labuan bajo
Minggu, 19 April 2026 16:17 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Upaya memperkuat aspek keamanan dan keselamatan wisata bahari di Labuan Bajo terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores menggelar kegiatan Safety Talk sebagai langkah strategis membangun sistem pariwisata yang aman dan berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Bintang Flores ini menjadi bagian dari program unggulan Kemenpar dalam peningkatan keamanan berwisata, khususnya pada sektor bahari yang menjadi andalan pariwisata nasional.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam sambutan daringnya menegaskan bahwa keamanan dan keselamatan merupakan fondasi utama dalam setiap aktivitas pariwisata.
Ia menyebutkan bahwa pemerintah telah menetapkan sejumlah regulasi penting, termasuk pedoman selam rekreasi serta standar usaha berbasis risiko di sektor pariwisata.
“Keamanan dan keselamatan wisata bahari adalah aspek fundamental yang tidak bisa ditawar,” tegasnya
Dari tingkat daerah, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Manggarai Barat, Agustinus Gias, menekankan pentingnya kepercayaan wisatawan yang sangat bergantung pada jaminan keselamatan. Ia mengingatkan bahwa sejumlah insiden kapal wisata di masa lalu harus menjadi momentum evaluasi bersama.
Baca juga:
“Pariwisata Labuan Bajo akan sempurna jika keselamatan menjadi pilar utama yang tidak bisa dikompromikan,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar, Itok Parikesit, menegaskan bahwa penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Ia mendorong pembentukan tim manajemen krisis, koordinasi yang efektif, serta evaluasi berkelanjutan agar standar keselamatan dapat diterapkan secara konsisten.
Dalam sesi diskusi, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenpar, Fadjar Hutomo, menyoroti pentingnya implementasi regulasi manajemen krisis pariwisata, termasuk pembentukan tim khusus yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Ia juga mengingatkan kewajiban sertifikasi kompetensi bagi pelaku usaha wisata berisiko.
Dari sisi transportasi laut, perwakilan Kementerian Perhubungan, Yusuf Sukma Bhaskara, menekankan pentingnya kelaiklautan kapal wisata, terutama kapal tradisional yang banyak beroperasi di Labuan Bajo. Ia menyebut sejumlah langkah strategis seperti random check, pengawasan kapasitas, hingga peningkatan kompetensi awak kapal.
Aspek ketenagakerjaan juga menjadi perhatian. Kepala Dinas Tenaga Kerja Manggarai Barat, Theresia Primadona Asmon, menegaskan bahwa penerapan K3 harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan pekerja sebagai subjek utama perlindungan.
Pada sesi kedua, Chief Executive Officer Divers Alert Network, Cliff Richardson, mengingatkan bahwa risiko dalam wisata bahari tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat diminimalkan melalui manajemen risiko yang tepat, SOP, dan kesiapan darurat..
Senada, Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, Noor Isrodin Muchlisin, mengungkapkan bahwa tren kecelakaan wisata di Indonesia masih meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia mendorong perubahan pendekatan dari reaktif menjadi preventif melalui kesiapsiagaan dan mitigasi risiko sejak awal.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), Marselinus Betong, menyoroti berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan respons medis di lokasi terpencil hingga belum optimalnya sistem koordinasi darurat.
Kegiatan Safety Talk ini menjadi pengingat bahwa masa depan pariwisata Labuan Bajo tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh seberapa serius semua pihak membangun sistem keselamatan yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan. (Tari). ***