pariwisata
Sabtu, 24 Januari 2026 11:30 WIB
Penulis:redaksi

JAKARTA (Floresku.com) - Masalah kesehatan masih menjadi tantangan serius bagi anak-anak Indonesia, terutama pada usia balita hingga prasekolah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, gigi berlubang atau karies menjadi keluhan paling banyak dialami anak usia 1–6 tahun.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyebut sekitar 31 persen balita di Indonesia mengalami karies. “Artinya satu dari tiga anak mengalami gigi berlubang. Ini masalah besar yang sering dianggap sepele,” ujar Endang dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (24/1).
Menurut Endang, gangguan kesehatan gigi berdampak langsung terhadap kualitas hidup anak. Rasa sakit akibat gigi berlubang dapat membuat anak sulit makan, mudah terkena infeksi, serta menurunkan kehadiran di sekolah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menghambat tumbuh kembang dan prestasi belajar.
Baca juga:
“Kalau anak sering sakit gigi, asupan gizinya terganggu dan konsentrasinya menurun. Ini bukan hanya soal gigi, tetapi soal masa depan anak,” tegasnya.
Untuk menekan angka karies, Kemenkes mengimbau orang tua membiasakan anak menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan di fasilitas kesehatan.
Selain kesehatan gigi, persoalan status gizi juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data Kemenkes menunjukkan lebih dari 140 ribu balita mengalami berat badan kurang. Endang mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam menyediakan makanan bergizi seimbang, terutama sumber protein hewani dan zat besi seperti telur, ikan, dan daging.
“Balita harus ditimbang setiap bulan agar pertumbuhannya bisa dipantau sejak dini. Kalau ada masalah, bisa langsung ditangani,” katanya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kebijakan kesehatan nasional kini difokuskan pada pencegahan dan promosi kesehatan. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2026 tidak hanya melakukan skrining, tetapi juga dilengkapi dengan tindak lanjut berupa pengobatan dan perawatan.
“CKG menjadi instrumen penting untuk memastikan masyarakat tidak hanya tahu kondisi kesehatannya, tetapi juga mendapatkan solusi nyata,” ujar Budi. Program ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian target pembangunan kesehatan nasional. (Sandra). ***