SERIAL II :Dari Luka Lama Menuju Harapan Baru       

Sabtu, 24 Oktober 2026 21:37 WIB

Penulis:Redaksi

luka baru.jpeg
Salah satu lokasi landasan pengeboran Sumur MT-3 sd MT-6 di PLTP Mataloko (Silvia)

   Pada  8–13 Oktober 2026 EnbeIndonesia.com, Floresku.com, dan Katolikku.com, berkolaborasi malakukan reportase ke wilayah eksplorasi geothermal di Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Berikut tulisan kedua dari tiga serial hasil peliputan tersebut.  

GEOTHERMAL MATALOKO: AIR, API DAN KEPERCAYAAN

Tidak semua warga Mataloko menolak geothermal. Di sejumlah desa, pembangunan jalan, kesempatan kerja, dan rencana geowisata mulai menumbuhkan harapan. Namun, dukungan masyarakat datang bersama tuntutan agar PLN menepati janji.

Tokoh muda Desa Wogo, Hans Bhaghi

MATALOKO, NGADA (Floresku.com) — Hans Baghi pernah berada di barisan orang-orang yang menolak geothermal Mataloko.

Tokoh muda Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, itu masih mengingat bagaimana semburan panas bumi pada masa lalu menimbulkan kekhawatiran terhadap lahan pertanian dan kehidupan masyarakat.

Ketika itu, ia mempertanyakan mengapa kegiatan eksplorasi harus menghadirkan risiko bagi tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

Namun, waktu perlahan mengubah cara pandangnya. Hans mulai melihat bahwa persoalan panas bumi tidak cukup diselesaikan dengan penolakan. 

Apalagi ketika pemerintah dan PLN mulai melakukan pembebasan lahan, memberikan kompensasi kepada warga terdampak, serta membangun sejumlah infrastruktur.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan lain: jika potensi panas bumi tetap ada di tanah Wogo, mungkinkah kawasan tersebut dikelola dengan aman sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat?

Dari pemikiran itulah lahir gagasan mengembangkan kawasan manifestasi panas bumi menjadi destinasi geowisata.

Bagi Hans, perubahan sikap tersebut bukan berarti melupakan pengalaman buruk masa lalu.

Ia justru ingin memastikan bahwa persoalan yang pernah membuat warga cemas tidak lagi hanya meninggalkan kerugian.

Potensi alam, menurut dia, seharusnya dapat dikelola secara bertanggung jawab untuk membuka peluang baru bagi masyarakat.

Penampakan konstruksi Geowisata yang dibangun PLN di wilayan panas bumi Mataloko (Foto: Hans)

Geowisata di Tanah Panas Bumi

Desa Wogo memiliki kekayaan alam dan budaya yang cukup beragam.

Di sana terdapat kampung adat, peninggalan megalitik, kawasan bambu, serta manifestasi panas bumi yang menjadi bagian dari bentang alam setempat.

Hans bersama sejumlah tokoh masyarakat mengusulkan agar seluruh potensi tersebut dihubungkan melalui pengembangan wisata desa.

Salah satu gagasannya adalah membangun jalur perjalanan dari kampung adat, melintasi kawasan bambu, hingga mencapai lokasi manifestasi panas bumi.

Usulan tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah dan PLN.

Kepala Teknik Panas Bumi Mataloko, Adrys Silaban, menjelaskan bahwa PLN mendukung penataan kawasan melalui pembangunan jalur pejalan kaki atau boardwalk.

Fasilitas itu dirancang agar pengunjung dapat menyaksikan fenomena panas bumi dari jalur yang lebih tertata.

Namun, kawasan manifestasi memiliki risiko yang tidak ditemukan di tempat wisata biasa.

Gas hidrogen sulfida atau H₂S, misalnya, dapat membahayakan keselamatan apabila konsentrasinya mencapai tingkat tertentu.

