RIP Pater Kurt Bard Franz SVD, Semuanya Hanya Tinggal Kenangan

Rabu, 16 Maret 2022 16:57 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

pater kurd bard.jpg
Pater Kurt Bard Frans SVD (www.facebook.com)

KEDUKAAN kembali menimpa keluarga besar Serikat Sabda Allah (SVD). Sebab, setelah kepergian abadi Pater Alex Beding SVD pada 12 Maret lalu, kini Pater Kurt Bard SVD pun menyusul.

Pater Kurt, begitu almarhum biasa disapa, adalah seorang misionaris berkebangsaan Jerman yang melayani misi Flores, selama  lebih dari 56 tahun.

Kepergian abadi Pater Kurt memang membenarkan apa yang ditulis Humberto Verbita, alias Pater Huber Tenga SVD dalam akun facebook, Rabu, 16 Maret 2022, pukul 14.50 WIB. 

“SEMUANYA...HANYA TINGGAL KENANGAN....Telah meninggal dunia dalam damai di RSUD Bajawa, 16 Maret 2022, jam 13.35 witeng.”

‘Idola’ para siswa Seminari

Memang, mendengar kabar duka  mengenai kepergian Pater Kurt Bard SVD,  maka sosok imam Katolik yang kalem dan tegas itu kembali muncul dan ‘hidup’ secara nyata dalam ingatan.

Penulis sendiri  mengenal sosok almarhum ketika duduk di Kelas I SMP Seminari St Yohanes Berkmans, Todabelu, Mataloko,  pada pertengahan 1978. 

Waktu masuk ke asrama Seminari pada 09 Januari 1978, Pater Kurt memang sedang tidak ada di tempat. Di unit SMP yang ada hanyalah seorang frater TOP, Frater Vinsen Wun SVD.

Kata para kakak kelas, Pater Kurt, selaku Prefek,   sedang cuti di tanah kelahirannya, Jerman. Waktu itu kepulangannya ke Mataloko, Flores sedikit tertunda, karena ia menjalani perawatan. Ia baru berada kembali di Mataloko sekitar Mei 1978.

“Saya agak tertunda kembali ke Indonesia, karena menjalani perawatan medis. Ada sedikit cairan di otak yang mesti disedot,” begitu katanya ketika berbagi kisah tentang masa cutinya, kepada para siswa SMP Seminari waktu makan siang bersama. 

Sebagai remaja muda, semua siswa Seminari, terutama di unit SMP merasa sangat bergembira dengan kedatangan kembali Pater Kurt. 

Dari berbagai aspek  Pater Kurt memang jadi idola. Ia memiliki wajah yang ganteng. Posturnya  boleh dibilang ideal, tidak kurus, tapi juga tidak kegemukan, dan atletis. 

Pater Kurt adalah satu-satunya Pastor di Seminari waktu itu yang sangat peduli penampilan. 

Ia selalu tampil necis alias bersih, rapih dan modis. Kemeja dan celana panjang yang dikenakannya pun selalu serasi.  

Ia tak pernah mengenakan kemeja berlengan pendek. Namun, kemeja lengan panjangnya tak pernah dibiarkan terurai menutup pergelangan tangan. Ia selalu menggulungkannya secara rapih hingga ke lengan.

Begitu pedulinya Pater Kurt pada penampilan dan kerapihan, sampai-sampai ia selalu terlihat memakai ikat pinggang yang warnanya selaras dengan warna celana panjang yang dikenakannya.

Pribadi yang disegani 

Pater Kurt  memang jarang terlihat  tersenyum. Ia  terkesan agak serius dengan kebiasaan unik menempelkan dua jari (jari telunjuk dan jari tengah), ketika berbicara tentang hal yang serius, atau ketika sedang menegur siswa yang nakal dan kurang berdisiplin.

Sembari menempelkan dua jari ke pipinya, dia akan menegur siswa dengan berkata, “Adik, saya sudah ingatkan ….bla bla bla..”

Ia juga sangat peduli pada kebersihan. Pada setiap jam kerja  umum, Rabu dan Sabtu sore, ia akan berkeliling untuk memantau kegiatan bersih-bersih yang dilakukan para siswa.

Untuk memastikan kebersihan jendela misalnya, ia akan menempelkan jarinya ke jendela. Begitu didapatinya bahwa jarinya masih berdebu, ia akan menyuruh siswa yang bertugas untuk membersihkan sekali lagi.

Makanya, mesti mengagumi, para siswa sangat segan kepadanya.

