Sikka
Selasa, 01 September 2026 10:44 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Abraham Runga Mali
Jurnalis dan Koordinator Indonesia Financial Watch (IFW)
Polemik geothermal di Flores tidak pernah hanya soal energi. Akan tetapi, ia membawa serta percakapan tentang pembangunan, lingkungan, tanah, air, keselamatan, hak masyarakat, hingga masa depan ekonomi pulau ini.
Belakangan, perdebatan itu bergerak lebih jauh lagi. Persoalannya tidak lagi semata-mata apakah geothermal harus diterima atau ditolak, melainkan bagaimana kita mengetahui sesuatu sebagai benar—dan bagaimana kebenaran itu kemudian dipakai sebagai dasar mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
Di tengah perdebatan itu, saya membaca beberapa tulisan Dr Felix Baghi SVD, Dr Ing Ignasius Iryanto Djou, dan Primus Dorimulu mengenai geothermal Flores.
Ketiganya datang dari latar belakang yang berbeda. Felix adalah seorang filsuf. Ignasius tumbuh dalam tradisi sains dan teknik. Primus adalah wartawan ekonomi senior yang puluhan tahun membaca pembangunan melalui kebijakan, investasi, pertumbuhan, dan kesejahteraan.
Perbedaan latar belakang itu membuat cara mereka melihat geothermal juga berbeda.
Namun, setelah membaca tulisan-tulisan mereka dengan lebih tenang, saya menemukan sesuatu yang menarik. Mereka sebenarnya tidak sepenuhnya sedang membicarakan hal yang sama. Mereka melihat objek yang sama dari tiga jendela berbeda.
Kalau harus diringkas dalam tiga kata, Felix terutama berbicara tentang legitimasi. Ignasius berbicara tentang pembuktian. Primus berbicara tentang kesejahteraan.
Dan mungkin justru di antara tiga kata itulah jalan dialog geothermal Flores dapat ditemukan.
Felix dan Pertanyaan tentang Legitimasi
Felix Baghi tidak melihat geothermal hanya sebagai persoalan teknologi. Ia melihatnya sebagai persoalan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan.
Siapa yang menentukan apa yang disebut pembangunan? Siapa yang berhak mengatakan sebuah proyek aman? Siapa yang menentukan tingkat risiko yang harus diterima masyarakat?
Dan apakah masyarakat benar-benar terlibat dalam menentukan arah proyek, atau hanya diberi penjelasan setelah keputusan besar dibuat?
Dari sinilah Felix masuk ke persoalan legitimasi. Sebuah proyek mungkin memiliki izin. Ia mungkin mempunyai studi teknis. Ia mungkin dinyatakan layak oleh para ahli.
Namun bagi Felix, semua itu belum dengan sendirinya membuat proyek tersebut memiliki legitimasi sosial.
Masyarakat yang hidup di wilayah proyek mempunyai pengalaman, sejarah, hubungan dengan tanah, sumber air, kebun, leluhur, dan ruang hidup yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh laporan teknis.
Pertanyaan Felix tentu tidak muncul dari ruang kosong. Kedekatannya dengan masyarakat dan pengalaman mendengar berbagai keluhan membuat ia tidak hanya mempertanyakan proyek, tetapi juga terlibat dalam advokasi.
Di sinilah kritik Felix menjadi penting.
Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat berubah menjadi instrumen kekuasaan apabila dipakai bukan untuk membuka pemahaman, tetapi untuk menutup pertanyaan.
Bahasa teknis memang dapat terdengar objektif. Tetapi tetap ada pertanyaan: siapa yang memilih data? siapa yang melakukan penelitian? siapa yang menentukan parameter? siapa yang memiliki akses terhadap hasil kajian?
Karena itu, bagi Felix, geothermal tidak cukup hanya dibuktikan secara teknis. Ia harus memperoleh legitimasi.
Dalam bentuk paling keras, kritik itu bahkan sampai pada kemungkinan bahwa proyek pembangunan dapat menjadi bentuk kolonisasi baru apabila masyarakat kehilangan kemampuan menentukan ruang hidupnya sendiri.
Di sinilah kekuatan sekaligus risiko cara berpikir Felix. Kekuatannya adalah mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak pernah hanya soal teknologi.