Karena itu, PLN menyatakan telah menyiapkan sistem pendeteksi gas untuk mendukung keselamatan pengunjung.

Bagi masyarakat Wogo, pengembangan geowisata membawa harapan akan munculnya kegiatan ekonomi baru.

Jika kawasan tersebut kelak dikelola dengan baik, warga berpeluang memperoleh pendapatan dari jasa pemandu, usaha makanan, penjualan kerajinan, hingga kegiatan wisata berbasis budaya.

Namun, fasilitas wisata yang dibangun belum otomatis menjamin datangnya pengunjung.

Keberhasilan program ini masih harus dibuktikan melalui kesiapan pengelola lokal, standar keselamatan, jumlah kunjungan, dan manfaat ekonomi yang benar-benar dinikmati warga.

Ketika Jalan Menjadi Manfaat Nyata

Bagi Hans, salah satu perubahan yang paling mudah dilihat justru bukan berada di kawasan manifestasi panas bumi.

Perubahan itu ada pada jalan desa.

Ia mengingat bagaimana petani dahulu harus melewati jalan licin dan sulit dilalui kendaraan ketika membawa kopi, kemiri, serta hasil perkebunan lainnya.

Pada musim hujan, perjalanan menuju kebun menjadi semakin berat.

Kini, menurut Hans, akses menuju sejumlah kawasan pertanian telah jauh lebih baik.

Ia menyebut dukungan peningkatan jalan menggunakan lapisan hotmix sepanjang sekitar 2,8 kilometer, termasuk akses menuju kawasan geowisata.

Kendaraan roda dua dan mobil menjadi lebih mudah menjangkau kawasan tersebut. Perubahan seperti ini mungkin terlihat sederhana dibandingkan investasi pembangunan pembangkit listrik.

Namun, bagi keluarga petani, jalan menentukan seberapa mudah hasil panen dapat dibawa keluar dari kebun.

Hans menilai bantuan infrastruktur itu memberikan manfaat yang sulit diwujudkan apabila hanya mengandalkan kemampuan keuangan desa.

Meski demikian, ia berharap perbaikan jalan bukan satu-satunya hasil pembangunan geothermal.

Masyarakat, katanya, harus memperoleh manfaat jangka panjang, termasuk kesempatan kerja dan peningkatan keterampilan.

PLN Ngada Salurkan Banatuan Dana  untuk Revitalisasi 10 Madhu Bhaga di Nua Wogo, Mataloko. *(Foto: Silvia)

Merawat Kampung Adat

Harapan itu juga terlihat dalam kegiatan pelestarian budaya di Wogo. Menurut Hans, dukungan PLN turut menyentuh kegiatan pemugaran sepuluh bangunan adat Madhu Bhaga.

Bangunan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.

Hans, yang terlibat dalam kegiatan pemugaran dan pengembangan kelompok sadar wisata, memandang pelestarian kampung adat sebagai bagian penting dari masa depan desa.

Geowisata, menurut dia, tidak seharusnya hanya menjual pemandangan uap panas bumi. Wisatawan juga perlu diperkenalkan dengan sejarah, tradisi, serta kehidupan masyarakat yang telah mendiami kawasan tersebut selama beberapa generasi.

Dengan demikian, pengembangan wisata dapat membuka peluang ekonomi tanpa memisahkan masyarakat dari warisan budayanya.

Namun, masyarakat adat harus tetap menjadi pelaku utama. Sebab, keberhasilan wisata berbasis budaya tidak cukup diukur dari banyaknya bangunan yang dipugar. Ia juga ditentukan oleh kemampuan warga menjaga identitas sekaligus memperoleh manfaat dari pengelolaannya.

Suara Dukungan dari Desa-Desa

Gambaran tentang geothermal Mataloko menjadi semakin beragam ketika tim reportase menemui sejumlah kepala desa dan tokoh masyarakat yang berada di wilayah Ring 1 proyek geothermal..

