Surya Paloh-NasDem dan Layangan-Anis Baswedan

Kamis, 06 Oktober 2022 23:12 WIB

Penulis:redaksi

Editor:MAR

Kons-beo
Pater Kons Beo SVD (Dokumen Pribadi)

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Beruntunglah penguasa yang rakyatnya tidak mau berpikir” (Adolf Hitler, Pemimpin NAZI Jerman, 1889 – 1945)

Saat itu, darah dan air mata belumlah kering. Masih berhembus angin badai nasional dari Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu 2 Oktober 2022. Bawa kabar pilu ke Sabang sampai Merauke, bahkan hingga ke ujung-ujung dunia. Ratusan korban sia-sia berjatuhan. Satu demi satu putus nyawa. Tragedi yang sungguh menggetirkan. Kisah Arema-Malang yang telah dilumat Persebaya-Surabaya   pun berujung duka menyayat.

Di Jakarta, di NasDem Tower nan megah, di hari berikutnya, Senin, 3 Oktober 2022, Surya Paloh, atas nama Partai NasDem, maklumkan kandidatnya untuk RI 01 –  2024. Sontak, ramai suara sumbang tak terhindarkan. Menggilas Paloh dan NasDem sejadinya. Dalam sinis dan marah, tentunya. Sepertinya tak berbelah rasa dalam duka bersama. Tapi, sudahlah. Politik tampaknya tak risau akan situasi seram dan suram yang barusan terjadi. Ia tegar dan mati-matian ingin ciptakan dinamika dan iramanya sendiri.

Tampaknya, Paloh ingin bernyali, “Emangnya Gue pikirin…” Tetapi, masakan itu yang mesti dikemas sebagai opini dan interpretasi terhadap keluarga besar NasDem? Bukankah Paloh punya jiwa nasionalis? Tak mungkinlah ia sekejam dan senekad untuk berikhtiar seperti itu. Namun, tak sedikit pula yang meragukannya. Mau bagaimana lagi?

“Politic is king of all the kings.” Dari yang indah, glamour, berkelimpahan hingga yang paling miris sekalipun, semuanya bisa dipolitisasi. Itulah ‘seni serta piawainya gerak dari arus politik itu. Ia mesti dikaroseri sekian samar namun berujung pasti demi kepentingan.’ Cita rasa politik itu, katanya, variatif, tak pasti, dan ramai rasanya. Politik itu juga lincah untuk beradaptasi. Sulit ditebak ‘dari mana datangnya dan ke mana perginya.’ Sebab, ia bukan dogma yang terkesan kaku, pasti dan terpaku mati serta “wajib seperti itu sudah.”

Tetapi, anggap saja Paloh sebenarnya lagi layangan. Sendirian ia bermain-main di  NasDem Tower. Dan, si Baswedan itulah jadi layang-layangnya. Maka, rasa ditinggikan hingga menari-narilah sang layangan itu di langit nan biru. Iya, di langit NasDem.

Bagaimanapun langit tanah air tak sedang biru secerah mentari pagi. Nusantara masih disumpeki khaos sosial sana-sini. Apakah Paloh serius ingin jadi yang pertama terbangkan duluan layang-layang pengharapan di langit Nusantara yang penuh kabut soal sana-sini?

Paloh kini sekian asyik tarik ulur lambaikan layangan itu.

Tak mau pusing pedulikah Paloh pada si Banteng Merah yang terkesan masih tetap dalam dunia dan arus politik hening ala katakombe-nya?  Begitu malas tahuka Paloh akan keadaan si Mercy Biru serta suasana hati si Bapak dan Putra yang masih tergurita dalam  emosi tak menentu di Puri Cikeas sana?

Sedemikian entengnyakah Paloh berakrobat politik tanpa peduli pada perhitungan tertentu dan senyap dari Mardani Ali Sera dan PKS-nya? Dan lagi, tidakkah sebenarnya Paloh mesti ‘malu hati’ dengan Pak Jokowi? Sebab, kraeng Johnny G Plate itu kan masih saja ‘duduk manis’ di kursi 01 Kemeninfokom. Tapi sudahlah. Mari kita lanjut berandai….

Tapi, yakinlah! Paloh bukanlah pelaku politik abal-abal. Serius, coba-coba, sekedarnya, serta penuh perhitungan bisa ia racik sebagai dagangan oplosan politik menarik. Tetapi apa yang lagi bertumpuk di benak Paloh mesti ditebak, walau, itu tadi, terkesan sulit, beragam tanya dan penuh pengandaiannya?

Paloh dan NasDem-nya ingin terlihat sebagai protagonista. Katakan saja begitu. Disegani sebagai tokoh dan partai unggulan. Penentu utama masa depan bangsa dan tanah air.  NasDem mesti diangkat derajatnya sebagai centro commerciale politica Indonesia. Yang nantinya berimbas pada munculnya ‘kios-kios politik yang tersebar di mana-mana.’ Demi menarik minat warga masyarakat. Dan saatnya nanti dipanennyalah kekuatan mayoritas.  Memang ini bukanlah perkara gampangan dan murah. Tetapi, itulah tindakan taktis dan politis yang mesti diambil.

