Uskup Labuan Bajo Kuatkan Korban Gempa di RSUD Komodo

Minggu, 23 Agustus 2026 15:18 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

bayi utuk floresku.jpeg
Uskup Labuan Bajo, Mgr Maksimus Regus memberkati seorang bayi, korban gempa, di RSUD Komodo, Marombok, Minggu (23/8) (Vinsen Patno)

MEROMBOK (Floresku.com) – Di tengah suasana duka dan kecemasan pascagempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus hadir menyapa dan menguatkan para pasien korban bencana beserta keluarga mereka.

Kehadiran Uskup tersebut berlangsung dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXI bersama komunitas RSUD Komodo yang digelar di pelataran rumah sakit, Minggu, 23 Agustus 2026.

Perayaan Ekaristi menjadi momentum penghiburan dan penguatan bagi pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, serta jajaran manajemen RSUD Komodo yang masih berada dalam suasana penuh kecemasan akibat gempa.

Suasana Misa Kudus di RSUD Komodo, Marombok, Minggu (23/8) pagi. (Foto: Vinsen Patno)

Uskup: Tuhan Hadir di Tengah Bencana

Dalam perayaan tersebut, Mgr. Maksimus Regus didampingi sejumlah imam konselebran, yakni Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo RD. Rikardus Manggu, Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo Frans Nala, Vikep Labuan Bajo RD. Yuvens Rugi, Ekonom Keuskupan Labuan Bajo RD. Martin Wiliam, Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo RD. Carles R. Suwendi, Pastor Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok RD. Antonius Sanor, serta Komisi Caritas Keuskupan Labuan Bajo RD. Ignasius Haryanto.

Dalam homilinya yang berangkat dari Injil Matius 16:13-20 tentang pertanyaan Yesus, “Menurutmu, siapakah Aku?”, Mgr. Maksimus mengajak umat menemukan kehadiran Tuhan justru dalam pengalaman bencana dan kerapuhan hidup.

Menurutnya, bencana menyadarkan manusia bahwa kehidupan begitu rapuh. Namun, pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya kasih Tuhan melalui orang-orang yang hadir, membantu, merawat, dan menguatkan sesama.

“Di tengah bencana ini, Tuhan ada di antara kita. Kita mengenalnya dalam kasih yang saling kita bagikan, dalam semangat kesetiakawanan, dalam keterbukaan dan pemberian diri,” demikian inti pesan Uskup.

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus hadir menyapa dan menguatkan seorang pasien anak-anak, korban bencana gempa. (Foto: Vinsen Patno)

Gereja Adalah Komunitas yang Saling Menopang

Uskup Labuan Bajo kemudian mengajak umat memaknai “batu karang” bukan semata-mata sebagai bangunan gereja yang kokoh.

Di tengah bencana ketika banyak bangunan mengalami kerusakan dan sebagian masyarakat masih diliputi ketakutan untuk berada di dalam ruangan, gereja yang sesungguhnya, kata dia, adalah komunitas yang saling menopang.

“Gereja yang sesungguhnya adalah sebuah komunitas, sebuah kebersamaan yang saling menopang,” pesannya.

Pesan tersebut terasa nyata dalam kehidupan komunitas RSUD Komodo. Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat meskipun bekerja dalam situasi sulit pascagempa.

Bagi Mgr. Maksimus, pengabdian para tenaga kesehatan merupakan salah satu cara Tuhan menyatakan kehadiran-Nya di tengah penderitaan manusia.

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus hadir menyapa dan menguatkan seorang pasien lansia, korban bencana gempa. (Foto: Vinsen Patno)

Belas Kasih, Solidaritas dan Harapan

Uskup juga menyampaikan tiga kekuatan penting yang perlu dijaga masyarakat dalam menghadapi situasi bencana, yakni belas kasih, solidaritas, dan harapan.

Belas kasih, menurutnya, dapat diwujudkan melalui pelayanan di rumah sakit, posko-posko pengungsian, maupun berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat terdampak.

Solidaritas terlihat melalui kehadiran para relawan dan berbagai kelompok masyarakat yang terus bergerak membantu korban gempa.

Sementara itu, harapan menjadi kekuatan yang membuat manusia tetap mampu berjalan bersama dan saling menopang meskipun berada dalam ketakutan dan ketidakpastian.

“Bencana datang, tetapi mudah-mudahan iman dan kasih sayang kita tetap kuat untuk mengalirkan perhatian, dukungan, belas kasih, cinta dan kemurahan hati,” pesan Mgr. Maksimus.

Ia juga mendoakan para tenaga kesehatan RSUD Komodo serta seluruh pelayan kemanusiaan agar diberikan kekuatan dan penghiburan.

Melalui tangan, pelayanan, dan pengabdian mereka, Uskup berharap Tuhan terus hadir untuk merawat dan menyelamatkan kehidupan.

RSUD Komodo Diajak Menjadi “Batu Karang”

Pelaksana Tugas Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Uskup Labuan Bajo bersama para imam dan komunitas Gereja dalam perayaan tersebut.

Menurut Paulus, pesan Uskup mengenai panggilan untuk menjadi “batu karang” dapat menjadi kekuatan spiritual bagi seluruh tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan.

“Mudah-mudahan spirit dan semangat ini bisa menjiwai kita dalam memberikan pelayanan,” ujar Paulus.

Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti dalam perayaan Ekaristi, tetapi terus diwujudkan melalui pelayanan kepada pasien dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Kehadiran Gereja Menguatkan Korban

Perayaan Ekaristi tersebut turut dihadiri Dirjen Bimas Katolik Albertus Magnus Adiyanto Sumardjono, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Salvador Pinto, Kepala Kantor Kementerian Agama Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi, jajaran pimpinan dan tenaga kesehatan RSUD Komodo, pasien, serta keluarga pasien.

Bagi para pasien dan keluarga yang masih menghadapi luka, kecemasan, dan ketakutan akibat gempa, kehadiran Uskup, para imam, dan komunitas Gereja menjadi pengingat bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Di tengah situasi bencana, Gereja hadir bukan hanya melalui doa dan perayaan Ekaristi, tetapi juga melalui solidaritas, pelayanan, pendampingan, dan perhatian kepada mereka yang sedang mengalami penderitaan.

Kasih, solidaritas, dan harapan menjadi kekuatan bersama untuk melewati masa sulit dan menatap proses pemulihan Flores ke depan. (Vinsen Patno). ***