Kecelakaan Kapal
Minggu, 25 Oktober 2026 17:23 WIB
Penulis:Redaksi

Kons Beo, SVD
Santa Monika. Ia ibunda penuh kasih. Setia dan bertahan dalam kesabaran. Berpasrah dalam air mata. Berteguh tekun dalam doa.
Semuanya demi mendapatkan kembali Agustinus, puteranya.
Agustinus, di ujung kisahnya, berdoa dan ungkapkan pada Tuhan tentang Monika, ibunya,
"Ia seorang ibu yang telah menangis bertahun-tahun untukku, agar aku bisa hidup untukMu, ya Tuhan."
Begitupun kisah kesabaran Santa Rita dari Cascia. Jalan hidup penuh getir mesti ia lalui bersama suami dan kedua putranya. Derita fisik dan tekanan mental selalu tak terhindarkan.
Namun, Santa Rita punya kisah daya kasih kesabaran. Dia tak pernah larut dan hanyut dalam benci, pun dalam dendam.
Ada sekian banyak kisah seputar kesabaran hati. Kebertahanan diri dalam sosok-sosok teruji. Luar biasa memang.
Namun, kita pasti pada maklum...
Aura batin itu tak selamanya ada di jalan 'lurus.' Yang dianggap wajar normal pada diri seseorang tertentu.
Bahwa ia sekian sabar dan 'tahan banting' dari segala goncangan kata, sikap dan perlakuan dari sesama.
Yang dianggap 'tenang, sabar, selalu penuh senyum, seketika saja bisa saja goyah meledak-ledak.
Ia bisa marah dalam kata dan tindakan.
Iya, ia memberontak!
Namun, ada juga yang meredam marah, kecewa dan sakit hati. Dan ia berontak dengan 'memilih pergi.' Diam dan menghindar. Ia senyap dan tak berselera untuk terlibat lagi dalam kebersamaan...
Dan ada lagi?
Yang coba tampakan kesabaran. Ia bertahan dalam ketegaran hati berbalut senyum dan tawa.
Namun, siapa yang sangka itu hanyalah reaksi senyum simpul penuh drama. 'Senyum dan tawa sekadar saja, sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara.' Begitulah!
Baca juga:
Yang sebenarnya di kesendirian? Ia tengah berontak dalam air mata rasa tertekan. Lagi ungkapkan nyata lyrik itu, "Mungkin lebih baik begini, menyendiri di sudut kota ini. Kututup pintu hati untuk semua cinta, walau batin ini menangis..."
Maka, bayangkan lagi alam kehidupan bersama, atau lingkungan, di mana individu mesti teruji dalam atsmofere kaum toxic. Betapa ruang kesabaran diri mesti teruji atau sebaliknya berbalik dalam reaksi meledak-ledak.
Mari lanjut....
Kata orang pintar, kaum berilmu, "Ada momen-momen krusial dalam hidup ketika seseorang ingatkan serius pada siapapun bahwa ia tidak akan berkompromi dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang merumuskan dirinya sendiri."
Itulah keyakinan Albert Camus, filsuf dan penulis kelahiran Algeria (1913), dalam bukunya The Rebel (1951).
Yang hendak dikata adalah, "Hanya sebatas ini saja yang kuberikan dan tidak lebih." Setiap individu tegaskan kedaulatan dirinya dalam prinsip, nilai, keyakinan. Dan itu pasti!
Seseorang, secara pribadi, akan bertahan pada prinsip dan nilai yang diyakininya itu. Pemberontakan bakal terjadi ketika pihak luar (outsiders) hadir dan masuk serta berusaha mengacak-acak tatanan prinsip dan nilai yang diyakini itu
Di rana praktis, itu segera terbaca. Jujur, jelas dan tegas, misalnya, adalah prinsip dan nilai yang dipegang teguh! Tak ditolerir gelagat permisif. Gampang untuk disogok atau disuap.
Bakal dihardik untuk segala gelagat dan trik yang berbau neko-neko seperti 'punya orang dalam, punya penjamin, punya joki yang melancarkan urusan ini itu. Bebas dari segala kewajiban yang mesti dilalui.'
Ternyata....
Setiap orang bisa bereaksi tegas untuk tak disebut kasar. Itu karena 'ruang privatnya' diganggu atau diobok-obok. Sebab batas yang ditetapkannya telah diinvasi dan diokupasi oleh yang lain.
Bagaimanapun....
Reaksi atau sikap berontak ini, mesti ditangkap sebagai pelajaran bagi pihak luar. Setiap orang, dalam taraf normal, punya batas kesabaran. Lewati batas artinya segera tersulutlah reaksi keras atau pemberontakan!
Karena itulah...
Terdapat sekian banyak kata bijak, kearifan lokal, atau petuah saleh agar siapapun mesti berdisiplin dalam berpikir, dalam berkehendak dan terutama dalam beraksi-reaksi. Itu semua karena, sederhananya, sesama itu miliki keterbatasan dalam menerimanya. Untuk dipaksa mesti tetap bersabar!
Maka, yang sepantasnya diperhatikan adalah kata-kata, sikap dan perlakuan kita terhadap sesama. 'Secara berlebihan, tak tahu batas, asal bicara, asal menilai, hakimi, tendensi mempermainkan suka-suka, bersikap atau bertindak seenaknya, akan menjadi 'bom waktu yang pasti meledak sesewaktu' sebagai reaksi.
Dalam bahasa pergaulan sering terdengar, "Karena itulah jangan menyulut amarah, keributan, pemberontakan, reaksi keras, kerusuhan, pertikaian hanya karena satu maen gila bodo atau karena kita tidak tahu batas lagi.
Dalam cahaya pikiran Albert Camus, adalah bercitra sekiranya di antara sesama manusia, setiap orang tahu dan bijak dalam berkomunikasi
Dalam mendekati sesamanya.
Kesabaran itu ada batasnya. Dan ternyata, seseorang itu bisa saja meledak dalam reaksi. Dan bayangkanlah sekiranya reaksi meledak itu terjadi dalam rana berjamaah, sosial, masal?
Akhirnya....
Apakah di hari-hari ini, Sabang sampai Merauke lagi berdoa penuh harap?
"Bapa-Bapa dan Ibu-Ibu, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya di Istana dan di Senayan, segenap Pemimpin Negeri, kiranya janganlah kalian masukan kami ke dalam pencobaan. Tetapi bebaskan kami dari yang jahat, dari pemberontakan. Dari segala sesuatu di luar batas kesabaran..."
Amin
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro
R o m a