Jumat, 03 September 2021 10:13 WIB
Penulis:redaksi
Editor:Redaksi

Nama Lengkap : Isidora Anggraini Thelma Da Gomez
Nama pena : Anggraini Da Gomez
Usia : 21 Tahun
Domisili : Maumere, Flores NTT
Judul buku terbit : Promise dan Alen and Her Mission
Judul naskah : Sweet Memory ( Rindu di Ujung Perpisahan)
Sinopsis :
Perjuangkan seorang gadis bernama Thalia bersama keluarganya, yang harus melawan Covid 19 setelah dinyatakan positif. Begitu banyak tantangan harus dilalui selama menjalankan masa karantina mandiri di rumah. Dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit jika sang mama harus dilarikan ke rumah sakit karena sesak napas. Dilanjutkan sang bapak menyusul setelahnya, karena memiliki riwayat penyakit lain yang memperarah keadaan.
Pada akhirnya, sang mama bisa dinyatakan pulih dengan hasil negatif sehingga kembali pulang. Namun, menyisakan sang bapak yang sedang berjuang di ruang isolasi sendirian dalam kondisi tak sadar. Tak ada yang bisa dilakukan, apalagi mengunjungi di tengah kondisi pandemi seperti sekarang. Hanya bisa bertukar kabar dengan dokter yang setia menangani, serta menghaturkan doa agar sang kepala keluarga bisa pulih dan dinyatakan kembali pulang.
JALANAN Kota Maumere terlihat lengang siang ini. Deru mesin kendaraan, tak seramai biasanya. Semenjak pandemi melanda, kota yang mendapat julukan Kota Toleransi beragama itu pun mengurangi mobilitasnya. Sama seperti keadaan Jakarta dan beberapa kota di Indonesia, semua kegiatan dilakukan dari rumah. Baik sekolah maupun bekerja memanfaatkan aplikasi canggih yang makin bermunculan, untuk mengatasi pandemi saat ini.
Begitu juga dengan yang dilakukan gadis berusia dua puluh satu tahun itu. Di sebuah rumah dinas, dengan model minimalis bercat hijau. Dia begitu menekuri kuliah daring yang sedang berlangsung. Menjadi mahasiswa baru pada salah satu universitas di Bali, setelah hampir tiga tahun memilih beristirahat sejenak dari dunia pendidikan dengan alasan tertentu.
Sejak bangun hingga menjelang siang, tak sedikit pun dia beranjak. Manik hitam segelap malam itu sibuk mendengarkan penjelasan dari dosen yang terpampang pada layar android miliknya.
Tangannya begitu asyik menulis apa saja yang menurutnya merupakan bagian inti dari mata kuliah yang sedang berlangsung. Sambil sesekali menikmati segelas teh hangat dan sepiring ubi goreng bersama sambal yang begitu menggugah selera.
"Thalia, apa sudah selesai?" Gadis dengan nama lengkap Thalia Anggraini itu menoleh. Sosok wanita paruh baya berkacamata berdiri di depan pintu kamar, dengan penasaran.
Gadis itu menggeleng kecil, menyesap beberapa kali teh hingga tersisa setengah.
"Memusingkan," jawabnya sedikit kesal.
Sang mama tersenyum tipis. Hatinya menghangat melihat putri keduanya bisa menikmati masa kuliah meskipun melalui daring, dan sama sekali belum menginjakkan kaki di kampusnya. Setidaknya, impian Thalia untuk mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah terpenuhi, dengan adanya beasiswa yang didapatnya dari pemerintah.
"Mama sudah pulang dinas?" Gadis berambut sebahu itu mengamati pakaian yang dikenakan sang mama. Baju setelan biru muda khas pakaian bidan melekat di tubuh tambunnya.
"Sudah, ada dua pasien yang harus disiapkan makanannya."
Thalia mengangguk paham, bertepatan dengan meeting zoom yang baru saja selesai oleh sang dosen. Gadis itu mematikan ponsel, membawa gelas serta piring ubi mengikuti langkah Fina---sang mama menuju ruang tengah.
Suara Tv yang terdengar cukup kencang menarik perhatian keduanya. Sudah ada sosok Gina, sang adik serta Ardi, sang kepala keluarga yang sedang menonton acara musik dari salah satu channel.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Fina menatap suami serta putri bungsunya bergantian.
Dua jawaban berbeda didapat dari Ardi dan Gina. Remaja yang berusia tujuh belas tahun itu mengangguk, sedangkan Ardi menggeleng cepat.
"Bapak sudah sarapan, Ma. Tadi kami makannya bersamaan," sahut Gina cepat.
Fina menatap Ardi. "Kurangi porsi makan! Ingat sama penyakit diabetesnya!" peringat Fina, memilih ke kamar untuk beristirahat.
