yang pernah mengubah Flores pada abad ke-17.
Pada akhirnya, yang dikenang masyarakat Flores mungkin bukan seorang Jogo.Melainkan sebuah zaman. ***
Daftar Pustaka:
Buku
Jurnal
Situs Web
Wawancara
setahun yang lalu