SISI KEHIDUPAN: Membangun Sikap Inklusif di Tengah-Tengah Perbedaan Agama

redaksi - Minggu, 21 November 2021 14:37
SISI KEHIDUPAN: Membangun Sikap Inklusif di Tengah-Tengah Perbedaan AgamaYohanes Don Bosco Lobo aktif bersama warga Muslim membangun Masjid. (sumber: Dokpri)

BERSAMA istri tercinta, Ludgardis dan kedua putra tercinta Claudius dan Diego kami mulai menjadi penghuni tetap di kawasan Perumahan Japan Asri HH RT.07 RW.13 Desa Japan Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto pada bulan Juli 2008. 

Sejak menikah tanggal 2 Mei 2004, kami selalu menempati rumah kontrakan. Maklum saat itu status saya hanyalah seorang guru honorer pada sekolah swasta di Kota Kediri, dan istriku juga karyawan pada salah satu rumah sakit swasta di Kota Onde-onde. 

Saya berasal dari kampung Deru, salah satu daerah terpencil di Flores demikian juga dengan istriku yang dilahirkan dari Palianaloka, kampung tetangga. Kami berdua berasal dari keluarga Katolik yang sangat taat.

Ketika lulus dalam seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2005,  kami bertekad untuk membeli rumah bahkan menjadi penghuni pertama pada salah satu kawasan perumahan di area Mojokerto. 

Keteguhan hati kami  untuk menjadi penghuni pertama dilatarbelakangi alasan sepele selama menghuni rumah kontrakan, yakni selama 4 tahun kontrak rumah kami dilarang untuk mengadakan ibadah keagamaan oleh pemilik rumah. 

Jadi, aktivitas keagamaan yang kami lakukan hanya setiap hari Sabtu atau Minggu misa di Gereja Paroki, Santo Yosef Mojokerto. Walaupun sebagai guru Agama Katolik, kegiatan peribadatan tidak pernah dirayakan di rumah. Selain itu di kawasan perkampungan tersebut diskriminasi antara penduduk asli dan pendatang, suku, dan agama sering terjadi. 

Nazar untuk menjadi penghuni pertama di perumahanpun terwujud. Konsekuensinya adalah, kami selalu menjadi rujukan dan tempat bertanya jika ada warga yang ingin mencari dan membeli rumah baru di kawasan tempat kami berdomisili. Demikian juga jika ada penduduk dari luar yang hendak mencari alamat saudaranya, terkadang menanyakan pada kami. Tidak sampai setahun kawasan Japan Asri blok HH terisi penuh dengan rumah.

Seiring perjalanan waktu, terbentuklah Rukun Tetangga (RT). Sebagai “penghuni tertua” kami menginisiasi pembentukan pengurus RT. Sejak tahun 2008 hingga bulan Mei 2020 sudah mengalami pergantian beberapa ketua RT. 

Pada awal Juni 2020 ada pemilihan ketua RT yang baru dan saya terpilih serta dipercayakan menjadi ketua RT. Di blok HH RT.07 jumlah Kepala Keluarga ada 78 KK dengan jumlah penduduk sekitar 234 jiwa. 

Kendati menjadi satu-satunya keluarga Katolik di kawasan tersebut, spirit yang kami usung adalah inklusif dalam pergaulan, terlibat aktif dalam kehidupan bersama, dan menjunjung tinggi budaya setempat. Kami bertekad untuk membangun sikap adaptif sebagai upaya membangun budaya tanding terhadap pengalaman negatife di masa lalu selama menjadi penghuni rumah kontrakan.

Sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) saya sering terlibat dalam berbagai kegiatan pemerintahan baik di tingkat Rukun Warga (RW) maupun desa, misalnya pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrengbangdes), sosisalisasi berbagai kebijakan daerah, dan lain-lain.

Demikian juga pada skala kecil seperti Rukun Warga (RW), bersama 8 ketua RT di lingkungan RW 13 kami sering berkumpul membicarakan berbagai persoalan kemasyarakatan seperti ; masalah sampah, implementasi kebijakan desa di setiap RT, pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pembangunan tempat Ibadah ( Masjid), dll.

Seperti peristiwa yang berlangsung pada hari Rabu tanggal 18 Agustus 2021 jam 19.00 WIB (ba'da Isyak). Bertempat di rumah bapak Mustofa, ketua RT 05 kami mengadakan musyawarah awal pembangunan masjid RW 013 Japan Asri-Pitaloka. 

