OBITUARI: Pak Thobias Djadji, Guru yang Selalu Kami Rindukan

Kamis, 15 Oktober 2026 13:11 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

tlrm.jpg
Thobias Djadji, Owner & Director of PT Tri Link Indonesia (PT Tri Link Indonesia)

Oleh Abraham Runga Mali

JAKARTA (Floresku.com) -  Ia mengajarkan Bahasa Inggris, tetapi yang tinggal dalam ingatan kami jauh lebih luas daripada sebuah pelajaran: semangat, persahabatan, dan cara menjadi manusia yang menyenangkan bagi sesama.

Kabar duka itu datang pada pagi hari. Pak Thobias Djaji, guru Bahasa Inggris kami di Seminari Mataloko, telah berpulang di rumahnya sekitar pukul delapan pagi.

Di antara keluarga besar alumni Seminari Mataloko (Alsemat) dan Ikatan Alumni SMA Syuradikara (IAS), kabar ini tentu membawa kesedihan tersendiri. 

Selama satu atau dua dekade terakhir di Jakarta, Pak Thobias hadir sebagai seorang senior yang dicintai banyak orang. Ia bukan sekadar mantan guru yang sesekali dikenang, melainkan sosok yang selalu menyenangkan setiap kali dijumpai.

Baca juga:

Apa sebenarnya kehebatan Pak Thobias atau lebih akrab dengan Pak Thoby?  Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Ia bukan tipe orang yang harus tampil menonjol untuk mendapatkan perhatian. Ia tidak perlu banyak bicara untuk membuat orang merasa dekat. Yang selalu teringat justru senyumnya, kesediaannya mendengarkan, dan caranya menyambut orang lain tanpa membuat jarak.

Saat para senior Ikatan Alumni Syuradikara (IAS) berkunjung ke rumah Kak Thoby 27 Juni 2026

Mungkin di situlah letak keistimewaannya. Ada orang yang dikenang karena prestasinya, ada yang dihormati karena kedudukannya, tetapi ada pula yang dicintai karena kehadirannya membuat orang lain merasa diterima. Pak Thobias adalah salah satunya.

Hal itu mungkin karena Pak Thobias seperti sudah mencapai apa yang dikejarnya sejak masa muda. Dia tidak bermasalah dengan dirinya. Ia seperti membenarkan pepatah tua ini: Donnec eris felix, multos, numerabilis amicos (Berjalan baik dengan diri Anda, maka Anda akan memiliki banyak sahabat).

Empat Guru Muda di Mataloko

Saya mengenal Pak Thobias  atau Pak Tobby pertama-tama sebagai seorang guru. Ketika masuk kelas satu SMP Seminari Mataloko pada 1980, beliau mengajar Bahasa Inggris. 

Bersama beberapa guru muda lainnya, ia membawa suasana yang berbeda ke dalam kehidupan seminari, yang saat itu masih didominasi oleh para pendidik senior, termasuk Kanis Riberu, Piet Kleophas. Mikhael Remi, dan Ibu Agus Kesu Dhone.

Ada empat guru muda yang cukup menonjol dalam ingatan kami: Pak Tobby, Pak Rius Rodja, Pak Agus Retu, dan Pak Yoseph Dopo. Kecuali Pak Yoseph, ketiga yang lain merupakan lulusan Sanata Dharma, Yogyakarta.

Mereka membawa energi baru ke tengah kehidupan para seminaris. Di lingkungan pendidikan yang banyak dibentuk oleh para imam dan misionaris Eropa—seperti Pater Engels dan Pater Kurt Bard dari Jerman, serta Pater Yan Koslowsky dari Polandia—kehadiran mereka memberi warna tersendiri. 

Mereka relatif muda, akrab dengan dunia anak-anak didiknya, dan memiliki kegemaran serta bakat yang membuat mereka mudah diingat dan bahkan kehadiran mereka  dirindukan di tengah asrama yang dingin dan sepi. 

Keempatnya juga bersahabat di luar sekolah. Mereka bahkan pernah bersepakat membeli sebuah bus yang melayani jurusan Ende–Bajawa. 

Barangkali itu merupakan ikhtiar untuk menopang kehidupan ekonomi mereka, mengingat penghasilan sebagai guru di lingkungan gereja tentu tidak besar. Sebuah gagasan yang menarik, meski kemudian, sejauh yang saya ingat, kebersamaan bisnis itu tidak berlangsung selamanya.

Namun, terlepas dari urusan bisnis mereka, ada sesuatu yang jauh lebih membekas bagi kami: semangat yang mereka bawa ke dalam kehidupan seminari.