Meski demikian, jika tak ada kesibukan khusus, ia akan ikut turun ke lapangan bermain sepak bola dengan para siswa Seminari saat jam olah raga sore hari. 

Biasanya, di lapangan itulah beberapa siswa yang pernah dapat teguran akan memanfaatkan kesempatan untuk ‘balas dendam’ dengan mentackle Pater Kurt. 

Tentu saja Pater Kurt tidak bisa merasakan hal itu sebagai pembalasan. Soalnya, ia tak sempat mengidentifikasi siapa yang bermain ‘kasar’.

Maklum, yang bermain di lapangan, bukan saja dua kesebelasan, tapi puluhan orang.  Para siswa Seminari terbiasa bermain sepak bola beramai-ramai, tanpa batasan jumlah.  

Sebab, bermain sepak bola adalah cara paling efektif untuk mengusir rasa dingin karena Seminat Mataloko berada di dataran tinggi Ngada, yang sebagian dari  tahun ditutupi kabut tebal.

Film Seri Winnetow dan Piala Dunia 1974

Kenanangan akan Pater Kurt tak terpisahkan dengan kebiasaannya memutarkan film seri Winnetow dan film rekaman final Piala Dunia 1974.

Winnetow adalah serial film (9 seri) yang sangat menakjubkan. Film itu mengambarkan kepahlawahan Winnetow, kepala Suku Apache Indian yang memperjuangkan hak ulayat  mereka dari perampasan oleh kaum kolonialis Barat. 

Film yang didasarkan pada mahakarya fiksi Karl May itu menjadi  kisah yang kaya inspirasi. Ada pesan mengenai  peran pemimpn adat, potret kedudukan dan peran kaum wanita, gambaran kesewenangan para penguasa dan ras kulit putih, dan pesan tentang perjuangan melawan ketakadilan sosial, di sana.  

Apalagi,  tokoh Old Shatterhand yang terkenal karena pukulan kepalan mautnya dan Sam, si pelucu, menjadi ‘orang asing’ yang berbelok haluan menjadi  pembela kepentingan suku asli Indian, Apache.

Selama 6,5 tahun penulis belajar di Seminari Mataloko, sepertinya lebih dari lima kali berapa kali Pater Kurt memutar serial film itu. Sebab, setiap ada angkatan baru,   Pater Kurt akan memutarkannya untuk mereka, dan siswa yang lain pun kembali ikut serta.

Yang tak kalah serunya adalah film rekaman Piala Dunia 1974. Bangga, karena negaranya Jerman Barat (waktu itu masih belum bersatu dengan Jerman Timur),  keluar sebagai Juara Dunia, Pater Kurt sering mempertontonkannya kepada para siswa Seminari.

Begitu sering, film rekaman Piala Dunia 1974 itu diputar, sampai-sampai semua anak seminari menghafal wajah dan nama seluruh pemain Jerman Barat waktu itu. Tentu saja, utamanya adalah sang bintang Frans Bekenbauer, dan kiper jagoan Sepp Maier.

Alat Permainan, Bola Hujan, dan Selimut

Bagi para siswa akhir tahun 1970-an dan 1980an, Pater Kurt lain adalah sosok yang membawa keberkahan.

Selain membawa banyak gulungan film beraneka sebagai media hiburan dan pembelajaran,  Pater Kurt juga memperkenalkan aneka jenis alat permainan bernilai edukatif  di antaranya alat permainan  ‘Kartu Tebakan’  dengan  gambar identik untuk melatih ingatan, dan permainan ‘Kapal Perang’  yang melatih  kemampuan menganalisa dan membuat perkiraan soal posisi kapal lawan.

Untuk menjaga kebugaran dan daya tahan siswa Seminari, Pater Kurt juga menyediakan ‘bola hujan’, yaitu bola karet yang khusus di mainkan ketika hujan deras. 

Dengan ‘bola hujan’ itu, para siswa tetap dapat  berolah raga sepak bola dengan penuh riang gembiara, walau sedang hujan deras.

Selain itu, Pater Kurt juga menyediakan  selimut tebal dan sweater yang didatangkan dari Jerman. 

Bagi para siswa Seminari Mataloko,  selimut dan sweater tebal yang disediakan Pater Kurt adalah berkah luar biasa, karena  sangat dibutuhkan untuk menangkis  suhu udara di Mataloko  sangat dingin. 

