hidup
Minggu, 30 November 2025 22:36 WIB
Penulis:redaksi

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
Iman berhubungan dengan sikap dan komitmen hidup. Orang beriman sejati merendahkan diri di hadapan Allah serta berserah penuh kepada kehendak dan penyelenggaraan Allah.
Orang yang sungguh beriman merasa diri kecil dan tidak berarti di hadapan Allah. Hanya Allahlah segala-galanya bagi hidup seorang yang beriman sejati.
Perikop Injil Mat 8: 5-11 melukiskan tentang kepedulian seorang perwira Romawi terhadap keadaan kesehatan hambanya.
Hamba itu sangat menderita karena lumpuh. Ia sungguh menderita karena tidak bisa mengurus dirinya sendiri dan hanya bergantung pada orang lain.
Majikannya sungguh prihatin terhadap keadaan kesehatan hambanya. Ia datang kepada Yesus dan mohon dengan penuh harapan kesembuhan bagi hambanya.
Ketika Yesus ingin ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya, si perwira berkeberatan. Ia merasa tidak layak menerima Yesus di rumahnya.
Ia minta agar Yesus menyembuhkan hambanya dengan sepatah kata saja. Si perwira sungguh percaya kepada Yesus dan kuasa kata-kataNya.
Ia berkata,"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh", (Mat 8:8).
Yesus memuji iman si perwira kafir itu. Ia bukanlah orang Israel yang sedang menantikan kedatangan Mesias. Tetapi, ia sungguh percaya kepada Yesus sebagai Mesias.
Iman si perwira telah menyembuhkan hambanya yang menderita. lumpuh. Iman tidak hanya berguna untuk kebaikan diri, tetapi juga berguna bagi orang lain.
Sebagai pengikut Yesus kita percaya kepada Yesus. Kita berdoa untuk kenaikan diri, keluarga dan juga orang lain.
Tetapi, kita hendaknya bersikap seperti perwira Romawi. Kita hendaknya sungguh percaya dan berharap kepada Yesus. Kita mesti merendahkan diri di hadapan Yesus.
Hanya dengan iman sejati maka kita akan memproleh apa yamg kita harapkan. Iman dapat membuahkan keselamatan bagi diri dan sdsmaa.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.
Kewapante, 01 Desember 2025.***