Pak Yoseph Dopo adalah guru olahraga sekaligus penjaga gawang PSN yang andal. Pak Rius Rodja mengajar sejarah dan dikenal juga sebagai pemain PSN yang hebat. Posturnya tinggi besar, mengingatkan kami pada orang Eropa. Seusai turnamen Eltari Cup di Kupang, cerita tentang sepak bola kerap menjadi bahan percakapan mereka.

Baca juga:

Pak Rius juga memiliki bakat musik yang luar biasa. Selain mampu menggubah lagu, ia bisa memainkan berbagai alat musik. 

Kadang-kadang, pelajaran sejarah berubah menjadi latihan koor, terutama ketika ia ingin menguji lagu-lagu hasil gubahannya. Bagi kami, tentu saja, itu pengalaman yang menyenangkan: sejarah, musik, dan kehidupan sehari-hari seakan berbaur di dalam satu ruang kelas.

Pak Rius dan Pak Yoseph berasal dari wilayah Jereburu, Aimere. Sementara itu, Pak Agus Retu dari Wolowiro, yang juga mengajar sejarah, senang membangkitkan semangat politik kami melalui cerita-cerita tentang pergerakan di Jawa. 

Dari mereka, kami belajar bahwa seorang guru dapat membuka jendela yang jauh lebih luas daripada hanya sekadar halaman buku pelajaran.

Lalu, ada Pak Thobias Djaji.

English Night dan Kelas yang Selalu Hidup

Pak Thobias memiliki kekhasan tersendiri. Kelas Bahasa Inggrisnya hidup. Ia mampu membuat kami tertarik mempelajari bahasa asing yang bagi sebagian anak Flores saat itu terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ia pintar berbicara, energik, dan tahu bagaimana membangun suasana. Ia jarang marah, tetapi tetap disegani. Barangkali karena ia tidak mengandalkan kemarahan untuk membuat murid-muridnya memperhatikan pelajaran. Ia membuat kami tertarik terlebih dahulu, lalu membawa kami masuk ke dalam dunia yang ingin diperkenalkannya.

Salah satu kenangan yang paling melekat pada alumni Seminari Mataloko adalah English Night.

Malam itu menjadi ruang bagi para seminaris untuk tampil dan menggunakan Bahasa Inggris melalui lagu, puisi, serta drama pendek. 

Bahasa Inggris tidak lagi sekadar kata-kata dalam buku atau kalimat yang harus diterjemahkan. Bahasa itu menjadi sesuatu yang bisa diucapkan, dinyanyikan, diperankan, dan dinikmati bersama.

Seorang teman seangkatan, Valens Daki Soo, setelah mendengar kabar kepergian beliau, langsung menuliskan kenangannya di grup angkatan:

"Kasian ee...

Bapa Guru Thoby Djaji, guru bahasa Inggris yg selalu kami tunggu setiap kali les beliau.

Teringat 'English Night' yg beliau adakan di Seminari Mataloko tercinta: lagu, puisi, drama pendek dlm bahasa Inggris.

Turut berdukacita mendalam.

Bahagia di surga, Bapa Guru Thoby."

Kesaksian singkat itu mungkin lebih jujur daripada uraian panjang tentang metode mengajar. Seorang murid mengatakan bahwa pelajaran beliau selalu ditunggu. Bagi seorang guru, bukankah itu salah satu penghargaan tertinggi?

Bukan sekadar karena murid menyukai pelajarannya, melainkan karena mereka menantikan kehadirannya.

Perpisahan yang Berat

Masa-masa indah itu tidak berlangsung selamanya. Pada suatu waktu, kami harus menerima kenyataan bahwa Pak Thobias pindah ke Balikpapan.

Kami hanya mengetahui bahwa beliau mengajar Bahasa Inggris di sebuah perusahaan minyak. Barangkali dari sanalah perjalanan kariernya kemudian berlanjut, hingga ia akhirnya menjadi bagian dari dunia industri minyak yang lebih luas.

Bagi angkatan kami, kepindahan itu terasa berat. Kami kehilangan seorang guru yang bukan hanya membuat pelajaran menyenangkan, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan kami di seminari.

Dari Balikpapan Menembus Panggung Global

Waktu itu kami belum sepenuhnya memahami perjalanan hidup yang sedang ditempuhnya. Kami hanya tahu bahwa seorang guru yang kami sukai harus pergi, setelah mengabdi di panti pendidikan imam, Mataloko, selama empa tahun, 1977-1982.. Dan, seperti lazimnya anak-anak muda, kami merasakan kehilangan itu dengan cara kami sendiri.