Undangan dari ketua RW 13 pak Soeminto Prayitno itu dihadiri oleh para ketua RT  dan tokoh masyarakat. Selain agenda musyawarah awal juga dibentuk panitia pembangunan masjid dengan ketua Pak Mustofa mengingat bersama warga setempat beliau sudah memulai langkah awal baik ide maupun dukungan material sehingga struktur kepanitiaan tetap melibatkan sejumlah tokoh dari RT 05.

Agenda ketiga dalam rapat tersebut adalah pemberian rekomendasi dari para ketua RT dan tokoh masyarakat dalam satu RW (013) perihal pemanfaatan fasilitas umum di RT 5 untuk pembangunan Masjid. 

Kapasitas saya dalam rapat tersebut adalah sebagai ketua RT 07 juga satu-satunya yang beragama Katolik untuk menyerahkan sejumlah dukungan warga perihal keberadaan Fasilitas Umum (fasum) yang akan dibangun tempat ibadah (Masjid). 

Sedangkan dalam kepanitiaan pembangunan masjid, saya dipercayakan sebagai seksi hubungan kemasyarakatan (Humas) yang tugasnya membangun komunikasi dengan berbagai pihak perihal proses hingga selesainya pembangunan masjid yang dimaksud.

Kisah inspiratif yang terkadang menciutkan nyali adalah ketika saya diberi tugas untuk meminta tanda tangan warga sebagai bentuk dukungan untuk membangun Masjid di Fasum RW adalah pertanyaan-pertanyaan kritis dari teman-teman Muslim sendiri. 

Misalnya; “Pak John, panjenengan itu bukan Muslim mengapa meminta tanda tangan perihal penggunaan Fasum kepada umat Muslim. Bahkan terlibat langsung dalam panitia pembangunan Masjid?. Kedua, Mengapa hanya Masjid yang dibangun pada fasilitas umum ?”. 

Berhadapan dengan tantangan tersebut, sikap yang saya tampilkan adalah senyum selanjutkan menyampaikan permohonan maaf sembari memberikan penjelasan perihal kapasitas saya sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) dan komitmen moral inklusif yang dijadikan spirirt untuk hidup bersama ditengah-tengah masyarakat.

Dalam persepsi saya, ini merupakan tahap paling sulit yang saya lewati. Selanjutnya pada proses penyampaian proposal dan permohonan donasi warga untuk pembangunan Masjid menjadi sangat mudah. 

Ketika hendak melangkahkan kaki keluar rumah untuk menjumpai warga dalam urusan pembangunan Masjid saya selalu membuat tanda Salib sembari berdoa singkat agar apa yang disampaikan mendapatkan respon positif dari warga yang selanjutnya diakhiri dengan pemberian tanda salib kecil oleh istri pada telapak tangan dan kening saya.

Atmosfer yang unik juga saya rasakan ketika berada di salah satu angkringan cafe kuno - kini milik Mas Akbar yang terletak di jalan Adipati Japan RW 13 Japan Asri pada Rabu malam (25/08/2021) sekitar jam 19.00 WIB. Kala itu sekitar 11 orang yang meruapakan perwakilan dari setiap RT, tokoh agama, dan tokoh masyrakat kami berkumpul memenuhi undangan dari penasihat pembangunan Masjid  guna melakukan undian pemberian bakal nama Masjid baru yang akan dibangun.

Soeminto Prayitno selaku penasihat menyampaikan bahwa " skema undian dimulai dari setiap anggota membawa dua nama/bakal nama Masjid yang akan dibangun (dua nama yang berbeda). 

Mengingat jumlah RW yang ada di lingkungan Japan Asri ada 8 maka total yang terkumpul ada 16 nama yang berbeda". Tehnik pengundian dengan sistim kopyok (seperti arisan), yang muncul atau keluar dari kopyok'an, maka itulah yang akan menjadi bakal nama masjid yang akan dibangun.

Sebagai panitia pembangunan seksi Humas sekaligus pemeluk agama Katolik sayapun meminta petunjuk dari penasihat dalam penulisan nama bakal Masjid yang dimaksud. Setelah menulis, memasukkan dalam wadah yang tersedia akhirnya dikocok-kocok dan yang keluar pertama adalah pilihan nama Al-Iqlas. 