Di Desa Ulubelu, Kepala Desa Pius Florianus Watu menyatakan bahwa masyarakat di wilayahnya menerima keberadaan proyek.

Menurut Pius, kegiatan pertanian masih berlangsung dan lahan warga tetap produktif.

Ia juga menyebut sejumlah bantuan yang diterima masyarakat, mulai dari material seng, pemasangan meteran listrik, hingga program pengembangan ternak.

Sementara itu, Lurah Mataloko, Erhardus Stefanus Sola, menyampaikan bahwa PLN telah memberikan dukungan berupa jaringan pipa air bersih sepanjang sekitar 300 meter.

Di Desa Radabata, Kepala Desa Marianus Leke mengungkapkan adanya alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR sekitar Rp100 juta pada 2026.

Dukungan terhadap geothermal juga datang dari Kepala Desa Dadawea, Antonius Zua. Namun, Antonius menekankan bahwa komunikasi dengan masyarakat harus terus dibangun.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya disampaikan melalui sosialisasi. Aspirasi masyarakat perlu didengar, termasuk ketika muncul perbedaan pandangan.

Sikap yang relatif terbuka juga disampaikan Fabianus Dhato, anggota Dewan Stasi Dadawea sekaligus perwakilan Dewan Pastoral Paroki Keluarga Kudus Nazaret Were.

Fabianus melihat adanya peluang manfaat ekonomi dari pembangunan geothermal, terutama bagi warga yang membutuhkan kesempatan kerja dan peningkatan infrastruktur.

Namun, ia mengingatkan bahwa dukungan terhadap pembangunan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab perusahaan jika suatu saat muncul kerugian yang terbukti berkaitan dengan proyek geotermal.

Keterangan para narasumber tersebut memperlihatkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap geothermal tidak selalu bertentangan dengan tuntutan perlindungan lingkungan.

Sebagian warga mendukung karena melihat peluang ekonomi. Sebagian menerima dengan harapan adanya perbaikan infrastruktur.

Tetapi, mereka juga menghendaki kepastian bahwa keselamatan dan hak-hak masyarakat tetap terlindungi.

Menerima Proyek, Menagih Janji

Di Radabata, dukungan terhadap geothermal datang bersama sejumlah catatan. Kepala Desa Marianus Leke mengatakan masyarakat menerima pembangunan PLTP Mataloko.

Warga bahkan mengizinkan jalan desa digunakan untuk mobilisasi kendaraan dan peralatan proyek. Namun, aktivitas tersebut membawa persoalan tersendiri.

Marianus menyinggung kerusakan jalan, debu, serta kebutuhan air masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian.

Menurut dia, terdapat sejumlah kesepakatan perbaikan yang masih ditagih realisasinya. "Kami warga Desa Radabata menerima proyek geothermal ini. Kami tidak menolak. Kami dukung karena ini proyek strategis nasional untuk listrik Flores. Tapi kami minta hak kami diperhatikan," katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan batas yang cukup jelas antara menerima pembangunan dan membiarkan persoalan yang muncul tanpa penyelesaian. Dukungan warga bukanlah persetujuan tanpa syarat.

Marianus juga meminta agar pengelolaan dana sosial perusahaan dilakukan secara transparan. Bantuan yang diperuntukkan bagi masyarakat, menurut dia, harus memiliki mekanisme penyaluran dan pertanggungjawaban yang dapat diperiksa.

Program CSR memang dapat membantu kebutuhan desa. Namun, bantuan sosial tidak boleh menggantikan kewajiban pemulihan apabila ditemukan kerusakan yang benar-benar disebabkan kegiatan proyek.

Kedua hal itu memiliki tanggung jawab yang berbeda.

Suara Kontra Tidak Selalu Berarti Penolakan Massal

Camat Golewa, Moses Janga, mengakui bahwa perdebatan mengenai geothermal telah berlangsung sejak dirinya mulai bertugas pada 2021.

