Bantu
Kamis, 25 Juni 2026 09:43 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

MANILA (Floresku.com) – Kabar membanggakan datang bagi Gereja Katolik di Flores dan Indonesia. Seorang imam misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) asal Maukeli, Flores, Pater Levi Meme, SVD, menerima penghargaan kepausan bergengsi Pro Ecclesia et Pontifice yang dianugerahkan oleh Paus Leo XIV.
Penghargaan tersebut diumumkan secara resmi melalui memorandum Provinsi SVD Philippine Central Province tertanggal 24 Juni 2026.
Dalam surat yang ditandatangani Provinsial SVD Philippine Central Province, Pater Michael G. Layugan, SVD, penghargaan itu diberikan sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian panjang, kesetiaan, dan dedikasi luar biasa Pater Levi dalam melayani Gereja Katolik dan Takhta Suci.
Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice termasuk salah satu penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Vatikan kepada imam maupun kaum awam yang dinilai memberikan jasa istimewa bagi Gereja dan Paus.
Penganugerahan ini sekaligus menjadi pengakuan atas perjalanan hidup seorang misionaris yang selama puluhan tahun berkarya jauh dari tanah kelahirannya.
Pater Levi Meme lahir di Maukeli, Flores, pada 23 Juli 1961. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik sederhana yang menanamkan nilai-nilai iman, kerja keras, dan semangat pelayanan sejak usia dini.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDK Wolokoli. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Santo Yohanes Berchmans Todabelu, Mataloko, tempat ia menjalani pendidikan tingkat SMP dan SMA. Lingkungan seminari menjadi tempat yang semakin meneguhkan panggilannya untuk menjadi imam dan misionaris.
Baca juga:
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Levi muda melanjutkan pembinaan religius di Novisiat Serikat Sabda Allah (SVD) Ledalero. Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan religius secara resmi sebagai calon misionaris SVD dan mengikrarkan kaul pertamanya pada tahun 1983.
Perjalanan formasinya berlanjut di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, yang kini dikenal sebagai Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere. Di lembaga pendidikan tinggi yang telah melahirkan banyak imam, teolog, dan intelektual Katolik Indonesia itu, ia mendalami filsafat, teologi, dan spiritualitas misioner SVD.
Setelah melewati seluruh proses pendidikan dan pembinaan, Pater Levi ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1989. Tahbisan tersebut menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai misionaris Gereja Katolik.
Tidak lama setelah ditahbiskan, Pater Levi menerima perutusan ke Filipina di bawah SVD Philippine Central Province. Sebagai seorang imam muda dari Indonesia, ia menghadapi tantangan baru berupa bahasa, budaya, dan lingkungan sosial yang berbeda.
Namun semangat misionernya membuat ia cepat beradaptasi. Ia mempelajari bahasa Tagalog dengan tekun hingga mampu berkomunikasi secara fasih dengan umat dan masyarakat setempat. Kemampuan berinkulturasi inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelayanannya.
Selama periode 1990 hingga 2005, Pater Levi melayani di berbagai paroki di wilayah Occidental Mindoro, Filipina. Ia pernah berkarya di Paroki San Sebastian, Sablayan, kemudian menjadi Pastor Paroki St. Joseph, Paluan, dan selanjutnya memimpin Paroki St. Therese of Avila di Sta. Teresita, Magsaysay.
Di berbagai tempat tugas tersebut, ia dikenal sebagai imam yang sederhana, mudah bergaul, dan dekat dengan umat. Ia tidak hanya hadir dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga aktif mengunjungi keluarga-keluarga, mendampingi kaum muda, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pelayanannya yang membumi membuat dirinya diterima dengan hangat oleh masyarakat Filipina. Banyak umat mengenangnya sebagai pastor yang selalu hadir di tengah kehidupan mereka.
Sebagai bagian dari pengembangan hidup religius dan pelayanan, Pater Levi juga mengikuti program pembaruan SVD di Nemi, Roma, Italia. Ia termasuk dalam kelompok imam SVD Angkatan Yubileum Tahun 2000 yang berasal dari berbagai negara.
Program tersebut memberikan kesempatan bagi para imam untuk memperdalam spiritualitas, memperbarui semangat misioner, dan merefleksikan kembali panggilan hidup mereka dalam konteks Gereja universal.
Setelah bertahun-tahun berkarya di paroki, Pater Levi dipercaya menjalankan tugas yang berbeda. Ia mulai terlibat dalam pelayanan di lingkungan Nunsiatur Apostolik Manila, kantor perwakilan diplomatik Vatikan di Filipina.
Dalam tugas ini, ia mendampingi para Duta Besar Vatikan dalam berbagai kegiatan resmi Gereja. Pelayanan tersebut sering disebut sebagai “misi di balik layar”, tetapi memiliki peran penting dalam mendukung hubungan antara Takhta Suci dan Gereja lokal.
Pater Levi turut terlibat dalam berbagai peristiwa penting Gereja Katolik di Filipina, termasuk perayaan pengangkatan Tempat Ziarah Manaoag menjadi Basilika Minor. Ia juga memainkan peran penting dalam berbagai kegiatan besar yang melibatkan para uskup, imam, dan pejabat Gereja dari berbagai negara.
Kesibukannya semakin meningkat ketika Paus Fransiskus melakukan kunjungan apostolik ke Filipina. Dalam momen bersejarah tersebut, ia ikut membantu berbagai persiapan dan koordinasi pelayanan yang melibatkan jutaan umat Katolik.
Penghargaan yang diterima Pater Levi menjadi kebanggaan bagi masyarakat Flores, khususnya Maukeli, serta keluarga besar Serikat Sabda Allah di Indonesia. Dari sebuah kampung sederhana di Flores, ia menapaki perjalanan panjang yang membawanya menjadi misionaris internasional dan pelayan Gereja universal.
Lebih dari tiga puluh lima tahun hidup imamatnya dihabiskan untuk melayani umat lintas budaya dan lintas bangsa. Kesetiaan, kerendahan hati, dan dedikasinya kini mendapat pengakuan langsung dari Takhta Suci melalui penghargaan yang diberikan oleh Paus Leo XIV.
Bagi banyak orang muda Flores, kisah hidup Pater Levi menjadi inspirasi bahwa panggilan besar dapat lahir dari tempat yang sederhana. Dengan iman, kerja keras, dan kesetiaan pada panggilan Tuhan, seorang anak kampung dari Maukeli mampu mengabdikan hidupnya bagi Gereja dunia.
Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice yang diterimanya bukan hanya penghormatan bagi dirinya pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Flores, Indonesia, dan seluruh umat yang pernah disentuh oleh pelayanannya selama ini. (Sandra/Sumber: Katolikku.com). ***
8 bulan yang lalu
9 bulan yang lalu