Belakangan kami mendengar kabar bahwa guru  yang kami kagumi itu hijrah dari menuju Balikpapan, Kalimantan, di mana ia bergabung dengan perusahaan minyak dan gas multinasional, Total Indonesie Company.

Di tanah rantau itu, ia memulai kariernya di bidang pelatihan sebagai English Instructor. Meski beralih panggung dari ruang kelas seminari ke korporasi raksasa, esensi pengabdiannya tetap sama. Hanya saja, kelas yang diampunya kini mengajarkan Business English dan Technical English bagi para sarjana serta engineer muda lulusan universitas terkemuka seperti ITB, UGM, dan UI.

Sesudahnya, dari Balikpapan pula ia melanjutkan langkah perjalanannya hingga ke Prancis, terus meniti karier yang semakin cemerlang di perusahaan minyak tersebut. Hidup benar-benar membawanya jauh dari Mataloko, menapaki dunia profesional yang dahulu barangkali tak pernah terbayangkan oleh kami saat duduk mendengarkan pelajarannya.

Baca juga:

Baginya, dunia korporat global mengajarkan bahwa kompetensi, kontribusi, dan prestasi nyata adalah fondasi utama yang mendatangkan pengakuan serta kemajuan karier yang layak.

Pengalaman panjang dan kepakarannya di bidang SDM semakin kokoh setelah ia meraih gelar Master di bidang SDM dari Rutgers, The State University of New Jersey, USA.

Pendidikan, integritas diri dan etos kerja tersebut, kariernya terus melesat naik. Pada rentang tahun 1993–1995, ia dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Asisten Direktur SDM dan Manajemen Karier. 

Tak berhenti di situ, ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Corporate HRD & Recruitment Division Manager pada tahun 1995 hingga 2001. 

Puncak pengabdiannya di perusahaan asal Prancis itu akhirnya tercapai pada tahun 2002 ketika ia dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Head of Division Human Resources & General Affair.

Pak Thoby (kedua dari kiri) bersama rekan-rekan pimpinan PT Trilink Indonesia (Sumber: Trilink Indonesia)

 Kematangan akademis dan pengalaman lapangan ini mengantarkannya pada babak kemandirian dengan mendirikan PT Trilink Indonesia di Jakarta pada September 2006.

PT Trilink merupakan salah satu perusahaan penyedia tenaga kerja (manpower) terkemuka di Indonesia, yang menyediakan tenaga terampil bagi para pemain industri utama seperti Pertamina, Chevron, Total, Schlumberger, Saipem, dan McDermott, baik di tingkat lokal maupun internasional di negara-negara seperti Yaman, Nigeria, Aljazair, dan Ethiopia."

Dalam mengelola perusahaannya, suami dari Petronela Sio ini senantiasa mengutamakan tanggung jawab, kualitas yang prima, dan ketepatan waktu. "Kalau bisa lebih cepat daripada yang diharapkan," tegasnya. 

Menyadari bahwa bisnis SDM berurusan langsung dengan jiwa dan kehidupan manusia, ayah dari Maria Goreti, Rita Roswita Maya, dan Theresia Sonya ini memegang teguh filosofi bahwa bekerja dan berkarya pada prinsipnya merupakan interaksi antarmanusia. 

Prinsip ini menuntut kefasihan dalam mengelola hubungan antar pribadi (interpersonal relations skills), berkomunikasi dan berpresentasi (communications and presentation skills), hingga bernegosiasi (negotiation skills) serta memberikan konsultasi secara cerdas dan meyakinkan. 

Bagi Pak Thobias, memahami harapan klien akan tenaga kerja yang kompeten harus seimbang dengan mengelola pekerja menggunakan hati serta memperhatikan kesejahteraan mereka.

Melihat perjalanannya yang begitu megah di kancah korporasi internasional, ada satu hal yang kemudian kami sadari dengan penuh rasa bangga: keberhasilan dan kesuksesan gemilang di dunia luar tidak pernah mengubahnya menjadi sosok yang berjarak. 

Jiwa, kehangatan, dan kerendahan hati seorang guru dari Mataloko itu tetap tinggal dan mengakar kuat di dalam dirinya. Jadi, satu hal yang kemudian kami sadari: keberhasilan dalam karier tidak membuatnya berubah menjadi orang yang berjarak.

Pulang sebagai Senior yang Dicintai

Ketika akhirnya kembali berjumpa dengan beliau di Jakarta, kami seperti menemukan kembali sosok guru yang pernah kami kenal di Mataloko.