‘Bapaknya Orang Were'

Entah apa alasannya, Stasi Were (kini menjadi paroki independen) adalah stasi kesayangan Pater Kurt. Setiap ada waktu luang ia akan melakukan pelayanan di stasi ini. 

Banyak hal yang ia lakukan bersama dengan orang Were. Sampai-sampai, orang Were memandangnya sebagai ‘Bapak’ mereka sendiri.

Oleh karena itu, kepergian abadi Pater Kurt hari ini adalah momen paling kelam dalam kehidupan warga Were.

Begitu banyak ucapan belangsukawa dan doa di media sosial, datang dari mereka yang berasal dari Were.

Orang Mataloko dan sekitarnya meanggap Pater Kurt sebagai ‘Bapak' atau pun 'Opa’ mereka  juga. Sebab, selepas dari tugas dari Prefek Seminari, Pater Kurt mengabdikan dirinya untuk mengelola Rumah Tinggi atau Kemah Tabor, rumah retret milik Provinsi SVD Ende, tapi menjadi  kebanggaan warga Paroki Roh Kudus, Mataloko,  bahkan kebanggaan umat Katolik sekabupaten Ngada secara keseluruhan.

Memang begitu banyak orang  yang mengenal dan mencintai Pater Kurt karena mereka mengalami kebersamaan dan kebaikan hatinya. Oleh karena itu, ketika Pater Kurt menutup ziarahnya di bumi, banyak orang mengiringi dengan doa, penuh rasa kehilangan. 

“Selamat Jalan Orang Baik! Selamat Jalan Bapaknya orang Were. Jasa baikmu sungguh tak dapat kami balas, dan akan selalu kami kenang.. Surga tempatmu Ema Tua.” begitu tulis salah satu akun facebook.

Facebooker yang lain menulis, “Terimakasih untuk cinta dan kasih sayangmu yang luar biasa untuk kami umat Paroki Roh Kudus Mataloko, untuk Kemah tabor.  Sekarang Opa sudah tidak sakit lagi. Selamat jalan Opa Pater Kurt Bard SVD. Semoga berbahagia bersama para kudus di surga yang indah. Kami semua menyayangimu.”

Riwayat Hidup P. KURT BARD FRANS SVD

  • Lahir di Theley-Saar, 11 Pebruari 1934
  • Dari pasangan Ayah: Franz Bard dan Ibu: Anna Bard.
  • P. Kurt Bard hanya memiliki seorang adik, Arnold Bard yang berumur 6 tahun lebih muda.
  • Pendidikan Dasar di Theley-Saat, tamat tahun 1948.
  • Pendidikan Seminari Menengah Pertama dan Menengah Atas di St. Wendel, tamat tahun 1957
  • Pendidikan Filsafat di St. Gabriel – Wina – Austria: Tamat tahun 1963
  • P. Kurt Bard SVD ditahbiskan menjadi Imam SVD tahun 1963.
  • Setelah tahbisan imamat,Pater Kurt Bard SVD melanjutkan ke jenjang Pendidikan Teologi/Kateketik di Munchen – Jerman yang diselesaikannya pada tahun 1965.
  • Setelah selesai Pendidikan Teologi/Kateketik P. Kurt Bard bertolak ke Indonesia dan tiba
  • Pertama kali di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 1965.
  • Hampir seluruh waktunya di Indonesia dihabiskan oleh P. Kurt Bard SVD sebagai Pendidik di SMP Seminari Mataloko dan SMA Seminari Mataloko sampai dengan masa pensiunnya.
  • P. Kurt Bard SVD juga mengabdikan hidupnya melayani umat Paroki Mataloko, khususnya umat wilayah Paroki Were saat ini.
  • Kurang lebih 59 tahun, Pater Kurt Bard SVD mengabdi sebagai seorang Imam.
  • Kurang lebih 57 Tahun hidupnya sebagai Imam Misionaris SVD dihabiskannya di Indonesia.
  • P. Kurt Bard Franz SVD meninggal dalam uisa kurang lebih 88 tahun.
  • Terima Kasih banyak atas jasa-jasamu P. Kurt, khususnya pengabdianmu sebagai pendidik di Lembaga Pendidikan Dasar Seminari Mataloko.

“Beristirahatlah dalam Damai Tuhan. Jadilah pendoa bagi kami yang masih berziarah di muka bumi.”

Catatan: Data riwayat hidup Pater Kurt Bard,  dipublish dari Kantor Sekretariat Misi Provinsi SVD Ende – P. Hubertus Tenga, SVD.  (Maxi Ali).