Ekonomi
Minggu, 08 Maret 2026 17:53 WIB
Penulis:redaksi
Editor:redaksi

Floresku.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti kualitas pengeras suara di sejumlah masjid dan musala yang dinilai masih belum optimal.
Menurutnya, kualitas audio yang kurang baik sering membuat bacaan imam dalam salat atau kegiatan keagamaan tidak terdengar jelas oleh jamaah.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat berdiskusi dengan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bambang Pramujati, di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Jumat (6/3).
Menurut Menag, persoalan teknis seperti kualitas pengeras suara sering kali dianggap sepele, padahal memiliki pengaruh besar terhadap kekhusyukan ibadah. Ia mencontohkan bahwa bacaan imam yang sebenarnya baik dan merdu bisa terdengar kurang jelas apabila sistem audio yang digunakan tidak memadai.
Baca juga:
“Kadang-kadang bacaan imam sebenarnya sangat bagus, tetapi karena kualitas speakernya kurang baik, suaranya tidak jernih. Akibatnya pesan atau makna dari bacaan itu tidak sampai dengan baik kepada jamaah,” ujar Nasaruddin.
Ia menilai bahwa pembenahan sistem pengeras suara di rumah ibadah dapat membantu umat lebih memahami dan menghayati bacaan salat maupun kegiatan keagamaan lainnya. Menurutnya, kualitas suara yang jernih akan membuat pesan keagamaan lebih mudah diterima oleh jamaah.
“Kalau suaranya jelas, orang bisa lebih menghayati. Itu hal sederhana, tetapi dampaknya besar bagi kualitas ibadah,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Rektor ITS Bambang Pramujati menyatakan kesiapan pihak kampus untuk terlibat dalam upaya penataan sistem audio di masjid dan musala melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa ITS memiliki kemampuan teknis di bidang teknologi dan rekayasa suara yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki atau merancang sistem pengeras suara yang lebih baik.
“Kami siap membantu menata sistem speaker agar suara di mushola bisa lebih maksimal,” kata Bambang.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas fasilitas rumah ibadah sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat. (Rachel/Sumber: Kemenag). ***