Risikonya muncul ketika kritik normatif terhadap kekuasaan terlalu cepat bergerak menjadi kesimpulan teknis tentang geologi, reservoir, gempa, atau keselamatan.
Pada titik itu, filsafat membutuhkan pijakan ilmu kebumian.
Ignasius dan Disiplin Pembuktian
Ignasius Iryanto Djou datang dari arah yang hampir berlawanan. Ia membaca geothermal melalui pertanyaan teknis.
Bagaimana mekanismenya? Apa datanya? Apakah pengalaman buruk di satu lokasi bisa digeneralisasi ke seluruh Flores? Apakah geothermal konvensional bisa begitu saja disamakan dengan Enhanced Geothermal System? Apakah sebuah gempa benar-benar mempunyai hubungan sebab-akibat dengan aktivitas geothermal?
Cara berpikir seperti ini sangat penting dalam perdebatan publik. Sebab ruang publik mudah sekali mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Gempa terjadi. Tidak jauh dari daerah itu ada proyek geothermal. Lalu muncul kesimpulan: geothermal menyebabkan gempa.
Ignasius mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak bekerja dengan cara seperti itu. Hubungan kausal harus dibuktikan. Kita membutuhkan data episenter dan hiposenter.
Kita perlu mengetahui mekanisme sumber gempa. Kita membutuhkan peta patahan. Data tekanan reservoir. Data injeksi. Pola mikro-seismik. Jarak antara sumber gempa dan fasilitas geothermal.
Tanpa data-data itu, hubungan tersebut paling jauh masih merupakan hipotesis.
Dalam konteks inilah Ignasius membawa sesuatu yang sangat penting ke dalam polemik geothermal Flores: disiplin pembuktian.
Namun pendekatan teknis juga mempunyai keterbatasannya sendiri.
Keberhasilan proyek geothermal di tempat lain tidak otomatis membuktikan bahwa suatu lokasi di Flores aman.
Kamojang tidak sama dengan Mataloko. Lahendong tidak sama dengan Ulumbu. Sokoria mempunyai karakternya sendiri. Setiap reservoir berbeda. Setiap patahan mempunyai kondisi berbeda. Setiap wilayah mempunyai hubungan sosial dan ekologis yang berbeda.
Karena itu, teknologi yang berhasil secara umum tetap harus diuji secara lokal.
Menariknya, dalam tulisan-tulisan berikutnya Ignasius terlihat bergerak ke posisi yang semakin terbuka. Ia mengakui perlunya memeriksa pengalaman Mataloko. Ia memberi ruang bagi keberatan masyarakat.
Ia juga membuka kemungkinan bahwa sebuah lokasi geothermal, setelah diuji secara serius, dapat saja dinilai tidak layak dikembangkan.
Pada titik itu, sains mulai bertemu legitimasi.
Primus dan Pertanyaan tentang Manfaat
Primus Dorimulu masuk dari pintu yang berbeda. Sebagai wartawan ekonomi senior, cara melihatnya lebih pragmatis.
Apa manfaat geothermal bagi Flores? Apakah ia meningkatkan ketersediaan energi? Apakah energi itu dapat mendorong produktivitas? Apakah industri lokal bisa tumbuh? Apakah kemiskinan dapat dikurangi? Apakah Flores memperoleh nilai tambah?
Pertanyaan ini penting. Sebab perdebatan geothermal terlalu sering berhenti pada dua kata: aman atau berbahaya. Padahal sebuah proyek energi pada akhirnya harus menjawab pertanyaan lain: untuk apa energi itu digunakan? Listrik bukan tujuan akhir. Ia adalah alat.
Kalau geothermal menghasilkan listrik tetapi petani tetap menjual hasil kebun dalam bentuk mentah, nelayan tetap tidak mempunyai cold storage, desa masih kesulitan air, dan anak muda tetap tidak menemukan pekerjaan, maka keberhasilan sebuah pembangkit belum tentu berarti keberhasilan pembangunan.
Di sinilah pendekatan Primus relevan. Ia mengingatkan bahwa proyek energi pada akhirnya harus dibaca dari dampaknya terhadap kehidupan nyata.
Tetapi pendekatan ekonomi juga mempunyai titik rawan. Kesejahteraan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, investasi, atau pendapatan agregat.