Sembari membungkus senyum dalam masker yang berwarna putih dalam hatiku kecilku berkata “ Al-Iqlas itu adalah tulisan atau pilihan saya”. Nama Al-Iqlas akhirnya dianulir setelah mendapatkan beberapa pertimbangan dari tokoh agama mengingat beberapa Musholla  atau langgar disekitar perumahan ada diberi nama Al-Iqlas. Saya dan hadirin lainnya pun mengikhlaskan dan memberikan kesempatan untuk mengundi nama berikutnya. Ternyata yang keluar adalah nama SIROJUL MUTTAQIN.

Nama memiliki kedalaman makna. Ungkapan ini mungkin kontras dengan pendapat pujangga kenamaan asal Inggris William Shakespear, What's in a name, A rose by any other name is still sweet. (Apalah arti sebuah nama. Sekuntum mawar dalam nama lain tetaplah harum). 

Nama tidak sekedar diberikan atau dilekatkan begitu saja pada sesuatu.Begitupun dengan nama bakal Masjid yang muncul atau keluar setelah di undi. Sirojul Muttaqin terdiri dari dua kata yakni Sirojul yang berarti jembatan atau jalan dan Muttaqin artinya orang yang bertakwa.

Taqwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sehingga mencapai kesalehan hidup (KBBI, 2000 :1126). Demikian harapan yang tersirat bahwa Masjid yang dibangun tepat di RT 05 RW 13 Japan Asri tersebut adalah sarana ideal yang membawa jemaah untuk menggapai kesalehan hidup.

Proses pelaksanaan pembangunan Masjid diserahkan sepenuhnya kepada warga RT.05 mengingat keberadaanya terletak di area tersebut sekaligus mengobati kerinduan warga setempat akan kehadiran temapat ibadah. 

Mengingat setiap RT di RW 13 semuanya telah memiliki Musholla atau Langgar. Di bawah arahan ketua RT setempat warga saling bahu membahu untuk dan bekerja sama membangunya. Sedangkan untuk konsumsi didukung oleh kelompok dasa wisma dari keseluruhan RT yang ada, termasuk istriku sebagai ketua Dasa Wisma RT.07.

Panitia pembanguan menggagas agenda untuk kerja bakti warga dalam satu RW untuk membangun seperti pengecoran sepatu fondasi Masjid yang berlangsung pada hari Minggu, 19 September 2021, dua bulan yang lalu. 

Pengumuman perihal kerja bakti tersebut disampaikan oleh ketua panitia Pak Mustofa tiga hari sebelumnya. Agar bisa hadir dalam aksi gotong royong tersebut saya mengagendakan mengikuti Misa pada hari Sabtu, 18 September 2021, sore hari jam 18.00 WIB,  dari Gereja Santo Yosef Mojokerto. ***

Oleh: Yohanes Don Bosco Lobo

Catatan: Penulis lahir pada tanggal 9 Juli 1972 di kampung yang dijuluki negeri sejuta jurang tepatnya Kampung Woeloma, Deru Desa Nenowea Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada Flores NTT. Menyelesaikan pendidikan S-1 pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan bidang Kateketik Widya Yuwana Madiun Jawa Timur. 

Saat ini bekerja sebagai Guru Pendidikan Agama Katolik di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto. Tahun 2004 menikah dengan Ludgardis Keo dan mendapatkan anugerah Tuhan dua orang putra yaitu Claudius M.C. Wogo dan Diego de San Vitores Lina. Selain sebagai guru, penulis juga adalah  editor buku kumpulan esai "Bahasa Indonesia dalam Revolusi Industri 4.0" terbitan Temalitera Mojokerto dan menjadi penulis buku karya bersama dengan judul “ Guru Limited Edition” penerbit Pustaka Literasi tahun 2021.

Aktif dalam karya kemasyarakatan yakni sebagai penggagas Gerakan Katakan dengan Buku (GKdB), Anggota Pustaka Bergerak Indonesia, Pendiri Sa'o Pustaka dan beberapa Taman Baca serta pegiat literasi nasional. Lewat GKdB penulis menggerakan masyarakat baik secara pribadi maupun komunitas dalam mendonasikan buku untuk anak-anak di seluruh Indonesia. Guru Motivator Literasi (GML) tahun 2021. Penulis bisa dihubungi via email ; [email protected], FB: john lobo, IG : John Lobo, dan WA ; 082157531016.

RELATED NEWS