Wanita paruh baya itu berprofesi sebagai bidan desa pada salah satu puskemas di sebuah kecamatan. Sudah dua dua puluhan tahun, Fina mendapat tugas di sebuah Desa Koting dan menetap di rumah dinas yang telah disediakan pemerintah. Berbeda dengan Ardi, berusia enam puluh enam tahun yang merupakan pensiunan ASN sejak sepuluh tahun lalu.
Mendengar teguran sang istri, Ardi mendelik tak suka. Pria tua itu memang sangat susah dinasehati untuk hal-hal demi kebaikannya. Didiagnosis memiliki penyakit diabetes, membuat Fina benar-benar mengatur pola makan bagi sang suami. Walaupun harus mengalami perdebatan setiap harinya jika berurusan dengan makanan. Sikap keras kepala Ardi sudah dihafal luar kepala oleh Fina, Thalia, serta Gina. Sementara, Nela---putri sulungnya sejak kecil menetap di rumah tantenya. Jadi, gadis yang sedang menyelesaikan skripsinya itu tak terlalu tahu bagaimana watak sang bapak.
"Justru karena sakit, bapak harus makan banyak!" sahut Ardi keras.
Thalia menggeleng, menatap bapaknya kesal. "Jangan keras kepala, Bapak! Ingat pesan Dokter saat itu!"
Ardi memang beberapa kali masuk rumah sakit. Penyakit diabetes yang diderita cukup parah, hingga menimbulkan luka pada kaki dan berakibat kesusahan berjalan. Hal itu yang membuat Fina dan dua putrinya sering mewanti agar Ardi bisa menjaga pola makan. Namun, apa daya jika pensiunan itu selalu menang ketika berdebat.
"Terserah saja, Kak. Selalu dinasehati malah dianggap remeh!" Gina menimpali, kembali fokus pada layar persegi di depannya.
Thalia pun mengedikkan bahu malas. Mau menasehati pun tak ada gunanya lagi. Dia membiarkan saja, Ardi kembali menikmati sarapannya. Pola makan tidak teratur, dan tak pernah pantang terhadap jenis makanan yang dilarang dokter, membuat diabetes Ardi selalu kambuh.
***
Langit jingga membentang sepanjang angkasa. Ditemani kicauan burung yang saling bersahutan, Thalia dan Gina sibuk bercerita di depan teras. Seperti biasa, topik keduanya adalah cerita fiksi yang dibaca dari salah satu platform orange.
Keduanya menjadi salah satu dari jutaan pembaca wattpad di dunia, yang begitu menggilai platform itu. Apalagi jika salah satu cerita sang penulis diangkat ke layar lebar, dengan penampilan aktor serta artis yang digilai remaja.
"Dia benar-benar tampan," celetuk Gina sambil menunjukkan foto berisi salah satu aktor yang dimaksud.
"Kamu benar. Hanya saja, aku tidak suka dengan gaya rambutnya yang sekarang. Dia lebih cocok berambut pendek seperti biasa. Tidak gondrong seperti sekarang," timpal Thalia sambil menggulirkan layar ponselnya, mencari event menulis yang biasanya bertebaran di berbagai media sosial.
Sudah beberapa bulan ini, selain sibuk kuliah, Thalia juga mulai aktif dalam dunia literasi. Memiliki hobi membaca dan menulis, gadis itu mulai mengalirkan bakat yang dipendamnya sejak dulu. Dia juga memulai menulis dari platform orange dan telah mengumpulkan banyak followers serta menghasilkan beberapa cerita dengan view mencapai ratusan ribu.
"Tetap saja dia tampan!" Gina tak mau kalah.
"Thalia, bisa bantu mama siapkan makanan untuk pasien?" Fina muncul dari dalam.
Thalia mengangguk ringan, mematikan ponsel dan mengikuti langkah sang mama. Keduanya sibuk mengolah masakan untuk dua pasien ibu hamil di puskesmas. Fina memang mendapat tugas, untuk memasak bagi setiap ibu hamil yang sudah berada di puskesmas atau rumah tunggu. Jadi, selain membantu melahirkan para ibu hamil, tugas Fina pun turut memasakkan makanan bagi mereka. Tentunya, dengan biaya yang didapat dari bagian kebidanan.
"Bapak kamu masih tidur?" tanya Fina.
"Masih, Ma. Jam tidur dihabiskan dengan menonton, tanpa mau beristirahat."
"Mau bagaimana lagi? Sikap keras kepala dan mau menang sendiri, memang sudah mendarah daging," keluh Fina lelah.
Thalia mengamati wajah mamanya. Wanita itu sungguh luar biasa dengan segala perjuangannya hingga detik ini. Semenjak Ardi pensiun, semua tanggung jawab seolah diambil alih olehnya. Selain sebagai bidan, Fina sering kali juga menerima pesanan kue dan juga beberapa kali diminta menjadi juru masak dalam sebuah pesta yang digelar. Tak sedikit pun wanita itu mengenal rasa lelah, karena semua demi keluarganya. (Bersambung)