pariwisata
Minggu, 11 Oktober 2026 11:45 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), terus memacu kebangkitan seni musik tradisional bambu. Langkah ini diambil untuk memperkuat karakter budaya daerah sekaligus menambah keanekaragaman daya tarik wisata di kawasan Labuan Bajo.
Sebagai langkah konkret, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Mabar menggelar Pelatihan Seni Musik Tradisional Bambu bagi pelajar tingkat SMA se-Kabupaten Manggarai Barat di Hotel Prundi, Labuan Bajo, Sabtu (10/10).
Kepala Dinas Pariwisata Mabar, Peter Antonius Rasyd, menjelaskan bahwa upaya menjaga warisan tradisi menjadi kian krusial di era digital dan pesatnya arus kecerdasan buatan (AI).
Budaya, menurutnya, bukan sekadar simbol warisan leluhur, melainkan aset potensial untuk menyokong sektor pariwisata yang sedang berkembang pesat.
"Bagaimana kita menghidupkan budaya sebagai identitas, di sisi lain bagaimana kita mengoptimalkan keberadaan budaya untuk mendukung industri kepariwisataan yang sedang booming dan happening di Labuan Bajo maupun Manggarai Barat," ungkap Peter.
Daya Tarik Baru Bagi Wisatawan Manca Negara
Data riset lokal mencatat adanya kenaikan minat turis terhadap seni budaya di Labuan Bajo, dari yang semula 5 persen kini menyentuh angka 7 persen. Meski wisata bahari dan pesona Komodo masih menjadi magnet utama, pertunjukan musik bambu dinilai punya peluang besar dalam menyajikan variasi hiburan yang berbeda.
Baca juga:
Peter menilai para pelancong asing sangat menggemari pengalaman yang autentik dan bernilai kearifan lokal. Oleh sebab itu, alunan musik bambu khas Manggarai Barat dinilai sangat potensial untuk terus diasah dan disajikan secara profesional.
Mendorong Sinergi Lintas Sektor dan Peran Generasi Z
Guna mengoptimalkan gaung musik daerah, pemda mengingatkan kembali imbauan bagi para pelaku bisnis hospitality—seperti hotel dan restoran—agar rutin memperdengarkan musik khas Manggarai di area publik mereka.
Di samping itu, pihak sekolah menengah juga diimbau mendirikan sanggar seni yang menempatkan musik bambu sebagai atraksi utama.
Jika dikelola secara konsisten, seni pertunjukan ini diproyeksikan mampu menghidupkan konsep pariwisata berbasis komunitas, seperti di kawasan desa wisata Wae Lolos dan sekitarnya.
Peter menekankan bahwa agenda pelestarian ini memerlukan sinergi dari seluruh elemen, mulai dari institusi pendidikan, para pendidik, pelajar, pelaku usaha, hingga warga lokal. Ia menaruh harapan besar agar para pelajar yang mengikuti pelatihan dapat menjadi pilar utama pelestari tradisi di tengah gempuran tren musik modern.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kolaborasi dari teman-teman semuanya. Adik-adik bisa menjadi duta generasi Z untuk mendorong pelestarian musik bambu ke depan," tegasnya. (Vinsen P.)