Pertanyaan distribusi tetap harus diajukan. Siapa yang menikmati manfaat? Siapa yang kehilangan tanah? Siapa yang menanggung risiko? Siapa yang memiliki saham? Siapa yang hanya menerima kompensasi sekali lalu selesai?
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab, pembangunan dapat terlihat berhasil secara ekonomi tetapi tetap menghasilkan ketidakadilan.
Di sinilah ekonomi membutuhkan koreksi dari Felix.
Tiga Pertanyaan yang Berbeda
Setelah membaca ketiganya, saya melihat polemik geothermal Flores sebenarnya dapat diringkas dalam tiga pertanyaan.
Felix bertanya: Apakah prosesnya legitim dan adil?
Ignasius bertanya: Apakah klaimnya dapat dibuktikan?
Primus bertanya: Apakah hasil akhirnya meningkatkan kesejahteraan?
Ketiga pertanyaan itu seharusnya tidak dipertentangkan. Justru proyek geothermal yang baik harus mampu menjawab ketiganya.
Ia harus layak secara teknis. Ia harus dapat dipertanggungjawabkan secara sosial. Ia harus memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan adil. Kalau salah satunya gagal, proyek tersebut belum selesai diuji.
Jurang yang Sebenarnya
Perbedaan paling tajam di antara ketiganya bukan semata-mata soal siapa yang pro dan siapa yang kontra. Perbedaannya terletak pada beban pembuktian yang mereka anggap paling penting.
Felix cenderung menempatkan beban pembuktian kepada pengembang dan pemerintah.
Kalau sebuah proyek memengaruhi tanah, air, dan kehidupan masyarakat, maka pihak yang membawa proyek harus mampu membuktikan bahwa risikonya dapat diterima dan hak masyarakat dihormati.
Ignasius mengingatkan bahwa beban pembuktian juga berlaku kepada pihak yang mengajukan klaim bahaya. Kalau seseorang mengatakan geothermal menyebabkan gempa, merusak mata air, atau membahayakan seluruh Flores, maka klaim itu juga harus dibuktikan.
Primus menambahkan beban ketiga. Kalau pemerintah mengatakan geothermal diperlukan untuk pembangunan, tunjukkan juga bagaimana energi itu benar-benar meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Ketiga beban pembuktian ini seharusnya berjalan bersama. Pengembang tidak cukup berkata: “Percayalah kepada ahli kami.”
Kelompok penolak juga tidak cukup berkata: “Percayalah kepada pengalaman dan kekhawatiran kami.” Pemerintah pun tidak cukup mengatakan: “Energi akan membawa kesejahteraan.”
Semua pihak harus dapat menunjukkan bagaimana kesimpulannya dibangun.
Gempa sebagai Contoh
Perdebatan tentang gempa Flores baru-baru ini memperlihatkan betapa pentingnya disiplin seperti itu. Secara ilmiah, aktivitas geothermal tertentu memang dapat berkaitan dengan induced seismicity.
Tetapi fakta umum itu tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah gempa tertentu di Flores disebabkan geothermal.
Sebaliknya, kalau sebuah gempa terbukti merupakan gempa tektonik, hal itu juga tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh proyek geothermal bebas dari risiko seismik.
Kita perlu berhenti bergerak dari satu fakta menuju kesimpulan yang terlalu besar. Itulah salah satu masalah ruang publik kita.
Satu kejadian sering dipakai untuk membenarkan seluruh posisi. Padahal ilmu pengetahuan bekerja lebih hati-hati.
Ia membedakan kemungkinan. Hipotesis. Korelasi. Dan kausalitas. Di sinilah filsafat dan sains seharusnya bertemu.
Filsafat mengingatkan kita untuk memperhatikan bagaimana sebuah kesimpulan dibentuk. Sains mengingatkan bahwa kesimpulan membutuhkan metode dan bukti. Keduanya tidak perlu berkompetisi.
Apa yang Bisa Didialogkan?
Pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi: Siapa yang benar di antara Felix, Ignasius, dan Primus?
Pertanyaan yang jauh lebih berguna adalah: Dengan syarat apa geothermal dapat memperoleh legitimasi untuk dikembangkan di Flores? Pertanyaan ini memberi tempat kepada ketiganya.
