Kota Maumere Darurat Sampah, Begini Seruan Uskup dan Rektor Unipa

Rabu, 15 April 2026 22:07 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

uskp.jpeg
Tim Floresku.com bersama Uskupm Maumere, Mgr Ewaldus Martinus Sedu, (Silvia)

MAUMERE, Floresku.com – Kota Maumere dan wilayah sekitarnya kini menghadapi darurat sampah, seiring meningkatnya volume limbah akibat pertumbuhan kota yang kian pesat. 

Pada awal tahun 2026 tercata volume sampah di wilayah layanan utama seperti Alok Timur, Alok Barat, Alok, Kewapante, dan Kangae mencapai sekitar 50 ton per hari, dengan total akumulasi tahunan diperkirakan menyentuh 48.000 ton. 

Tingginya produksi sampah ini tidak diimbangi dengan kapasitas pengangkutan yang memadai.

Kondisi darurat terlihat dari tumpukan sampah yang kerap tidak terangkut, terutama di kawasan Pasar Alok. 

Pada akhir 2025 hingga awal 2026, sampah bahkan meluap hingga ke area dagang, mengganggu aktivitas ekonomi dan kenyamanan masyarakat. 

Jenis sampah yang dominan berasal dari limbah organik seperti sisa sayuran, kulit jagung, batang pisang, serta limbah plastik dari aktivitas pasar.

Baca juga:

Masalah semakin kompleks dengan ditemukannya limbah berbahaya (B3), seperti botol infus dan kemasan bahan kimia pertanian yang dibuang sembarangan di wilayah permukiman, termasuk di Kampung Waerii, Desa Kolisia. Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan dan pencemaran lingkungan.

Di sisi lain, terdapat inisiatif warga dalam mengelola sampah secara mandiri, seperti pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan. 

Namun, upaya ini belum mampu mengimbangi besarnya volume sampah. Pemerintah Kabupaten Sikka sendiri masih menghadapi keterbatasan armada pengangkut, yang saat ini hanya berjumlah enam unit, dengan sebagian dalam kondisi rusak.

Menanggapi situasi ini, Floresku.com menyambangi dua tokoh penting, yakni Uskup Maumere, Mgr Ewaldus Martinus Sedu dan Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere, Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil., M.A, pada awal pekan ini.

Berikut petikan pandangan Uskup Maumere dan Rektor Unipa tentang masalah sampah yang mendera Kota Maumere dan sekitarnya.

Seruan Uskup: Mulai dari Rumah hingga Paroki

Gereja Katolik melalui ajaran Laudato Si’ telah lama menekankan pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama. 

Hal ini kembali diingatkan oleh Uskup Maumere yang menyoroti bahwa masalah sampah bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran moral.

Ia mencontohkan kedisiplinan umat saat kunjungan Pope Francis ke Jakarta. Setelah perayaan besar di kawasan Gelora Bung Karno, area tersebut tetap bersih.

“Itu contoh yang sangat baik. Artinya, kalau ada kesadaran bersama, kita bisa menjaga lingkungan tetap bersih,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Dari rumah tangga, kesadaran itu kemudian dibawa ke komunitas basis (KUB), paroki, hingga sekolah-sekolah.

“Masalah sampah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita harus benahi dari lingkungan rumah, lalu ke komunitas, dan seterusnya,” tegasnya.

Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere, Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil., M.A,

Rektor Unipa: Perjuangan Panjang dan Konsistensi

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Nipa Maumere menegaskan bahwa perubahan budaya tidak bisa terjadi secara instan. 

Ia mengisahkan pengalaman seorang narasumber dari Belanda yang menyebut bahwa negaranya membutuhkan hingga 100 tahun untuk membangun kesadaran bebas sampah.

“Kalau di Eropa butuh satu abad, kita di Maumere juga harus siap berproses panjang. Tapi bukan berarti kita menyerah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kunci utama adalah konsistensi. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, termasuk apel kampus, ia terus mengingatkan pentingnya disiplin dalam mengelola sampah.

Upaya itu tidak selalu mudah. Pada awalnya, ia mengaku menghadapi sikap sinis dari sebagian pihak. Namun, ia tetap teguh karena meyakini bahwa perubahan harus dimulai dari keteladanan.

Setiap hari, ia bahkan memungut sampah sendiri di area kampus—mulai dari plastik, kertas, hingga puntung rokok. Tindakan sederhana ini menjadi simbol komitmen nyata.

“Kita tidak boleh lelah mengingatkan. Ini bukan soal pujian, tapi soal tanggung jawab,” katanya.

Problem Sistemik dan Mentalitas

Meski berbagai upaya telah dilakukan, tantangan besar masih dihadapi. Rektor Unipa menyoroti persoalan sistem pengangkutan sampah yang belum memadai. 

Ia bahkan pernah mendokumentasikan kendaraan pengangkut sampah terbuka yang menyebabkan sampah berceceran sepanjang jalan menuju tempat pembuangan akhir (TPA).

“Akibatnya, wilayah yang dilalui justru ikut tercemar. Ini problem serius,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa akar persoalan tidak hanya pada sistem, tetapi juga pada mentalitas masyarakat, termasuk para pemimpin.

Ia juga mengakui bahwa aksi-aksi bersih lingkungan yang pernah dilakukan, termasuk bersama Uskup, sering kali masih bersifat simbolis dan belum berkelanjutan.

Butuh Gerakan Bersama

Baik pihak Gereja maupun kampus sepakat bahwa solusi atas persoalan sampah di Maumere membutuhkan gerakan bersama yang konsisten dan berkelanjutan. Kesadaran ekologis tidak bisa dibangun dalam waktu singkat, tetapi harus terus dihidupkan melalui edukasi, keteladanan, dan komitmen kolektif.

Dengan potensi wisata alam yang indah, Flores—khususnya Maumere—diharapkan tidak terus dirusak oleh persoalan sampah yang sebenarnya bisa dikendalikan jika semua pihak bergerak bersama. (Silvia & Ilse Gobang). ***