Tetapi, mari kembali ke ‘layangan Anis Baswedan.’ Ceriahkah ia kini karena telah dilayangkan sekian tinggi di langit biru NasDem? Jika nantinya ada yang merapat serius ke NasDem, ia sudah punya kans besar melaju dalam kontestasi Pilpres 2024. Walau kompetisi internal  koalisi pasti bakal tak terhindarkan.

Namun, katakan saja bahwa si layangan Baswedan pun lagi hati tak menentu. Ia boleh tampak bergerak bebas mengudara. Namun, tidakkah ujung tali layangan sudah digenggam Paloh dan Nasdem? Layangan kini terlihat bebas dan menari ceriah. Namun sebenarnya ia sudah dalam kendali. Di Senin, 3 Oktober 2022, bisa jadi Baswedan ‘dipaksa secara cantik untuk berkaul dalam NasDem.’ Ia tak boleh sesuka hatinya melawan konstitusi partai (visi, strategi).

Maka, selanjutnya nanti, nekad dan beranikah Anis Baswedan kembali mainkan politik identitas a la Pilgub 2017 DKI Jakarta, yang sungguh lukai demokrasi dan citra persatuan bangsa, yang jadi salah satu titik unggulan perjuangan Nasdem dan Paloh yang nasionalis? Jika demikian, mungkin Anis mesti segera dihentikan dengan modus layangan yang sudah putus talinya.

Lebih dari itu, tidakkah ‘kiprah’ Surya Paloh bermain layangan Anis Baswedan  sebagai Capres 2024 sebenarnya adalah tanda koalisi sejati dan loyalnya NasDem pada Pemerintahan Jokowi? Bisa sedemikian?

Mungkin bisa ditafsir sederhana saja.

Anis Baswedan, representan sekian banyak gerakan anti Jokowi, kini lagi dimuliakan. Sukacita karena Anis dimuliakan ini bukankah terlihat sebagai pengembosan semangat untuk tetap bersuara yang  tegas dan penuh keributan atas segala sumpeknya isu sosial yang merebak? Rencana demo (lagi) berjilid-jilid bisa saja jadi tawar oleh eforia bahwa Anis Baswedan sudah berpeluang ke Istana.

Namun, Anis Baswedan mungkin saja lagi was-was pula. Walau ia terlihat sedikit percaya diri dalam menata dan merangkai kata di hari itu. Walau selipkan juga kata-kata bermakna dalam bahasa Aceh  saat ia dimaklumkan sebagai kandidat presiden usungan NasDem. Anis bisa saja terlalu konsen pada ambisinya jadi 01 RI, sampai tak sadar lagi riak-riak politik yang sebenarnya.

Bayangkan saja andaikan Paloh dan NasDem, sekian bersemangat dalam tarikan tali layangan. Dan putuslah layangan itu. Maka layangan jadi tak menentu nasibnya. Ia bisa tersesat di hutan. Bisa pula lemas tak berdaya dan tak dibutuhkan lagi.

Gawatlah  juga bila ‘terlalu kencangnya angin ribut di masyarakat karena kiprah suram dan banyaknya tinta merah si layangan Anis Baswedan.’ Apalah gunanya tetap memegang ujung benang layangan Anis Baswedan? Tak lain tak bukan selain ‘diputuskan saja benang ikatan politik’ yang tak menguntungkan.

Teringat lagi masa kecil dulu, saat layangan putus melayang. Ramai-ramai dikejar untuk dimiliki dan dirawat dengan baik. Untuk dimainkan kembali. Jika benar tali layangan Anis Baswedan nantinya diputuskan, maka NasDem sudah lepas tangan dalam melindunginya dari kejaran siapa pun untuk “dimiliki.” Yang dicemaskan Anis Baswedan dengan semua peminat dan pendukungnya, jika ia benar-benar dikejar oleh para penegak hukum.

Anis kini sudah di tangan Paloh-NasDem. Ada keyakinan yang menebal, sekiranya Nasdem sebenarnya bertatik ingin lindunginya dari kejaran KPK. Ada saatnya nanti, Surya Paloh bakal bisa berdalih, “Kami telah berjuang mengusungnya. Tapi hukum harus dihormati.”

Di situlah seninya bermain layang-layang di alun-alun politik. Bagaimana pun, entah siapakah yang bakal memimpin negeri ini, pilar-pilar bangsa dan negara tak boleh sedikitpun tergerus. Itulah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Jangan memang beri peluang sedikit pun bagi yang ‘sukanya bikin onar dan kegaduhan sana-sini.’

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, Collegio San Pietro, Roma