wisatawan
Selasa, 10 Maret 2026 09:10 WIB
Penulis:redaksi
Editor:redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) -Pemandu Wisata Lokal Manggarai Barat (PWL-Mabar) mendorong pendekatan konservasi yang lebih komprehensif di kawasan Taman Nasional Komodo, tanpa harus membatasi jumlah kunjungan maksimal 1.000 orang per hari.
Pandangan tersebut muncul dalam dialog terbuka antara PWL-Mabar dan pihak Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) yang berlangsung di ruang konferensi Komodo Visitor Center, Kampung Ujung, Labuan Bajo, Minggu (9/3).
Dalam forum itu, BTNK memaparkan rencana kebijakan pembatasan kuota kunjungan wisatawan maksimal 1.000 orang per hari yang dijadwalkan mulai diberlakukan pada April 2026. Kebijakan tersebut sebelumnya akan diuji coba selama Januari hingga Maret 2026.
Menurut BTNK, pembatasan kuota dimaksudkan untuk menjaga daya dukung lingkungan (carrying capacity) serta memastikan keberlanjutan upaya konservasi di kawasan Taman Nasional Komodo.
Baca juga:
Dalam skema tersebut, wisatawan diwajibkan memesan tiket kunjungan melalui aplikasi SiOra.
Namun, rencana tersebut memantik beragam tanggapan dari anggota PWL-Mabar dalam sesi diskusi. Sejumlah pemandu wisata mempertanyakan dasar ilmiah dari penetapan angka 1.000 pengunjung per hari.
Mereka meminta penjelasan lebih rinci terkait metode kajian, lembaga yang melakukan penelitian, serta indikator yang digunakan dalam menentukan batas kunjungan tersebut.
"Kenapa harus angka seribu? Seperti apa kajiannya, siapa yang melakukan kajian dan metode apa yang digunakan?" tanya sejumlah anggota PWL-Mabar dalam forum tersebut.
Salah satu anggota PWL-Mabar, Patrisius Harsan, saat diwawancarai media ini usai kegiatan, menegaskan bahwa para pemandu wisata lokal pada prinsipnya mendukung penuh upaya konservasi di kawasan Taman Nasional Komodo. Namun, menurutnya, pembatasan kuota bukan satu-satunya cara untuk menjaga kelestarian kawasan.
Ia menilai masih terdapat sejumlah opsi kebijakan lain yang dapat ditempuh tanpa harus membatasi jumlah kunjungan wisatawan secara kaku.
"Jika benar kebijakan pembatasan pengunjung ini untuk tujuan konservasi, mengapa tidak mencari solusi lain yang tetap menjaga ekosistem tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal, "ujar Patrisius.
Beberapa alternatif yang ia kemukakan, antara lain penguatan manajemen kunjungan, pengaturan zonasi wisata yang lebih ketat, peningkatan kapasitas pemandu wisata dalam pengawasan perilaku pengunjung, serta pembatasan aktivitas yang berpotensi merusak habitat.
"Kami beri kesempatan kepada BTNK untuk mempelajari aspirasi yang kami sampaikan hari ini,
Patrisius menjelaskan, PWL menolak pemberlakuan pembatasan kunjungan wisatawan ke TNK dan mewarkan berbagai opsi yang merujuk pada pilar dasar pariwisata, diantaranya Konservasi Lingkungan, kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal, dan pengalaman wisata yang berkualitas.
PWL-Mabar juga menekankan pentingnya transparansi data dan keterlibatan para pelaku wisata lokal dalam proses penyusunan kebijakan konservasi di kawasan Taman Nasional Komodo.
Sementara Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga saat diwawancarai usai kegiatan berlangsung mengaku apresiasi sejumlah masukan dan saran dari PWL, ia menilai hal tersebut merupakan kontribusi positif.
"Akan kita kajikan semua masukan dari teman-teman PWL, hingga pada saatnya alternatif yang akan kita pilih itu yang akan kitai sosialisasikan" Jelas Hengky sapaan akrab Hendrikus Rani.
Ketika ditanya metode kajian terhadap rencana pembatasan kunjungan ke TNK, Hengky menjawab intinya dasar kajian.
"Ia intinya dasar kajian".jawabnya singkat.
Dialog tersebut menjadi ruang awal bagi kedua pihak untuk menyelaraskan tujuan konservasi dengan keberlanjutan sektor pariwisata yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat di Labuan Bajo dan wilayah Manggarai Barat. (Vian Dalang). ***