Pak Thobias hadir dengan senyum yang sama. Ia tetap menyenangkan, tetap mudah didekati, dan tetap bersedia mendengarkan. Kesuksesan profesionalnya tidak membuatnya merasa lebih tinggi daripada para junior atau mantan muridnya.

Di kalangan Alsemat, ia menjadi salah satu senior yang dirindukan kehadirannya. Bahkan, ia nyaris tak pernah absen menyapa dan menyampaikan Selamat Ulang Tahun kepada anggota WAG, para mantan siswanya di Mataloko. Begitu pula di lingkungan IAS, tempat ia dikenal sebagai pribadi yang inspiratif dan menyenangkan.

Ada sesuatu yang menarik dari orang-orang seperti Pak Thobias. Mereka tidak harus terus-menerus menceritakan keberhasilannya. 

Orang lain dapat mengetahuinya dari perjalanan hidup yang telah ditempuh. Namun, yang membuat mereka dicintai bukanlah pencapaian itu sendiri, melainkan cara mereka tetap memperlakukan orang lain setelah mencapai banyak hal.

Pak Thobias memberi contoh bahwa keberhasilan tidak harus melahirkan kesombongan, pengalaman tidak harus menciptakan jarak, dan kedewasaan tidak harus menghilangkan keramahan.

Ia bisa menjadi senior tanpa membuat orang lain merasa kecil. Ia bisa dihormati tanpa harus meminta penghormatan. Dan ia bisa menjadi bagian dari pergaulan yang luas tanpa kehilangan kesederhanaan.

Mungkin itulah sebabnya kehadirannya begitu berarti bagi banyak orang.

"Kakak Paling Baik"

Ketika saya menyampaikan kabar duka ini kepada istri saya, Sisilia, yang juga merupakan warga IAS, tanggapannya datang secara spontan:

"Iya... sedihh ee.

Belum sempat besuk beliau saat sakit. Kaka paling baik".

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Ada kesedihan karena kehilangan, ada penyesalan karena belum sempat menjenguk, dan ada ungkapan kasih yang mungkin mewakili perasaan banyak orang yang mengenalnya.

"Kakak paling baik."

Begitulah Pak Thobias dikenang. Bukan hanya sebagai guru Bahasa Inggris, bukan semata-mata sebagai orang yang berhasil dalam kariernya, tetapi sebagai seorang kakak yang membuat orang lain merasa nyaman berada di dekatnya.

Di antara begitu banyak hal yang dapat ditulis tentang seseorang yang telah berpulang, barangkali inilah yang paling penting: bagaimana ia tinggal dalam ingatan dan perasaan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Pak Thobias telah menempuh perjalanan hidup yang panjang. Putra Kurulimbu, Ndona itu, pernah belajar di Seminari mTaloko dan SMA Syradikara. Dari ruang kelas Seminari Mataloko, ke Balikpapan, kemudian ke dunia profesional yang lebih luas, hingga akhirnya kembali menjadi bagian dari kehidupan para alumni di Jakarta.

Tetapi, sejauh apa pun perjalanan itu membawanya, bagi kami ia tetap seorang guru.

Guru yang kelasnya kami tunggu. Guru yang memperkenalkan kami pada kegembiraan belajar bahasa asing. Guru yang mengajarkan, mungkin tanpa pernah bermaksud mengajarkannya secara khusus, bahwa seseorang dapat dihormati tanpa harus ditakuti, dan dicintai tanpa harus berusaha menjadi pusat perhatian.

Kini, kami tidak lagi dapat menjumpainya dalam pertemuan alumni, menyapanya dengan akrab, atau menikmati senyumnya seperti dahulu. Yang tersisa adalah kenangan, rasa kehilangan, dan teladan yang diam-diam terus bekerja dalam kehidupan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Selamat jalan, Pak Guru Thobias Djaji.

Beristirahatlah dalam damai dan bahagia di surga. Doakan kami, keluarga besar Alsemat dan IAS, serta anak-anak muda Flores yang terus berjuang mencari jalan hidupnya.

Semoga semakin banyak guru yang bukan hanya mengajar murid-muridnya menjadi pintar, tetapi juga menunjukkan melalui hidupnya bagaimana menjadi manusia yang baik.

Terima kasih, Pak Guru. Pelajaran yang Bapak tinggalkan ternyata jauh lebih panjang daripada masa sekolah kami.

Namamu akan tetap hidup dalam kenangan kami. RIP. ***