Namun, persoalan yang muncul di tengah masyarakat tidak seluruhnya berkaitan dengan penolakan terhadap energi panas bumi.

Camat Golewa, Moses Janga (tengah).

Moses menyebut adanya konflik kepemilikan tanah adat, pembagian kompensasi dalam keluarga, persoalan akses jalan, serta perekrutan tenaga kerja.

Sebagian konflik, menurut dia, berhubungan dengan struktur kepemilikan tanah adat dan persoalan internal keluarga, bukan soal geothermal.

Karena itu, ia mengingatkan agar setiap ketegangan sosial tidak serta-merta dianggap sebagai gerakan penolakan terhadap PLTP.

Pemerintah kecamatan, katanya, berupaya mempertemukan pihak-pihak yang berbeda pandangan melalui komunikasi langsung.

Moses pada prinsipnya mendukung pengembangan geothermal. Namun, ia tetap meminta PLN memberikan penjelasan terbuka mengenai potensi dampak lingkungan.

Ia juga tidak ingin proyek yang telah menyerap sumber daya dan mengubah kehidupan masyarakat akhirnya kembali berhenti tanpa hasil.

"Kami tidak ingin proyek ini mubazir. Jangan sampai masyarakat sudah merasakan dampaknya, tetapi kegiatan akhirnya tidak dilanjutkan," ujarnya.

Bagi pemerintah kecamatan, kelanjutan proyek harus disertai perlindungan lingkungan, kesempatan kerja bagi warga lokal, dan pemenuhan komitmen perusahaan.

Pernyataan Moses sekaligus menegaskan bahwa penerimaan dan penolakan bukan dua kelompok yang selalu terpisah secara mutlak.

Masyarakat dapat menerima pembangunan, tetapi tetap bersikap kritis terhadap pelaksanaannya.

Menunggu Listrik Benar-Benar Menyala

Harapan Hans Baghi bahkan melangkah lebih jauh. Ia mengusulkan pengembangan pendidikan kejuruan yang berkaitan dengan ekologi dan geothermal.

Menurutnya, anak-anak muda Wogo perlu memperoleh kesempatan mempelajari teknologi panas bumi agar tidak hanya menjadi penonton ketika sumber energi di tanah mereka dikembangkan.

Dengan keterampilan yang memadai, generasi muda setempat diharapkan dapat terlibat dalam kegiatan proyek maupun usaha lain yang tumbuh di sekitarnya.

Namun, di balik berbagai program infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat, Hans masih menyimpan satu pertanyaan besar.

Kapan geothermal Mataloko benar-benar menghasilkan listrik? Pertanyaan tersebut muncul karena masyarakat telah menyaksikan perjalanan panjang pengembangan panas bumi yang belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan.

Bagi Hans, pembangunan jalan, geowisata, maupun bantuan sosial merupakan manfaat yang patut dihargai. Tetapi, tujuan utama proyek tetap harus dibuktikan.

PLTP Mataloko tidak cukup hanya hadir sebagai proyek pembangunan yang terus diperbincangkan. Ia harus menunjukkan hasil nyata bagi masa depan energi Flores.

Di sejumlah desa, laporan tentang manfaat geothermal memang mulai terdengar.

Ada warga yang mendapat pekerjaan, petani yang menikmati akses jalan lebih baik, serta pemerintah desa yang melihat peluang kegiatan ekonomi baru.

Namun, keberhasilan pembangunan belum dapat dinilai hanya dari besarnya investasi atau banyaknya bantuan yang dibagikan.

Janji harus dipenuhi. Lingkungan harus dilindungi. Manfaat harus dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Dan mereka yang menyampaikan keberatan tetap harus diberi ruang.

Sebab, dukungan warga terhadap geothermal pada akhirnya bukanlah cek kosong. Ia merupakan kepercayaan yang masih harus dijaga. (Tim Redaksi, berdasarkan reportase Hans, Paul dan Silvia). ***