Dari Felix kita mendapat satu syarat penting: masyarakat harus mempunyai suara yang nyata. Tanah dan ruang hidup tidak boleh diperlakukan hanya sebagai lokasi proyek. Keputusan harus mempunyai legitimasi sosial.
Dari Ignasius kita mendapatkan syarat lain: risiko harus diuji dengan ilmu yang tepat, generalisasi harus dihindari, dan setiap lokasi harus dinilai berdasarkan kondisi geologinya sendiri.
Dari Primus kita memperoleh syarat berikutnya: proyek harus memberikan manfaat ekonomi yang konkret, energi harus terhubung dengan produktivitas, dan kesejahteraan harus menjadi salah satu ukuran akhirnya.
Kalau diringkas, proyek geothermal yang layak setidaknya harus memenuhi empat hal: layak secara teknis, dapat diterima secara risiko, legitim secara sosial, dan adil secara ekonomi.
Kalau empat syarat itu terpenuhi, sebuah proyek pantas dipertimbangkan. Kalau tidak, ia harus diperbaiki, ditunda, dipindahkan, atau bahkan dihentikan.
Tafsir, Bukan Vonis
Pada akhirnya, membaca tiga penulis ini membuat saya melihat bahwa polemik geothermal Flores bukan semata-mata pertarungan antara mereka yang ingin menjaga lingkungan dan mereka yang ingin mengejar pembangunan.
Ia adalah perbedaan cara membaca kenyataan. Felix membaca melalui legitimasi. Ignasius melalui pembuktian. Primus melalui kesejahteraan.
Masing-masing mempunyai kekuatan. Masing-masing juga mempunyai keterbatasan. Karena itu, kita tidak harus memilih hanya satu.
Yang kita butuhkan adalah ruang tempat ketiga cara berpikir itu saling mengoreksi.
Felix dapat mengingatkan Ignasius dan Primus bahwa teknologi dan pertumbuhan tidak otomatis menghasilkan keadilan.
Ignasius dapat mengingatkan Felix bahwa kekhawatiran dan pengalaman tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.
Primus dapat mengingatkan keduanya bahwa perdebatan intelektual pada akhirnya harus kembali kepada kehidupan konkret masyarakat.
Dan Felix dapat kembali mengingatkan Primus bahwa kesejahteraan bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga tentang kepemilikan dan keadilan.
Dari percakapan ketiganya, saya justru melihat satu kebutuhan yang semakin jelas: Flores membutuhkan rumah dialog. Bukan rumah yang memproduksi kesepakatan palsu. Bukan rumah yang penu dengan pertengkaran yang tak ada ujungnya. Bukan pula panggung untuk menentukan siapa yang menang.
Tetapi sebuah tempat di mana setiap cara berpikir bersedia diuji oleh cara berpikir yang lain. Sebab dalam persoalan serumit geothermal, tidak ada satu disiplin yang cukup untuk menjawab semuanya.
Filsafat membantu kita bertanya apakah sebuah keputusan adil. Sains membantu kita mengetahui apakah sebuah klaim benar. Ekonomi membantu kita menilai apakah manfaatnya nyata. Dan masyarakat mengingatkan kita untuk siapa semua keputusan itu dibuat.
Mungkin inilah tafsir paling sederhana dari ketiga pemikiran itu: Felix Baghi mengingatkan bahwa pembangunan tanpa legitimasi dapat berubah menjadi ketidakadilan.
Ignasius Iryanto mengingatkan bahwa ketakutan tanpa pembuktian dapat berubah menjadi kesimpulan yang keliru. Primus Dorimulu mengingatkan bahwa energi tanpa kesejahteraan kehilangan tujuan pembangunannya.
Flores membutuhkan ketiganya. Bukan agar mereka mengatakan hal yang sama. Tetapi agar perbedaan mereka membantu kita membuat keputusan yang lebih baik.
Dan mungkin pertanyaan terakhirnya justru harus diarahkan kepada kita sendiri.
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, pengalaman panjang pembangunan, kekayaan tradisi, dan begitu banyak orang Flores yang terdidik, apakah kita sungguh tidak mampu menemukan cara untuk mengambil keputusan bersama?
Kalau jawabannya masih belum, mungkin persoalannya bukan lagi sekadar geothermal. Mungkin di situlah kualitas manusia dan peradaban Flores benar-benar sedang diuji. ***
9 bulan yang lalu